Saturday, January 11, 2014

Keluarga Prajurit Kristus

Rasul Paulus mengatakan bahwa setiap pengikut Yesus adalah seperti seorang prajurit (2 Timotius 2:4), Kekristenan itu bukan seperti taman bermain, namun seperti ‘medan pertempuran’. Artinya adalah saat  kita mengambil keputusan untuk menjadi pengikut Kristus, maka kita akan dibawa masuk ke dalam suatu medan pertempuran. Dan seorang prajurit tidak mungkin akan bermain-main ketika sedang berada dalam sebuah pertempuran. Dia harus berjaga-jaga, harus waspada, harus serius dalam menjalankan setiap perintah komandannya. Demikianlah bagi kita yang mengaku Kristen, dalam hidup sebagai suami-istri, membina sebuah keluarga atau rumah tangga bukanlah untuk bermain-main, atau untuk ajang uji coba. Sebelum diberkati, calon mempelai saling berjanji di hadapan Tuhan, hamba Tuhan dan jemaat yang hadir, dan atas dasar janji (covenant) tersebut keduanya dipersatukan menjadi suami-istri. Nah, pasangan suami-istri harus memahami bahwa keluarga/rumah tangga yang mereka jalani ini adalah seperti ‘pertempuran’ harus dihadapi dan dimenangkan sebagai prajurit-prajurit Kristus.

Ibarat prajurit yang ada di medan pertempuran, tentunya akan berhadapan dengan pertempuran-pertempuran yang muncul, demikian dalam rumah tangga juga akan muncul konflik atau pertentangan yang terjadi, dan jika tidak diselesaikan atau dimenangkan, dapat berlanjut pada kejahatan/dosa yang lebih berat bahkan berujung pada kematian dan kehancuran. Contohnya adalah kehidupan keluarga raja Daud. Dalam 1 Samuel 13:14 disebutkan bahwa raja Daud adalah seseorang yang berkenan di hati Tuhan. Tetapi Daud juga telah memperlihatkan perilaku yang tidak menjadi teladan karena memiliki istri lebih dari satu, bahkan ada wanita yang dijadikannya istri setelah membunuh suaminya.

Adanya kesalahan-kesalahan yang dibuat Daud dalam membina rumah tangga mengakibatkan berbagai konflik terjadi dalam kehidupan keluarganya, seperti Amnon yang memperkosa Tamar (saudari tirinya, adik kandung Absalom) dan karena tidak mau bertanggung jawab maka Amnon pun dibunuh oleh orang-orang suruhan Absalom. Kemudian Absalom memberontak pada Daud, ayahnya, karena ingin menjadi raja, dan masih banyak konflik-konflik lainnya termasuk perseteruan diantara saudara-saudara seayah tersebut.

Hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya konflik dalam keluarga atau kehidupan kita?

1. SEKS

Konflik keluarga bisa terjadi karena adanya sexual deviation. Penyelewengan oleh salah satu pasangan akan menimbulkan sakit hati yang sangat dan kesedihan yang mendalam pada pasangan lainnya. Kita tidak bisa menganggap sakit hati ini sebagai sakit yang biasa-biasa saja, sebab pengkhianatan yang terjadi dalam hubungan suami-istri adalah dosa dihadapan Tuhan. Allah adalah Pribadi yang menciptakan seks, dan Ia menciptakan seks demi kesenangan sekaligus juga untuk menghasilkan keturunan. Namun Alkitab tegas-tegas menyatakan bahwa hubungan seks hanya bisa dinikmati oleh pria dan wanita yang telah menyatukan diri mereka dalam ikatan (covenant) pernikahan yang seumur-hidup. Hubungan seks tanpa ikatan pernikahan digolongkan sebagai perzinahan (adultery).

1 Korintus 6:9-11 menyatakan bahwa mereka yang cabul, berzinah, dan melakukan penyimpangan seks lainnya tidak akan mewarisi Kerajaan Allah alias tidak akan masuk sorga. Sayangnya banyak orang (bahkan yang sudah berkeluarga) mengejar fungsi seks sebagai kesenangan atau kenikmatan, bukannya menempatkan seks sebagai suatu hubungan yang khusus sesuai rancangan Tuhan.

Pada hakikatnya, seks adalah karunia pemberian Allah, dan seks adalah hal yang suci dan bukan dosa selama dilakukan dalam batas-batas pernikahan sesuai rancangan Tuhan. Istri yang bijak selalu memperhatikan hal terbaik yang bisa dilakukannya untuk “menyenangkan” suaminya sepanjang pernikahannya. Suami yang bijak menunjukkan perhatiannya kepada istrinya setiap waktu dengan memberi pelukan dan perhatian penuh, bukannya hanya mengharapkan istrinya untuk "siap setiap saat". Sebaiknya suami-istri harus terbuka dan saling mendiskusikan kebutuhan seks mereka dengan jujur dan belajar sebanyak mungkin untuk mengenal, menerima serta memahami perbedaan masing-masing, sehingga hubungan seks antara suami-istri dapat menjadi berkat yang istimewa dalam rumah tangga.

2. PERASAAN DENDAM

Dendam adalah sumber konflik yang sangat berbahaya. Dendam muncul akibat sakit hati yang tidak terselesaikan, atau didefinisikan sebagai: keinginan keras untuk membalas (kejahatan dan hal tidak enak lainnya) yang kita alami.

Absalom menunggu waktu yang tepat 2 tahun lamanya untuk membalaskan sakit hati karena adiknya diperkosa oleh saudara tirinya. Sehingga undangan yang ditujukan Absalom kepada Amnon adalah undangan untuk kematiannya. Saudara, hidup dalam dendam akan mengacaukan semua rencana indah yang Tuhan siapkan dalam rumah tangga kita. Ketika dendam disimpan untuk tiba pada waktu ditampilkan, maka hal itu akan menimbulkan masalah yang besar. Bukankah Firman Tuhan sudah menjelaskan pada kita bahwa sebesar apapun keinginan kita untuk membalas, namun hal membalas dendam haruslah ditinggalkan di tangan Tuhan, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan (Roma 12:19b). Janganlah engkau berkata: "Aku akan membalas kejahatan," nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau." (Amsal 20:22).

Kita harus melawan keinginan hati kita untuk membalas dendam seberapa pun besarnya keinginan itu dengan kasih yang telah dianugrahkan Tuhan pada kita. Sebab ada tertulis,"Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." (Matius 5:38-39). Jadi janganlah kita menyimpan dendam yang pernah diakibatkan oleh pengkhianatan pasangan kita atau anak-anak kita atau keluarga lainnya atau siapapun juga…karena dendam yang tidak segera diselesaikan pasti akan menyebabkan kita melakukan kejahatan atau dosa lain yang lebih besar lagi. Lagipula bagaimana mungkin seorang pendendam bisa memenangkan ‘pertempuran rohaninya’ dan mendapatkan bagian dalam kerajaan sorga?

3. PIKIRAN JAHAT

Sumber konflik berikutnya adalah pikiran atau rencana jahat. Rencana jahat adalah sebuah rekayasa/persengkongkolan untuk melakukan kejahatan atau perbuatan yang merugikan pihak lain. Hal ini bagaikan sebuah kejahatan yang telah dipersiapkan dan terencana. Dalam KUHP, dikenal 2 macam pembunuhan yaitu sengaja dan tidak sengaja, pembunuhan sengaja adalah pembunuhan yang direncanakan sama seperti saat Absalom mau membunuh Amnon, atau saat Daud membunuh Uria demi mengambil Batsyeba sebagai istrinya. Dan ini adalah perbuatan yang sangat keji di mata Tuhan, demikian pula pikiran jahat.

Kenapa Tuhan memandang keji hal ini? Karena rencana jahat hanya bisa muncul dari hati yang jahat, sehingga orang yang merancangkan hal ini sudah pasti tidak dalam keadaan kudus apalagi dipenuhi Roh Kudus. Hati yang kotor memang tidak bisa diketahui langsung oleh orang-orang sekelilingnya, secara lahiriah hidupnya kelihatan baik-baik saja tetapi hatinya sudah penuh dengan rencana jahat. Pada hakikatnya orang ini sudah memalsukan kehidupannya

Di jaman sekarang ini, banyak rumah tangga atau pernikahan yang juga dipalsukan. Suami-istri kelihatannya baik-baik saja, padahal masing-masing sudah punya WIL atau PIL, bahkan ada yang tetap pura-pura hidup serumah padahal sudah pisah ranjang atau secara de facto sudah tamat hubungan pernikahannya beberapa lama sebelumnya. Mereka bersandiwara menjaga status suami-istri (de jure) agar tidak kelihatan bercerai. Atau yang lebih dahsyat lagi, ada istri yang tidak tahu jika suaminya punya “simpanan lain” sampai kemudian muncul di hari kematian sang suami, betapa rapihnya persengkongkolan yang telah direncanakan oleh sang suami.

Jika ada diantara kita yang pernah mengalami atau melakukan hal-hal diatas, maka inilah yang harus kita lakukan:

a. Mengakui bahwa kita bersalah dan minta pengampunan-Nya adalah hal pertama yang harus dilakukan, raja Daud saat ditegor karena kesalahannya dalam perkara Batsyeba, langsung merendahkan hatinya dan mengakui kesalahannya, sehingga Tuhan mengampuni dan memulihkannya. 1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

b. Bertobat adalah hal selanjutnya yang dilakukan raja Daud, sepanjang sisa hidupnya, dia tidak pernah lagi melakukan hal tersebut. Bertobat artinya sadar, menyesal akan dosa dan tidak mengulangi lagi atau berbalik dari jalan yang jahat.
Saudara, sebagai prajurit Kristus kita telah diingatkan agar hidup kita senantiasa dipimpin oleh Roh bukan oleh daging (Roma 8). Suami-istri jika mau menang dalam ‘medan pertempuran’ ini juga harus melatih, memaksa, mendisiplinkan hidupnya untuk dipimpin oleh Roh Kudus dan senantiasa membangun unity dalam kehidupan keluarga mereka, serta kenakanlah selalu seluruh perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:13-18) agar kita dapat melawan seluruh tipu muslihat iblis yang ingin mengganggu rumah tangga/keluarga kita. Bersama Tuhan Yesus kita pasti menang bahkan lebih dari pemenang (Roma 8:37).

Amin.

Saturday, December 7, 2013

Kuasa Allah dalam Keluarga Kristen

"Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati
keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada
di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.
Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN,
diberkati untuk selama-lamanya."
(1 Tawarikh 17:27)

Keluarga merupakan lembaga yang fenomenal dan universal. Di dalamnya terdapat anak-anak yang dipersiapkan untuk bertumbuh. Keluarga adalah lembaga masyarakat paling kecil tetapi paling penting. Bahkan keluarga pertama di dunia ini dibentuk sendiri oleh Allah, yaitu keluarga Adam (Kejadian 1:27-29). Adam sebagai suami Hawa sekaligus ayah dari Kain dan Habel, Hawa sebagai istri Adam sekaligus sebagai ibu Kain dan Habel, Kain dan Habel sebagai anak-anak dari Adam dan Hawa. Inilah keluarga pertama yang dibentuk oleh Allah.

Sayangnya di jaman akhir ini, pengertian tentang keluarga yang sesungguhnya seringkali menjadi bias, karena adanya pengertian keluarga yang tidak sesuai dengan rancangan Tuhan, misalnya keluarga yang dibentuk pasangan sejenis (bukan ayah dan ibu), atau sekumpulan orang yang berkelompok lalu menyebut kelompoknya sebagai ‘keluarga’ tapi untuk maksud-maksud yang tidak baik (keluarga mafia), dan sebagainya.

Keluarga Kristen


Menurut kamus bahasa Indonesia yang dimaksud keluarga adalah ayah/bapak dan ibu beserta anak-anaknya; seisi rumah, inilah yang disebut sebagai keluarga inti.

Selain keluarga kecil atau keluarga inti, ada juga yang disebut keluarga besar, yaitu keluarga yang tidak hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak tapi mencakup kakek, nenek, paman, bibi, ipar, keponakan dan lain-lain; keluarga yang didasarkan pada hubungan kekerabatan dari pihak ayah maupun pihak ibu.

Lalu apa yang dimaksud dengan keluarga Kristen?

Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu, dan anak-anaknya yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta meneladani Kristus dalam kehidupannya sehari-hari. Pengertian ini sesuai dengan arti kata Kristen itu sendiri, yaitu pengikut Kristus, yang meneladani kehidupan dan ajaran-ajaran Kristus.

Pentingnya Keluarga


Berikut ini beberapa gambaran mengenai pentingnya keluarga:
  1. Keluarga sebagai tempat kita bertumbuh. Manusia sebagai mahluk hidup diciptakan dengan potensi untuk bertumbuh. Ibarat tanaman yang ditanam di sebuah pot, demikian pula kita dalam keluarga. Tuhan menempatkan kita dalam wadah keluarga, sebagai tempat yang memberi energi, perhatian, komitmen, kasih dan lingkungan yang kondusif untuk anggotanya bertumbuh dalam kehidupan ini, khususnya dalam pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus.
  2. Keluarga sebagai pusat pengembangan. Dalam keluarga setiap anggotanya bisa bebas mengembangkan karunianya masing-masing. Di dalam keluarga, landasan kehidupan anak-anak dibangun dan dikembangkan.
  3. Keluarga sebagai tempat yang aman. Barangkali orang lain sering tidak memahami kesulitan hidup yang kita rasakan tetapi di dalam keluarga kita mendapat perhatian, perlindungan dan dukungan dari anggota keluarga lainnya.
  4. Keluarga sebagai laboratorium hidup bagi setiap anggota keluarga. Orangtua (ayah dan ibu) harus bisa berperan seperti yang Tuhan kehendaki yaitu menjadi teladan bagi anak-anaknya agar nilai-nilai kehidupan Kristus bisa ditanamkan sedini mungkin, dan anak-anak bisa mulai menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
  5. Keluarga sebagai tempat belajar untuk mengatasi masalah. Tidak ada keluarga yang tidak menghadapi permasalahan hidup. Seringkali permasalahan muncul secara tidak terduga. Misalnya, konflik suami-istri, problem anak remaja, masalah ekonomi/keuangan, dan sebagainya. Namun, jika kita mau mengijinkan kuasa Allah bekerja dalam keluarga kita, maka semua persoalan pasti akan dapat diselesaikan.
Bagaimana menjadi keluarga Kristen yang benar?

Keluarga akan menjadi benar jika setiap hubungan di dalamnya juga benar. Untuk mengetahui apa saja bentuk hubungan yang benar kita dapat melihatnya dalam pedoman hidup yang Tuhan berikan di Efesus 5:22-23, 6:1-4, dan Kolose 3:18-21. Dalam ayat-ayat tersebut bentuk hubungan dalam keluarga yang benar adalah sebagai berikut:
  1. Suami mengasihi istri dan tidak boleh berlaku kasar pada istrinya.
  2. Istri tunduk dan taat kepada suami dalam segala hal.
  3. Orangtua mendidik anak-anak di dalam ajaran dan nasihat Tuhan, serta tidak membangkitkan amarah anak-anaknya.
  4. Anak-anak menghormati dan menaati orang tuanya.

    Seperti posisi keluarga yang merupakan suatu lembaga/unit yang paling kecil, dan menjadi bagian dalam masyarakat, demikian kita sebagai keluarga Kristen, juga menjadi bagian dari suatu keluarga Kristen yang lebih besar lagi yaitu persekutuan saudara-saudara seiman, disebut  gereja. Karena itu jika keluarga-keluarga dalam satu kota sehat, maka kotanya akan menjadi kuat; jika keluarga-keluarga Kristen dipenuhi kuasa Allah maka gereja-gereja juga penuh kuasa Allah, demonstrasi kuasa Allah akan nyata dan berdampak luas bagi kota bahkan negeri dimana gereja berada.

    Kita mungkin sudah pernah mendengar kisah ini, tapi ini bukanlah dongeng melainkan kisah nyata kehidupan dua keluarga yang berbeda, yang satu mengandalkan kuasa Allah dalam kehidupan keluarganya, sedangkan yang lainnya hidup tanpa kuasa Allah. Mereka berdua hidup pada abad ke-18, yang pertama adalah Dr. Jonathan Edwards, seorang rektor, pendeta  yang saleh dan pengkhotbah kebangunan rohani. Yang kedua adalah Max Jukes, seorang penyelundup yang tidak bermoral. Jonathan Edwards menikah dengan seorang wanita yang mempunyai iman dan filsafat hidup yang baik. Mereka membangun keluarganya dalam takut akan Tuhan, sesibuk apapun Jonathan senantiasa menyediakan waktunya untuk bersekutu dengan Tuhan dan keluarganya.

    Sedangkan Max Jukes hidup tanpa aturan, dan keluar masuk penjara, keluarganya berantakan dan tidak terurus dengan baik. Melewati ratusan tahun, silsilah kedua orang ini dilacak dan diteliti, lalu ditemukan bahwa dari Dr. Edwards terdapat 729 keturunan, dimana 300 orang menjadi pengkhotbah, 65 orang menjadi profesor di universitas, 13 orang menjadi penulis, 3 orang menjadi pejabat pemerintah, dan 1 orang menjadi wakil presiden Amerika, keturunan-keturunan Dr. Edwards memberi kontribusi besar dan positif bagi negaranya. Sedangkan dari Max Jukes terdapat 1.026 keturunan, dimana  300 orang diantaranya mati muda, 100 orang dipenjara, 190 orang menjadi pelacur, dan 100 orang menjadi pemabuk, secara keseluruhan keturuna-keturunan Max Jukes membawa dampak yang merugikan bagi negaranya.

    Dari kisah diatas, kita bisa melihat bahwa kebiasaan, keputusan dan nilai-nilai dari generasi terdahulu sangat mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat para ahli yang menyatakan bahwa lingkungan dan hal yang banyak mempengaruhi pembentukan watak, iman, dan tata nilai seseorang adalah keluarga asalnya (the family of origin). Keluarga asal dianggap paling berperan dan berharga dengan berbagai dinamika dan kondisi apapun. Dalam Mazmur 78:5 dicatat, “Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka”. Jadi untuk bisa membentuk keluarga yang benar hanya dengan mengijinkan kuasa Allah bekerja didalamnya.

    Pilihan sekarang ada pada diri kita, apakah kita mau membangun keluarga yang dipenuhi kuasa Allah atau membangunnya dengan pikiran dan kekuatan sendiri? Tapi ingat, pilihan yang kita pilih itu bukan hanya menentukan kehidupan kita tapi juga kehidupan anak atau cucu kita bahkan kehidupan generasi yang lebih jauh lagi.

    Sunday, May 12, 2013

    Kunci Pemulihan

    Kita pasti pernah mengalami suatu keadaan yang tidak baik, rasanya kering dan hambar, mengecewakan, benar-benar bukan suatu keadaan yang tidak mengenakkan, yang tidak diinginkan; dalam kondisi demikian tentunya kita mau pemulihan bisa terjadi pada kehidupan kita baik secara pribadi, rumah tangga/keluarga, orangtua, anak, dalam pekerjaan, usaha, dan sebagainya.

    Saudara percaya kalau Tuhan juga mau pemulihan terjadi atas hidup kita?

    Kita lihat dalam Lukas 1:16-17:
    “ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya."

    Di akhir zaman ini, Tuhan mau memulihkan keadaan kita, anak-anakNya karena itu adalah bagian dari persiapan untuk menyambut kedatanganNya yang kedua kali ke dunia ini. Oleh sebab itu semua hal yang berhubungan dengan pemulihan pasti akan didukung oleh Tuhan karena ini adalah kairosnya Tuhan!

    Jadi kalau kita mau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pemulihan yang benar, Tuhan pasti akan mendukung dan menolong kita. Firman dalam Lukas tadi berbicara mengenai Yohanes Pembaptis yang adalah Elia yang akan datang itu (Matius 11:13-14).


    Jika kita mau dipulihkan maka kita harus melihat apa yang dikerjakan oleh nabi Elia saat dia dipakai Tuhan untuk memulihkan keadaan bangsa Israel di dalam 1 Raja 18:1-45.

    1 Raja 18:36-38:
    Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.

    Ada tiga hal yang Elia kerjakan sehingga api Tuhan turun dan pemulihan terjadi:

    1. Ayat 30: Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu.

    Hal pertama yang Elia lakukan adalah memperbaiki, membangun kembali mezbah Tuhan -> ini bicara mengenai kehidupan DOA PRIBADI kita dengan Tuhan.

    2. Ayat 31-32: Elia mengambil 12 batu dan menyusun/mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah -> ini bicara mengenai adanya UNITY, KESATUAN HATI, baik sebagai suami-istri, orangtua-anak, atasan-bawahan, gembala-pengerja, dan sebagainya, termasuk kesatuan diri pribadi kita dengan Tuhan/Roh Kudus.

    3. Elia mempersembahkan korban (nabi Baal juga melakukan hal itu) namun bedanya, ayat 34-35, Elia menyiram korban dan mezbahnya dengan air sampai tiga kali, apa maksudnya?

    a. pengertian pertama, mungkin Elia melakukan hal itu untuk menunjukkan bahwa api yang membakar korbannya bukan karena cuaca yang panas, jadi disiram air agar basah untuk membuktikan bahwa benar api Tuhan yang turun.

    b. pengertian kedua, air adalah sesuatu yang mahal dan berharga saat itu, karena sedang masa kekeringan, namun Elia mempersembahkannya bahkan sampai tiga kali.

    Saudara, jika mau hidupmu dipulihkan maka PERSEMBAHKAN apa yang paling berharga dalam hidupmu, berikan itu bagi Tuhan bukan hanya sedikit, seperempat atau setengah tapi SEMUANYA.

    Bukankah yang diminta-Nya adalah Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Matius 22:37), segenap, berarti semuanya, seluruhnya, 100% untuk Tuhan!

    Tuhan Yesus memberkati...

    Saturday, April 13, 2013

    Tidak saling menuntut

    Owa Jawa (hylobates moloch) adalah sejenis kera kecil yang hidup di Pulau Jawa, meskipun banyak penduduk di Pulau Jawa yang tidak mengetahui keberadaan satwa yang sudah di ambang kepunahan ini. Owa Jawa, sebagaimana beberapa jenis owa lain, biasanya hidup berpasangan dan monogami. Untuk mendapatkan pasangan yang cocok, Owa Jawa kadang memerlukan waktu yang panjang. Namun setelah mendapatkannya, pasangan ini akan bertahan seumur hidup. Benar-benar tak tergantikan. Jika pasangannya mati, owa tersebut biasanya tidak akan mencari pasangan lagi. Sampai mati.

    Cinta kasih kita sebagai manusia tentu semestinya melebihi cinta kasih satwa. Walaupun kini tengah marak fenomena perceraian dalam hubungan suami-istri, tetapi yang Tuhan kehendaki adalah hubungan yang harmonis layaknya Tuhan dengan jemaat-Nya. Efesus 5 dengan jelas menggambarkan hubungan ini. Ada cinta kasih dan kesetiaan yang dibutuhkan dalam hubungan antara suami dan istri - yakni seperti Kristus dengan jemaat-Nya. Dan, hubungan yang dipersatukan oleh Allah harus dipelihara dengan baik sebagai wujud ungkapan syukur terhadap Tuhan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9).

    Akan tetapi realita saat ini justru sebaliknya. Banyak perceraian terjadi karena ada ketidakpuasan dalam rumah tangga. Dalam membina rumah tangga, suami dan istri seharusnya bisa saling menyatakan cinta kasih tanpa memiliki sikap menuntut dan dituntut.

    Jika melihat Firman Tuhan dalam Efesus 5:22-23 kata ‘tunduklah’ seperti menjadi suatu tuntutan sikap bagi istri kepada suami. Isteri harus tunduk pada suami, seperti halnya seorang bawahan kepada atasan/kepalanya. Namun isteri pun seolah bisa menuntut agar suami mengasihinya seperti yang tertulis dalam ayat 25. Istri menuntut suami agar dikasihi dan suami menuntut istri agar tunduk kepadanya. Masing-masing melihat apa yang jadi bagian pihak lain, apa yang harus dilakukan oleh pasangannya...sungguh disayangkan, kenapa masing-masing tidak lebih dulu mengerjakan apa yang jadi bagiannya?

    Tidaklah heran apabila yang terjadi akhirnya malah masing-masing pihak saling menuntut haknya dalam rumah tangga. Suami atau istri lebih mementingkan kepentingannya sendiri bukan pasangannya. Kenapa hal ini bisa terjadi padahal pada masa awal kisah cinta kasih sikap mereka tentunya tidak demikian. Matius 24:12 mencatat: “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Kedurhakaan yang dimaksud disini dalam bahasa Inggrisnya tertulis: iniquity yang bisa diartikan sebagai ketidakadilan, kelaliman, perbuatan salah atau bahkan ketidaksusilaan.

    Perjalanan cinta kasih setiap pasangan tentunya tidak selalu mulus-mulus saja, ada banyak hal yang terjadi apalagi dalam membina rumah tangga, kurangnya waktu untuk berkomunikasi, kesibukan pekerjaan, atau ada perbuatan suami yang tidak berkenan pada istrinya dan sebaliknya, namun apapun yang diperbuat oleh pasangan kita...jangan sampai hal itu membuat cinta kasih yang awalnya ‘panas’ menjadi ‘dingin’.

    Cinta kasih yang memudar menyebabkan suami atau istri mulai saling menuntut, padahal seharusnya cinta kasih yang sejati itu adalah cinta kasih tanpa menuntut dan dituntut... Seperti kasih Kristus kepada kita, Dia yang telah melepaskan hak-Nya sebagai Anak Allah, memberi diri-Nya disiksa bahkan disalib untuk menebus dosa kita tanpa paksaan, bahkan saat kita masih berdosa dan belum menyadarinya, dan semuanya itu dilakukan oleh Kristus semata-mata hanya karena cinta kasih-Nya pada kita, kasih yang tidak menuntut, kasih yang tidak dipaksa, kasih yang sejati!

    Sesungguhnya rumah tangga Rani tampak bahagia dan tak ada kekurangan yang bisa dicela oleh orang-orang yang melihatnya. Akan tetapi jika dilihat di dalamnya, yang terjadi sesungguhnya adalah sandiwara. Rani dan Roni, suaminya, berada dalam jarak psikologis yang sulit disatukan.

    Masing-masing merasa tidak butuh dengan pasangannya. Rani asyik dengan kesibukannya mengurus Cindy, anak satu-satunya yang kini masuk Playgroup. Roni sibuk dengan usaha yang amat menguras tenaga, waktu dan juga perhatiannya. Sesampai di rumah, keinginan Roni hanyalah istirahat, melepas lelah. Ia tidak ingin diganggu oleh isteri dan ulah anaknya. Sementara, Rani sebenarnya ingin bisa berbagi cerita, ingin dimanja dan mendapatkan perhatian dari Roni.

    Namun karena keinginannya hampir tidak pernah menjadi nyata, semakin lama Rani mulai berusaha untuk memupus angan-angan indahnya berumah tangga. Ia mulai melaksanakan semua kegiatannya sendirian. Ia belajar menyelesaikan semua masalahnya sendiri, karena Roni tak mau mengerti. Ia bahkan mengurus anaknya sendiri, dan akhirnya iapun mulai menikmati hidup sebagai seorang yang mandiri, kendatipun memiliki suami.

    Kondisi ini terus berlangsung sehingga Rani dan Roni mulai merasakan nyaman dalam keadaan kesendirian, dan perlahan merasa tidak saling membutuhkan lagi.

    Jika hal ini terus dibiarkan, tentunya cinta Rani dan Roni akan menjadi padam dan akhirnya konflik yang terjadi dengan mudah akan menggoyahkan serta mengoyak hubungan rumah tangga yang sudah menjadi tawar ini.

    Sebelum terlambat, Roni harus mau merelakan dirinya untuk tetap memperhatikan Rani dan anaknya, dalam keadaan sesibuk apapun juga. Ingatlah bahwa setelah Tuhan, keluarga adalah prioritas yang berikutnya, bukan usaha atau pekerjaan. Kerelaan Roni untuk melepaskan haknya untuk istirahat setelah lelah bekerja dan menyediakan waktu lebih bagi Rani, akan menjadi titik balik keharmonisan dalam rumah tangganya.

    Ketika kita mulai merasa tak lagi mencintainya.
    Ingatlah disaat kita ‘tergila-gila’ kepadanya.

    Ketika kita mulai tak peduli kepadanya.
    Ingatlah disaat kita mengharap cinta kasihnya.

    Ketika kita mulai merasa bosan kepadanya.
    Ingatlah disaat dia menerima cinta kita begitu tulusnya.

    Ketika kita mulai meninggalkannya.
    Ingatlah disaat pertama kita selalu ingin bersamanya.

    Dan ketika kita ingin menduakannya.
    Ingatlah dia yang selalu menunggu kita dengan setianya.

    Cinta kasih yang sejati bukan muncul dari keinginan atau kepentingan pribadi, tetapi dari kesadaran untuk rela memberi (melepaskan haknya) bagi pihak lain, tanpa menuntut, tanpa dipaksa. Dan karena kita sudah menerimanya dari Kristus maka seharusnya kita pun bisa memberikannya kepada orang lain, apalagi jika orang lain itu adalah pasangan hidup kita, yang sedari awal...sudah kita pilih dari semua pria atau semua wanita yang ada di bumi ini untuk dikasihi sampai mati.

    TRUE LOVE NEVER DIES

    Friday, February 1, 2013

    Berjaga-jaga

    Memasuki tahun 2013 banyak berita mengenai kiamat yang dihubung-hubungkan dengan berakhirnya kalendar suku maya atau isu lainnya. Saya sendiri pernah melihat acara tv tentang persiapan orang-orang dalam menghadapi kiamat (doomsday) atau akhir dunia ini.

    Pertanyaan penting untuk kita, apakah persiapan kita sebagai orang percaya dalam menghadapi akhir dunia ini?

    Firman Tuhan mengatakan bahwa sebelum kesudahan dunia ini Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya. Hal ini penting bagi orang percaya, kenapa? Karena Alkitab mencatat bahwa sebelum akhir zaman, akan ada satu zaman kesukaran besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, sejak bumi ini diciptakan dan tidak akan ada lagi, yaitu zaman antikris. "Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa." (II Tesalonika 2:3)

    Kita yang percaya tentunya tidak ingin mengalami zaman kesukaran besar itu. Akan ada satu peristiwa yang mendahului zaman antikris yaitu rapture, kedatangan Tuhan Yesus di angkasa untuk menjemput mempelai-Nya; barangsiapa ikut diangkat (rapture) maka dia terluputkan dari masa kesukaran besar di bumi dan menikmati pesta perjamuan kawin Anak Domba di sorga.

    Jadi, bicara akhir zaman itu bisa berarti dua hal:

    Pertama, kiamat yang sesungguhnya, tapi jika melihat konteks waktu maka hal itu masih cukup lama karena harus melewati beberapa moment seperti: rapture, zaman antikris, zaman 1000 tahun damai, baru tibalah waktunya kiamat atau akhir zaman atau akhir dunia yang kita kenal sekarang ini. Bagi orang percaya, yang lebih penting untuk kita persiapkan adalah menyambut kedatangan Tuhan di angkasa (rapture) dibandingkan akhir zaman/kiamat itu.

    Kedua, akhir zaman (zaman = waktu) bisa juga berarti berakhinya waktu hidup kita di dunia, alias mati/meninggal dunia. Hal kematian ini penting untuk dipersiapkan, karena umur seseorang tidak ada yang tahu (kecuali Tuhan). Kematian bisa datang sewaktu-waktu oleh sebab alami ataupun tidak, dan tidak musti menunggu tua...yang muda pun bisa dipanggil Tuhan jika sudah waktunya.

    Matius 25:13 mencatat: "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." Kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang kedua kalinya di angkasa (rapture) dan kita juga tidak tahu kapan kita akan mati. Maka untuk kedua hal inilah kita harus berjaga-jaga agar kita siap seandainya waktunya tiba!

    Perbuatan berjaga-jaga seperti apa yang Tuhan mau?

    Kita lihat dalam Firman Tuhan, apa yang dilakukan oleh seseorang yang pernah mengalami 'rapture'

    Kejadian 5:21-24 "Setelah Henokh hidup enam puluh tahun, ia memperanakkan Metusalah. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah."

    Perhatikan kata: Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu dia diangkat oleh Allah (rapture).

    Bagaimana caranya bergaul dengan Tuhan?

    Pada suatu hari, di tempat lain, dalam suasana yang sedikit berbeda, seorang yang mengaku bergaul dengan Tuhan Yesus, menghubungi Tuhan Yesus, dan berbicara sebagai berikut: "Oh Tuhan Yesus, saya ingin berbicara dengan Engkau; begini Tuhan, saya sudah berbicara dengan pak A dan dia bersedia untuk belajar mengenai Engkau, Tuhan. Dan pak B juga sudah saya beritahu bahwa Tuhan Yesus selalu mau menolongnya. Tolong ya Tuhan, pak B sungguh memerlukan pertolonganMu. Dan pak C, yang di seberang rumah kami ini Tuhan, juga ada masalah yang memerlukan bantuan Tuhan juga. Oh ya, saya juga memerlukan bantuan-Mu Tuhan, tolonglah Tuhan mengusahakan suatu pekerjaan bagi anak saya yang baru tamat sekolah itu. Berilah berkat-Mu ya Tuhan, tolonglah anak itu, pasti dia akan rajin menyampaikan persembahan persepuluhannya! Satu hal lagi, Tuhan, isteri saya mulai kena rematik dan sangat perlu perawatan dari padaMu. Tolong jamah dia Tuhan, sembuhkanlah dia. Terimakasih Tuhan Yesus, dalam namaMu yang kudus saya sudah berdoa, AMIN."

    Plop, mata dibuka, lalu selesailah doanya, dan tinggallah Tuhan Yesus termangu-mangu, belum sempat berbicara apa-apa; ditinggal bersama setumpuk 'tugas' yang harus diselesaikan-Nya sendiri?!

    Kalau cara kita selama ini bergaul seperti demikian terus-menerus maka BERTOBATLAH karena siapa sebenarnya yang jadi BOSS-nya, kita atau Tuhan??

    Pergaulan yang benar bukanlah bicara satu arah, harus berupa pembicaraan dua arah. Inilah definisi pergaulan:
    (1) Pembicaraan dua arah
    (2) Bekerja sama, saling membantu, timbal-balik
    (3) Memiliki gagasan-gagasan yang sama, untuk landasan kerja-sama tadi
    (4) Pada puncak keakraban: sehati-seperasaan alias sepakat dengan Tuhan (bukan Tuhan dipaksa sesuai hati kita)!

    Gambaran ini pula yang seharusnya dapat kita lihat dalam hubungan pasangan suami-istri yang akrab/intim.

    Jadi, pergaulan yang benar dengan Tuhan, kita mulai dari:

    1. Mengenal Tuhan melalui Firman-Nya, apakah kita sudah baca Alkitab setiap hari? Apakah kita sudah merenungkan Firman itu siang dan malam?

    2. Bicara dengan Tuhan melalui doa yang benar, lihat dalam:

    Yakobus 5:16b "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."

    Yakobus 5:17 "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan."

    Contoh doa yang Tuhan sendiri ajarkan yaitu: Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13)

    3. Melakukan kehendak-Nya, Yoh 15:14 "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu."

    Apa yang jadi perintah/hukum-Nya?
    Inilah perintah/hukum yang utama (Matius 22:37-39):

    I. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

    II. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

    Jika kita bisa melakukan kedua perintah diatas maka itu sama artinya dengan melakukan kehendak-Nya.

    Tuhan memberkati!

    Sunday, November 4, 2012

    My God My Hero

    Tuhan Yesus dikenal dengan banyak sebutan, seperti yang tertulis dalam Yesaya 6:9 salah satunya adalah "Allah yang perkasa" yang juga diterjemahkan sebagai "pahlawan perkasa" atau "pahlawan ilahi." Allah sebagai pahlawan, pahlawan yang perkasa! Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, tapi pernahkah kita terpikir untuk menjadikan Dia sebagai pahlawan kita juga?

    Saya mencari arti "pahlawan" melalui kamus dan inilah pengertiannya:

    1. Seorang dengan kemampuan yang berani, dikagumi karena perbuatan berani dan sifat-sifat mulia.

    2. Seseorang yang, menurut pendapat orang lain, memiliki kualitas heroik atau telah melakukan tindakan heroik dan dianggap sebagai model atau ideal. Contohnya: seseorang dianggap pahlawan lokal ketika ia menyelamatkan anak tenggelam.

    3. Karakter pria utama dalam cerita, film dan lain-lain.

    Ketika saya pertama kali membaca definisi itu, saya berpikir, "Wow, ini benar-benar cocok dengan apa yang saya tahu tentang Yesus." Bukankah Tuhan Yesus telah melakukan perbuatan-perbuatan yang berani dan memiliki sifat-sifat yang mulia? Dia bukan hanya menyelamatkan anak tenggelam tapi seluruh umat manusia. Yesus berdarah karena disiksa dan mati disalib bagi kita. Selama hidup di dunia, Dia mengendalikan pikiran-Nya, disiplin perbuatan-Nya, dan memberikan hidup-Nya untuk melakukan kehendak Allah Bapa-Nya. Dilakukan-Nya hal itu hari demi hari, tanpa pamrih hingga pada akhir ketaatan-Nya di kayu salib. Dia mengubah sejarah manusia selama-lamanya dengan mematahkan dosa turunan akibat ketidaktaatan Adam dan memberikan jalan keselamatan untuk manusia kembali hidup bersama dengan Allah seperti yang seharusnya di Taman Eden. That’s a true hero!

    Sewaktu kecil banyak diantara kita yang memiliki “hero-hero” dalam pikirannya, biasanya yang dijadikan pahlawan adalah tokoh superhero yang ada dalam cerita komik atau film-film. Kenapa kita cenderung menjadikan mereka sebagai pahlawan atau idola? Karena tokoh-tokoh itu melakukan, menurut pikiran kita saat itu, sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang ingin kita tiru atau teladani.

    Setiap orangtua, suami-istri, tanyakan pada anak-anak kita, siapa yang mereka jadikan pahlawan saat ini? Banyak anak-anak muda sekarang ini menjadikan aktor, aktris, penyanyi, grup musik dan sebagainya sebagai pahlawan atau idolanya. Mereka pun meniru gaya dan dandanan pahlawan yang ditirunya, bahkan mungkin cara berpikirnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Sebagai orang percaya, harusnya kita menjadikan Tuhan sebagai pahlawan kita, idola kita, teladan kita. Tuhan memang tidak kelihatan secara fisik tapi Tuhan memiliki image (gambaran) diri-Nya yang dapat dilihat, Kejadian 1:27 mencatat: “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

    Jadi seharusnya melalui figur laki-laki dan perempuan (baca: figur Ayah-Ibu atau Suami-Istri) maka anak-anak dapat melihat gambaran Allah secara lengkap. Sayangnya, banyak orangtua yang belum dapat memenuhi kriteria yang benar sebagai gambaran Allah. Setiap orangtua/suami-istri harus menyadari bahwa anda masing-masing membawa citra Allah dalam hidup anda, karena itu seharusnya orangtua bisa dan harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, sehingga anak-anak bisa melihat gambaran Allah yang sesungguhnya dan meneladaninya.

    Jika seorang ayah/suami terbiasa melakukan tindakan kekerasan, memukul istri, memukul anak, mabuk atau merokok, bahkan jarang pulang, bagaimana mungkin anaknya akan menganggap ayahnya sebagai teladan? Lalu, bagaimana mungkin pula anak itu percaya bahwa Tuhan Yesus yang seharusnya tercitra dalam hidup ayahnya itu ada atau menjadi pahlawannya? Begitu pula, jika seorang ibu/istri yang sibuk bekerja atau sibuk mengurus dirinya sendiri atau lebih sering bepergian untuk arisan, shopping dan sebagainya, sehingga tidak ada waktu bagi anak-anaknya, bagaimana bisa menjadi teladan bagi mereka? Jangan-jangan anak-anaknya akan beranggapan bahwa Tuhan tentu lebih sibuk lagi dari ibunya dan lebih susah lagi untuk ditemui...

    Ketidak adaan figur yang dapat diteladani dengan benar, yang seharusnya dapat dicitrakan oleh setiap orangtua sebagai gambaran Allah di muka bumi, mengakibatkan banyak anak-anak yang mencari “pahlawan-pahlawan semu” diluar rumah, yang di jaman teknologi informasi ini lebih mudah dijangkau melalui multimedia elektronik, socialmedia dan sebagainya. Hal ini tentu membahayakan kehidupan anak-anak muda, generasi penerus kita. Banyak tipu muslihat iblis yang disisipkan secara terselubung melalui musik-musik dunia atau film-film dunia atau segala keindahan dunia yang semu ini. Sebagai orang percaya, tentunya kita tidak mau melihat anak-anak kita menjadi rusak atau terpengaruh hal-hal demikian.

    Marilah setiap orangtua/suami-istri terlebih dulu menjadikan Tuhan Yesus sebagai pahlawan untuk diteladani dalam hidupnya, dimulai dari ayah/suami sebagai kepala keluarga, kemudian ibu/istri sebagai tiang doa dan penolong. Saat orangtua/suami-istri melakukan hal ini maka Tuhan juga akan menjadikan mereka sebagai “pahlawan” bagi anak-anaknya, yang akan meneladani cara hidup benar dari orangtuanya. Bukankah suatu hal yang indah jika kita dan juga keturunan kita bisa hidup dan berjalan bersama “pahlawan yang sejati” yaitu Tuhan Yesus Kristus, seumur hidup kita, bahkan kita pun akan dijadikan-Nya pahlawan-pahlawan iman seperti tokoh-tokoh yang ada dalam Alkitab.

    Ulangan 3:24 Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau?

    Monday, October 8, 2012

    Go to the Next Level

    Setiap keluarga tentunya menginginkan keadaan yang lebih baik dalam segala hal. Yang tadinya belum punya rumah alias ngontrak, pasti ingin membeli rumah; yang belum punya anak tentunya ingin segera punya anak; dan sebagainya.

    Masuk dalam keadaan yang lebih baik, itulah pengertian sederhana dari istilah NEXT LEVEL (naik tingkat). Naik tingkat berarti keadaan kita dipromosikan ke level yang lebih baik, bukan hanya secara rohani tapi juga secara jasmani. Tuhan rindu sekali untuk membawa anak-anak-Nya naik ke level berikutnya. Seperti janji-Nya, bahwa kita akan menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, kita akan tetap naik dan bukan turun, apabila kita senantiasa mendengarkan perintah TUHAN. Seorang yang naik tingkat berarti mendapat promosi dari Tuhan untuk makin luas pandangannya, makin besar tanggung jawab, makin mengerti apa kehendak Tuhan dan tentunya makin diberkati oleh Tuhan.

    Promosi tidak hanya berdampak bagi diri kita sendiri tapi juga bagi lingkungan sekeliling kita. Contohnya dalam sebuah keluarga, jika ada anggota keluarga yang mengalami promosi, tentunya anggota keluarga lainnya juga akan turut menikmatinya. Sayangnya tidak setiap orang percaya bisa mengalami kenaikan tingkat ini walaupun sebenarnya ingin, karena tidak setiap orang sungguh-sungguh berusaha meraihnya. Banyak orang yang hanya ingin hasilnya tanpa mengikuti ujiannya, padahal tanpa ujian tidak akan ada kenaikan tingkat.

    Ada seorang anak SD yang pernah bertanya kepada gurunya, “Ibu guru, apakah saya boleh tidak mengikuti ujian akhir?” Jawab bu guru, “Boleh saja kamu tidak ikut ujian, tetapi selamanya kamu harus berada di kelas ini, karena untuk bisa naik kelas, kamu harus ikut ujian dan lulus.” Tentu tidak ada seorang anak yang mau tetap di kelas yang sama apalagi jika teman-temannya sudah naik kelas/lulus sekolah. Kita pun tentu tidak mau menerima keadaan yang hanya begini-begini saja tanpa ada perubahan yang lebih baik.

    Oleh karena itu setiap anak Tuhan, apalagi sebagai suami atau ayah, harus siap dan percaya bahwa melalui setiap ujian yang dihadapi, pada akhirnya akan mendatangkan promosi ke tingkat yang lebih tinggi bagi dirinya dan keluarganya. Inisiatif harus dimulai dari seorang suami atau ayah, karena Tuhan menetapkan laki-laki sebagai kepala keluarga baik secara jasmani dan rohani; tapi tentunya para istri atau ibu jangan juga melupakan perannya sebagai penolong dan tiang doa dalam rumah tangga. Dengan kesiapan suami dan dukungan istri maka setiap ujian pasti dapat dilalui, dan sekeluarga akan mengalami promosi, akan tetap naik dan bukan turun.

    Bagaimana caranya agar kita bisa mengalami promosi/kenaikan tingkat?

    1. Waktu Tuhan

    Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Jelas apa yang di sampaikan bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, dan kita tidak bisa memaksa bila belum waktunya. Kita harus menangkap pesan Tuhan melalui Gembala Pembina, bahwa tahun 2012 ini adalah tahun perkenanan Tuhan, itu berarti pula bahwa tahun ini adalah waktu-Nya Tuhan untuk mencurahkan perkenanan-Nya bagi kita, tahun ini adalah saat yang tepat bagi keluarga-keluarga dan orang percaya untuk mengalami promosi dari Tuhan. Jangan tunda lagi, berusahalah untuk meraih janji Tuhan di tahun 2012 ini sehingga multiplikasi dan promosi terjadi dalam kehidupan keluarga kita.

    2. Ketaatan

    Ulangan 28:1 “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.” Demikian dikatakan oleh Firman Tuhan, ketaatan pada Tuhan adalah cara untuk mengalami promosi. Ketaatan bukanlah pilihan melainkan keputusan yang harus kita ambil. Perkenanan Tuhan akan ada jika kita melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan hari-hari ini. Mari setiap ayah atau suami mengambil inisiatif untuk mengajak seluruh anggota keluarga melakukan apa yang Tuhan minta, bangun mezbah keluarga, ajarkan Firman Tuhan pada anak-anak sedari dini, dan mulai berjalan taat dalam tuntunan-Nya, pasti berkat Tuhan akan dicurahkan seperti yang dijanjikan-Nya.

    3. Perubahan Paradigma

    Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang berpengaruh pada cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku. Paradigma sangat berpengaruh pada cara kita hidup, sebab sebagaimana paradigma kita maka begitulah jadinya kehidupan kita. Paradigma harus diperbaharui, seperti tertulis di Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Antara suami dan istri harus ada perubahan paradigma dari keadaan sebelum dengan sesudah menikah, dari keadaan sebelum dengan sesudah memiliki anak, dan seterusnya. Setiap ada perubahan kondisi tentunya memerlukan adanya perubahan paradigma, sehingga setiap pasangan bisa beradaptasi dengan keadaan dan mengurangi friksi yang muncul. Keharmonisan dalam keluarga tercipta oleh adanya paradigma yang tepat dan tentunya kesepakatan suami-istri didalamnya.

    4. Hidup oleh Roh

    Roma 8:8 “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Perkenanan Tuhan sebagai syarat promosi, akan ada jika kita hidup dalam Roh bukan dalam daging. Sebagai anak Tuhan setiap hari kita harus belajar untuk melawan keinginan daging dan hidup dalam tuntunan Roh Kudus, inilah yang dinamakan peperangan rohani. Seringkali kita kurang menyadari hal ini, sehingga kita banyak dikalahkan oleh keinginan daging dan roh-roh jahat, akibatnya promosi hanya menjadi harapan bukan kenyataan. Inilah pentingnya membangun mezbah dalam keluarga kita, dengan adanya mezbah keluarga maka otomatis seorang suami atau ayah akan mengajarkan pada istri dan anak-anaknya untuk hidup dalam tuntunan Roh. Semakin sering mezbah diadakan, akan semakin peka keluarga itu pada tuntunan Roh Kudus, yang menuntun dari satu promosi kepada promosi berikutnya.

    Dalam suatu acara permainan/lomba di TV, diperlihatkan berbagai tantangan yang memacu adrenalin peserta maupun penontonnya. Berbagai lomba yang penuh resiko dan tantangan tinggi diadakan, mulai dari perlombaan ketangkasan diatas ketinggian sampai perlombaan menjijikkan seperti memakan makanan yang tidak layak dimakan atau masuk dalam tempat-tempat yang menjijikan. Namun hadiah yang disediakan bagi pemenangnya adalah uang puluhan bahkan ratusan ribu dollar atau paket wisata ke luar negeri! Setiap permainan atau lomba yang menarik tentu sebanding dengan hadiahnya; lomba yang mudah, hadiahnya tentu sederhana sedangkan lomba yang penuh tantangan, imbalannya tentu hadiah yang besar pula.

    Demikian pula dengan hidup kita. Semakin sulit ujian yang harus kita hadapi, semakin tinggi level yang Tuhan sediakan untuk kita capai. Karena itu, jangan menyerah! Tetap percaya dan andalkan Tuhan saat menghadapi ujian, karena kita tahu dibalik setiap ujian tersedia promosi yang menarik dari Tuhan!

    Gbu...

    Monday, September 24, 2012

    Monday, September 17, 2012

    Next Level

    Tiap orang tentu ingin punya keadaan yang lebih baik dalam segala hal. Yang tadinya belum punya rumah alias ngontrak pasti ingin beli rumah, yang sudah punya rumah mau rumahnya lebih bagus lagi dan seterusnya. Masuk dalam keadaan yang lebih baik, itulah pengertian sederhana dari istilah NEXT LEVEL (naik tingkat). Naik tingkat = dipromosikan ke level yang lebih baik, bukan hanya secara rohani tapi juga secara jasmani.

    Tuhan rindu sekali untuk membawa kita, anak-anak-Nya untuk naik ke level berikutnya. Seperti janji Tuhan di Ulangan 28:13, bahwa kita akan menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, kita akan tetap naik dan bukan turun, apabila kita senantiasa mendengarkan perintah TUHAN. Jadi selain semakin diberkati, naik tingkat juga berarti makin besar tanggung jawab dan makin mengerti apa kehendak Tuhan.

    Sayangnya tidak setiap anak Tuhan bisa mengalami hal ini walaupun sebenarnya ingin, karena tidak setiap orang sungguh-sungguh berusaha meraihnya. Banyak orang yang hanya ingin hasilnya tanpa mengikuti ujiannya, padahal tanpa ujian tidak akan ada kenaikan tingkat. Ada seorang anak SD yang pernah bertanya kepada gurunya, "Ibu guru, apakah saya boleh tidak mengikuti ujian akhir?" Jawab ibu guru, "Boleh saja kamu tidak ikut ujian, tetapi selamanya kamu harus berada di kelas ini, karena untuk bisa naik kelas, kamu harus ikut ujian dan lulus." Tentu tidak ada seorang anak yang mau tetap ada di kelas yang sama apalagi jika teman-temannya sudah naik kelas/lulus sekolah. Kita pun tentu tidak mau menerima keadaan yang hanya begini-begini saja tanpa ada perubahan yang lebih baik.

    Jadi kalau mau punya keadaan lebih baik, kita juga harus siap dan percaya bahwa setiap ujian yang dihadapi, pada akhirnya akan mendatangkan promosi ke tingkat yang lebih tinggi, bagi diri kita dan juga lingkungan sekitar kita. Respon percaya dan siap ini harus dimulai dari seorang suami atau ayah, karena Tuhan menetapkan laki-laki sebagai kepala keluarga baik secara jasmani dan rohani; tapi tentunya para istri atau ibu jangan juga melupakan perannya sebagai penolong dan tiang doa dalam rumah tangga. Dengan kesiapan suami dan dukungan istri maka setiap ujian pasti dapat dilalui, dan sekeluarga akan mengalami promosi, akan tetap naik dan bukan turun.

    Bagaimana caranya agar kita bisa mengalami promosi/next level/kenaikan tingkat?

    1. Waktu Tuhan

    Pkh 3:1 "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." Jelas apa yang di sampaikan bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, dan kita tidak bisa memaksa bila belum waktunya. Kita harus menangkap pesan Tuhan melalui Gembala Pembina Pdt Ir. Niko N, bahwa tahun 2012 ini adalah tahun perkenanan Tuhan, itu berarti pula bahwa tahun ini adalah waktu-Nya Tuhan untuk mencurahkan perkenanan-Nya bagi kita, tahun ini adalah saat yang tepat bagi keluarga-keluarga dan orang percaya untuk mengalami promosi dari Tuhan. Jangan tunda lagi, berusahalah untuk meraih janji Tuhan di tahun 2012 ini sehingga multiplikasi dan promosi terjadi dalam kehidupan kita.

    2. Perubahan Paradigma

    Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang berpengaruh pada cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku. Paradigma sangat berpengaruh pada cara kita hidup, sebab sebagaimana paradigma kita maka begitulah jadinya kehidupan kita. Paradigma harus diperbaharui, seperti tertulis di Roma 12:2 "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Tuhan kita adalah Tuhan yang dinamis, Dia bisa saja memakai cara yang berbeda untuk memecahkan masalah yang kelihatannya sama (Keluaran 17:6, Bilangan 20:8-12). Jadi jangan batasi kuasa Tuhan dengan pikiran kita.

    3. Hidup oleh Roh

    Roma 8:8 "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." Kalau hidup dalam daging -> tidak berkenan, tanpa perkenanan Tuhan -> tidak ada promosi/ next level. Jadi agar bisa berkenan kita harus hidup dalam Roh -> sebagai anak Tuhan tiap hari kita harus belajar untuk melawan keinginan daging dan hidup dalam tuntunan Roh Kudus, inilah yang dinamakan peperangan rohani. Seringkali kita kurang menyadari hal ini, sehingga kita banyak dikalahkan oleh keinginan daging dan roh-roh jahat, akibatnya promosi hanya menjadi harapan bukan kenyataan.

    Inilah pentingnya membangun mezbah pribadi dan keluarga, dengan adanya mezbah maka otomatis ada perlindungan dan tuntunan Roh Kudus atas hidup kita. Semakin sering mezbah kita adakan, akan semakin peka kita pada tuntunan Roh Kudus, yang akan membawa kita dari satu promosi kepada promosi berikutnya, dari satu tingkat ke tingkat lebih tinggi.

    Dalam setiap lomba pasti disediakan hadiah, suatu lomba yang menarik tentu hadiahnya akan sebanding dengan tantangannya; lomba yang mudah, hadiahnya tentu sederhana sedangkan lomba yang penuh resiko, imbalannya tentu hadiah yang besar pula.

    Demikian pula dengan hidup kita. Semakin sulit ujian yang harus kita hadapi, semakin tinggi level yang Tuhan sediakan untuk kita capai. Karena itu, jangan menyerah! Tetap percaya dan andalkan Tuhan saat menghadapi ujian, karena kita tahu dibalik setiap ujian tersedia promosi yang menarik dari Tuhan!

    God bless you!

    Tuesday, July 10, 2012

    Perkenanan ada jika kita hidup berkenan

    Tahun 2012 adalah tahun Perkenanan Tuhan. Setiap perkenanan pasti bicara tentang berkat seperti tertulis dalam Ulangan 33:23a: Tentang Naftali ia berkata: "Naftali kenyang dengan perkenanan dan penuh dengan berkat TUHAN... Jadi perkenanan Tuhan berarti Tuhan dengan senang hati, mengabulkan permintaan, dan memberikan berkat, bukan yang biasa-biasa tapi yang luar biasa!

    Tapi ingat janji Tuhan hanya berlaku jika kita juga mengerjakan bagian kita...ini yang seringkali kita lupakan, kita hanya mau terima berkat-Nya tapi tidak mau melakukan bagian kita, sebagai contoh di ayat ini, Matius 6:26: Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

    Seringkali kita berpikir tidak perlu menabur/menuai, santai saja...tidak perlu kerja keras karena berkat kan dari Tuhan... pendapat itu memang ada betulnya yaitu kita tidak perlu kerja keras, banting tulang, dll seperti orang yang tidak mengenal Tuhan, namun bukan berarti kita tidak perlu usaha semaksimal mungkin. Justrunya sebagai orang yang percaya kita harus berusaha maksimal sekaligus berserah pada kehendak-Nya...itu yang membuat kita tidak perlu 'ngoyo' ...asalkan kita sungguh-sungguh Tuhan pasti akan memberkati.

    Bukan kebetulan Tuhan memakai burung sebagai perumpamaan dalam ayat tersebut, tahukah anda...ada penelitian yang menyelidiki kebiasaan burung-burung dalam mencari makanannya, berikut ini sebagian hasilnya:
    a. Burung Murai, bangun pukul 02.30 pagi kemudian mencari makanan hingga pukul 21.30 (total 19 jam), bolak-balik ke sarang sekitar 200 kali sehari untuk memberi makan anak-anaknya.
    b. Burung Tikus, bangun pukul 03.00 pagi dan bekerja hingga pukul 21.00 (18 jam). Mereka bisa mengumpulkan 400 ekor ulat sehari.
    c. Burung Hitam, bangun pukul 04.00 pagi dan bekerja hingga pukul 21.00 (17 jam). Bolak-balik ke sarang 100 kali sehari untuk memberi makan anak-anaknya.

    Apakah ada yang diantara orang yang percaya yang bekerja seperti burung-burung ini hanya agar bisa makan? Umumnya kita bekerja sekitar 40 jam seminggu atau 8 jam per hari (untuk 5 hari kerja). Berarti benar bukan, bahwa Tuhan memberkati kita melebihi burung-burung itu.

    Ingatlah, kita tidak bisa hanya diam dan berdoa minta Tuhan memberkati secara ajaib...tanpa melakukan apa yang jadi bagian kita, belajarlah dari semangat dan keuletan burung-burung itu.

    Nah, demikian pula perkenanan Tuhan juga bicara soal penerimaan (acceptance) Tuhan atas kita, Tuhan senang atas kita (delight in us); jadi perkenanan Tuhan ada atas kita jika kita sendiri juga melakukan hal yang berkenan kepada-Nya!

    Bagaimana caranya agar kita bisa berkenan kepada-Nya?

    1. Kisah 13:22 Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.

    to whom also he gave their testimony, and said, I have found David the son of Jesse, a man after mine own heart, which shall fulfil all my will.

    A man after mine own heart = seorang pria di hati-Ku, di hati Tuhan…artinya Daud ini seorang yang dekat dengan Tuhan! Punya hubungan yang spesial dengan Tuhan, hubungan yang sangat intim.

    Hal pertama yang harus kita lakukan jika mau berkenan: punya hubungan yang intim dengan Tuhan, caranya? Doa, doa dan DOA.

    Doa adalah satu-satunya cara kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Jika itu kita lakukan setiap saat maka semakin hari tentu kita akan semakin mengenal Dia dan intim dengan-Nya.

    2. Perhatikan kisah Kain & Habel dalam Kej.4:4-5, mereka sama-sama mempersembahkan sesuatu untuk Tuhan, namun hanya persembahan Habel yang diterima Tuhan = Tuhan hanya kerkenan pada Habel.

    Kenapa? Dalam KJV dipakai kata respect -> Tuhan respek/menerima persembahan Habel, Tuhan respek karena Habel juga memberi persembahan dengan respek, dengan hormat, dengan takut akan Tuhan. Ini berhubungan dengan KARAKTER -> Tuhan berkenan pada seseorang karena orang tersebut melakukan hal yang berkenan kepada-Nya!

    Karakter = tabiat/kebiasaan, suatu sistem keyakinan/kebiasaan yang mengarahkan tindakan seseorang, yang terbentuk oleh PIKIRAN. Sejak kecil seseorang dibentuk dari pikiran-pikiran yang dipengaruhi oleh orangtua, keluarga dan sekelilingnya sehingga terciptalah tabiat/kebiasaan itu.

    Bagaimana cara merubah karakter manusia?
    a. Roma 8:8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jadi agar bisa berkenan, kita harus hidup dalam Roh.
    b. Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (KJV: And be not conformed to this world: but be ye transformed by the renewing of your mind, that ye may prove what is that good, and acceptable, and perfect, will of God).

    Hal kedua yang harus dilakukan jika mau berkenan: menjadi manusia baru (pembaharuan pikiran), yang hidup di dalam tuntunan Roh Kudus.

    Galatia 5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

    Tuhan memberkati!

    Wednesday, March 14, 2012

    Hidup dalam Roh

    Perkenanan atau persetujuan berhubungan dengan tindakan seseorang yang mendatangkan persetujuan atau perkenanan tersebut. Contohnya dalam Kejadian 4:3-5 mengenai persembahan Kain dan Habel, dimana Tuhan berkenan kepada persembahan Habel namun tidak pada persembahan Kain.

    Kita dapat melihat bahwa perkenanan tidak ada hubungannya dengan persembahan (karena baik Kain maupun Habel keduanya sama-sama mempersembahkan sesuatu), juga tidak ada hubungannya dengan nilai persembahan (Kain mempersembahkan hasil tanah, sedangkan Habel mempersembahkan lemak dombanya). Kenapa Tuhan berkenan pada persembahan Habel? 1 Samuel 16:7 menjelaskan bahwa Tuhan melihat hati!

    Jadi Tuhan tidak melihat tindakan seseorang secara jasmani melainkan secara rohani, bukan persembahan kita yang menjadi pertimbangan-Nya untuk berkenan melainkan siapa diri kita, bagaimana sikap hati kita yang benar di hadapan-Nya...itulah yang mendatangkan perkenanan-Nya atas kita. Atau secara singkat: perkenanan Tuhan ada pada orang yang benar.

    Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi orang benar?

    PL: Mazmur 37:30-31, orang benar punya taurat Tuhan dalam hatinya, taurat bicara mengenai Hukum Tuhan. Namun hukum Taurat itu tidak mudah untuk dilakukan, sehingga sulit untuk menjadi orang benar sesuai standar hukum Taurat.

    PB: Roma 8:3-4, puji Tuhan...kedatangan Tuhan Yesus ke dunia dan karya penebusan-Nya di kayu salib telah membuat semua tuntutan hukum Taurat itu bisa digenapi asalkan kita tidak hidup menurut daging, melainkan menurut Roh!

    Bahkan dalam Roma 8:8 lebih jelas lagi ditekankan bahwa: Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

    Jadi agar berkenan kepada Allah atau menjadi orang benar, maka kita harus hidup dalam Roh, hidup dipimpin oleh Roh Tuhan.

    Lalu, bagaimana caranya agar bisa hidup dalam Roh?

    1. Galatia 2:20a: namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hal pertama yang harus dilakukan jika mau hidup dalam Roh adalah dengan menerima Kristus untuk hidup dalam diri kita, artinya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Yang dimaksudkan disini bukanlah perkara menjadi orang Kristen atau dibaptis, melainkan kita sebagai pribadi yang sadar bahwa tadinya kita ini adalah manusia berdosa yang kehilangan kemuliaan Allah, mau bertobat (tanpa paksaan apapun, atau adat istiadat, atau alasan apapun) lalu menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

    Menerima Kristus adalah tindakan awal kita untuk bisa hidup dalam Roh, karena saat kita menerima Kristus dan mengijinkan-Nya hidup dalam diri kita maka di saat yang sama kita juga telah menerima Roh Kudus.

    2. Jika dalam hidup jasmani kita memerlukan makanan/minuman rohani untuk bisa bertumbuh dan bertahan hidup, maka hal yang sama juga diperlukan saat kita hidup dalam Roh. Berapa kali kita makan dalam sehari? Umumnya 3x, makan pagi, siang dan malam...tapi coba kita introspeksi diri kita, berapa kali kita makan makanan rohani dalam sehari?

    Hal kedua yang harus dilakukan jika mau hidup dalam Roh adalah makan & minum secara rohani, dan itu berarti sering membaca, merenungkan, melakukan Firman Tuhan serta membangun hubungan pribadi dengan Tuhan (doa, saat teduh).

    3. Galatia 2:20b: Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Hal ketiga yang harus dilakukan adalah hidup oleh iman dalam Yesus Kristus.

    Ibrani 11:6 menegaskan bahwa: tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.

    Kita telah hidup sebagai anak Tuhan walaupun masih tinggal dalam dunia ini, jadi cara hidup kita bukanlah cara hidup yang lama: jika sudah melihat baru percaya, jika sudah mengerti baru melakukan; hidup yang baru sebagai anak Tuhan adalah berjalan bersama Dia dan itu membutuhkan iman, karena seringkali kita belum melihat atau tidak mengerti Dia namun karena percaya kepada-Nya maka kita taat dan melakukan...itulah iman! Jika mengerti baru melakukan itu bukan iman melainkan pengetahuan.

    4. Saat ini kita hidup di akhir jaman, dan perihal ini diumpamakan dalam Matius 25 seperti 5 gadis bijak dan 5 gadis bodoh, mengenai 2 tipe gadis ini bisa kita simpulkan bahwa:
    - Keduanya sama-sama punya minyak, minyak = urapan Roh Kudus.
    - Perbedaanya, yang bijak punya persediaan minyak, sedangkan yang bodoh tidak punya.

    Persediaan minyak ini = kepenuhan Roh Kudus, Efesus 5:18 mencatat: hendaklah kamu penuh dengan Roh. Kepenuhan Roh Kudus hanya bisa diperoleh melalui pergaulan/hubungan yang intim dengan Tuhan...inilah hal keempat yang harus dilakukan.

    Saat kita penuh dengan Roh Kudus maka tidak mungkin lagi kita berbuat dosa, ada kuasa Roh yang kuat yang menegur, mengingatkan bahkan mencegah kita untuk berdosa!
    Semakin kita penuh Roh akan semakin kuat kuasa itu bekerja dalam hidup kita dan otomatis hidup kita menjadi benar.

    Yesaya 59:1-2: Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

    Saat hidup kita benar atau tidak berdosa (ada pemberesan setiap saat atas dosa-dosa kita) maka yang terjadi adalah tangan TUHAN akan menyelamatkan dan Dia mendengar setiap seruan kita...bukankah itu sama dengan perkenanan-Nya atas kita.

    Tuhan memberkati!

    Sunday, February 19, 2012

    Gaya Hidup yang Berkenan

    Perkenanan bicara mengenai persetujuan, perkenanan Tuhan berarti ada penyertaan dan berkat khusus dari Tuhan untuk kita. Itu berarti Tuhan akan membuat perjalanan kita berhasil karena Dia sendiri yang menuntun dan menetapkan langkah kita.

    Ada banyak contoh dari tokoh-tokoh Alkitab yang mendapatkan perkenanan Tuhan antara lain:
    a. Habel, Kejadian 4:3-5
    b. Nuh, Kejadian 8:20-21, 9:1
    c. Daud, Kisah 13:22

    Dari kisah hidup tokoh-tokoh Alkitab itu bisa ditarik satu benang merah yang menghubungkan mereka semua, suatu tindakan yang menyebabkan perkenanan Tuhan ada dalam hidup mereka.

    Benang merah itu adalah gaya hidup mereka yang berkenan di mata Tuhan! Mereka melakukan apa yang berkenan di mata Tuhan (pribadi mereka sendiri yang berkenan kepada-Nya, bukan apa yang mereka persembahkan) sehingga perkenanan Tuhan pun dicurahkan bagi mereka.

    Tahun 2012 adalah kairos Tuhan, tahun Perkenanan Tuhan; jika kita mau mendapatkan perkenanan Tuhan maka satu-satunya cara hanya dengan hidup berkenan di mata Tuhan.

    Bagaimana caranya hidup berkenan kepada Tuhan?

    1. Dalam 1 Samuel 15:22 dikatakan: mendengar lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba jantan (persembahan terbaik, ingat kiash Habel). Dalam KJV, lebih jelas lagi: ketaatan lebih baik dari pengorbanan, mendengarkan lebih baik dari lemak domba jantan. Hal pertama yang harus dilakukan jika mau hidup berkenan di mata Tuhan: mendengarkan Firman dan menaatinya!

    2. Mazmur 5:5 Tuhan kita bukanlah Allah yang berkenan pada orang fasik/jahat, dengan kata lain Tuhan berkenan pada orang benar. Bahkan di Mazmur 37:23-24 dikatakan (dan juga ada nyanyiannya):

    TUHAN menetapkan langkah-langkah orang
    yang hidupnya berkenan kepada-Nya;
    apabila ia jatuh, tak sampai tergeletak,
    sebab TUHAN menopang tangannya.


    Siapa yang dimaksud orang benar itu? Jawabannya ada di Mazmur 37 ayat 25-28, 30-31, orang benar adalah orang yang menjauhi hal yang jahat, melakukan yang baik, punya belas kasihan, menjadi berkat bagi sekitarnya, mulutnya penuh hikmat, lidahnya memperkatakan hukum dan dalam hatinya ada hukum Tuhan yang menuntun langkah hidupnya.

    Lebih jelas lagi dalam Roma 8:8 dikatakan, bahwa: "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." Jadi orang benar itu adalah orang yang hidupnya dipimpin oleh hukum Tuhan dalam hatinya yaitu hidup dalam Roh Allah.

    Hal kedua yang harus kita lakukan agar berkenan di mata-Nya: hidup benar = hidup dipimpin oleh Roh Allah.

    3. Ibrani 11:5-6, Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.

    Dalam sejarah PL, hanya 2 orang yang tercatat tidak mengalami kematian jasmani, mereka diangkat oleh Allah ke sorga dan salah satunya adalah Henokh. Dia diangkat karena berkenan kepada Tuhan, apa sebabnya Henokh berkenan? Alkitab mencatat karena Henokh hidup dengan beriman kepada Tuhan.

    Hal ketiga yang harus dilakukan jika mau hidup berkenan kepada Tuhan: hidup oleh iman!

    Jadi jika kita mau ada perkenanan Tuhan dalam hidup kita, marilah kita juga punya gaya hidup yang berkenan kepada-Nya, hidup dengan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya.

    Tuhan memberkati...