Monday, May 17, 2010

Orang Bijak dan Orang Bodoh

Matius 7:24-27












Dalam kisah ini ada 2 tipe orang: orang bijak dan orang bodoh.
Ada hal-hal yang sama dari keduanya, antara lain:

  • Keduanya mendengar perkataan/Firman Tuhan Yesus = orang Kristen (masa kini),
  • Keduanya sama-sama mendirikan rumah = membangun hidup (rohani),
  • Keduanya sama-sama kena hujan, banjir dan angin (hujan badai) = masalah/persoalan.

Menjadi anak Tuhan bukan berarti bebas dari masalah, karena Tuhan tidak berjanji membebaskan kita dari masalah tapi yang Tuhan janjikan adalah jalan keluar untuk setiap masalah kita (Mat 11:28)

Lalu ada hal yang membedakan keduanya:

  • Yang bijak: melakukan Firman Tuhan = mendirikan rumah diatas batu.
  • Yang bodoh: tidak melakukan Firman Tuhan = mendirikan rumah diatas pasir.

Jadi, kedua orang tersebut adalah orang-orang yang percaya... mereka mengikut Yesus dan mendengar Firman Tuhan tapi mereka tidak sama dalam hal mendirikan rumah (melakukan Firman dalam kehidupannya).

Yang bijak membangun rumah diatas batu, batu bicara suatu dasar yang kuat dan teguh, Kisah 4:11 Yesus adalah batu penjuru, 1 Korintus 10:4 batu karang itu ialah Kristus, Efesus 2:20 dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.; Yohanes 1:1 Tuhan Yesus adalah Firman, berarti orang bijak membangun hidupnya atas dasar Firman Tuhan, tapi bukan hanya menjadi pendengar, dia pun menjadi pelaku Firman itu (Matius 7:24).

Yang bodoh, membangun rumah diatas pasir, pasir bicara sesuatu yang mudah luntur, mudah hanyut oleh air/masalah, berarti orang yang bodoh hanya mendengar Firman Tuhan tapi tidak melakukannya dalam kehidupan.

Apa artinya menjadi pelaku Firman?
Pelaku Firman berarti kita melakukan apa saja yang diperintahkan dalam Firman Tuhan; sebelum menjadi pelaku tentunya kita terlebih dulu harus menjadi pendengar (tidak mungkin kita melakukan jika belum pernah mendengarkan bukan?). Nah pada saat kita mendengar Firman Tuhan itu sama halnya dengan mulai menimbulkan iman kita (Roma 10:17).

Tapi menjadi pendengar saja tidak cukup... karena kita juga harus membangun iman kita, itulah gunanya menjadi pelaku Firman. Jika kita hanya mendengar, iman hanya pada tahap timbul (atau saya istilahkan dengan percaya), tapi saat kita mulai melakukannya maka iman mulai terbangun...

Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Jadi iman tidak sama persis dengan percaya; dalam bahasa Inggrisnya, iman: FAITH, sedangkan percaya: BELIEVE.

  • Kita percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita… itu disebut BELIEVE
  • Kita percaya Dia sanggup menyembuhkan, sanggup membuat kita keluar dari masalah… itu disebut BELIEVE.

Iman lebih dari percaya, faith more than believe...
Iman memang dimulai dari percaya tapi ada kelanjutannya, karena itu iman lebih dari sekedar percaya, iman berarti bertindak percaya walau belum melihat (tapi bedakan pula antara iman dengan nekad, he..he... iman dari percaya, nekad dari untung-untungan).

  • Saat kita sedang ada dalam masalah, apakah kita tetap percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup menolong? Tetap percaya sampai masalah itu selesai... itu yang disebut FAITH
  • Saat dalam persoalan seolah tidak ada jalan keluar, tapi tetap percaya sampai ada jalan keluar... itu yang disebut FAITH
  • Tetap percaya apa yang Tuhan janjikan akan terjadi walaupun belum terjadi… itu FAITH !

Saat keadaan kita tanpa masalah, iman kita mungkin belum teruji, tapi pada saat kita dalam masalah barulah terlihat perbedaannya antara orang yang hanya percaya dan orang yang beriman.

Jadi kenapa Tuhan ijinkan ada masalah dalam kehidupan kita?
Salah satu alasannya adalah untuk pembuktian dan pembangunan iman kita.

Perhatikan dalam Hakim 20:18-25, dimana dikisahkan: pada hari pertama, orang Israel berdoa dan mendapat konfirmasi dari Tuhan untuk maju berperang melawan bani Benyamin... tapi kemudian mereka kalah, lalu untuk kedua kalinya mereka berdoa kembali dan mendapat konfirmasi dari Tuhan untuk berperang tapi kalah lagi...

Andaikan kita berada di posisi mereka, dimana setelah mendapat dua kali konfirmasi tapi tetap kalah... Apakah kita tetap beriman pada Tuhan? Tidakkah kita menyangsikan konfirmasi itu? Atau jangan-jangan kita salah dengar??

Selanjutnya, dalam Hakim 20:26-35, setelah dua kali kalah, orang Israel tetap datang pada Tuhan bahkan kali ini dengan seluruh bangsa, dengan lebih tekun mereka berdoa puasa dan semalaman, berdoa untuk yang ketiga kalinya dan kembali mendapat konfirmasi dari Tuhan... Kali ini mereka tidak lagi kalah melainkan menang!! itulah IMAN... tetap percaya pada Tuhan, sampai akhir!

Jika iman kita besar maka kita akan memperoleh berkat dalam skala mujizat, bukan yang biasa-biasa saja. Dan hanya orang bijak yang akan memperolehnya...

sharing

Monday, May 3, 2010

Berkat dalam Hujan

“Aku akan menjadikan mereka dan semua yang di sekitar gunung-Ku menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat.” (Yehezkiel 34:26)

Jika anda diajukan sebuah pertanyaan, apakah hujan itu suatu berkat bagi anda? Anda tentu tidak langsung menjawab iya, semuanya tergantung situasi yang ada... kapan saatnya hujan itu turun. Jika hujan turun terus menerus, anda tentu berharap hujan berhenti agar tidak terjadi banjir.

Ada sebuah cerita tentang pasangan yang akan melakukan sesi foto pre-wedding di kawasan Kawah Putih, Bandung karena mereka begitu terkesan dengan hasil foto pasangan lain disana. Dalam perjalanan ternyata hujan turun dengan derasnya. Mereka berdoa agar hujan segera reda sehingga acara pemotretan dapat berlangsung dengan baik.

Tapi hujan tidak kunjung reda. Mereka gelisah apalagi hari itu adalah satu-satunya kesempatan untuk melakukan sesi pemotretan. Sesampainya disana, hujan belum juga reda, malah ada kabut yang turun. Dalam situasi begini yang terpikirkan oleh mereka acara pemotretan bisa berantakan, tapi karena tidak ada kesempatan lain mereka tetap melakukan sesi pemotretan tersebut.

Dua jam berlalu, akhirnya semuanya selesai. Hujan masih juga turun. Sang fotografer sebenarnya ragu dengan hasil karyanya karena dia belum pernah melakukan pemotretan di kala hujan. Tapi apa yang terjadi? Hasil foto itu ternyata luar biasa seperti yang mereka idamkan. Hujan yang turun justru menghapus kabut yang ada sehingga tercipta nuansa yang unik sebagai latar belakang, yang terbentuk dari kombinasi latar kabut dan basahan hujan yang turun.

Sebagai manusia, kita pasti berpikir bahwa saat yang terbaik untuk sesi pemotretan adalah saat cuaca cerah dan tidak ada hujan. Tapi Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Apa yang Tuhan lakukan untuk kita pasti tepat waktunya karena Dia tidak pernah salah dan tidak pernah terlambat.

Hujan yang Tuhan turunkan pada waktunya, pastilah hujan yang membawa berkat. Waktu kita bukanlah waktunya Tuhan, Dia lebih tahu saat yang tepat untuk mencurahkan hujan berkat-Nya bagi kita.

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya

GBU ^,^

Friday, April 23, 2010

Baptisan

Pernahkah terpikir... kenapa sebagai orang yang percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita harus melakukan baptisan?
Mari kita lihat dalam Matius 3:13-15, dari ayat tersebut kita tahu bahwa Yesus datang dari Galilea ke Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Yohanes mencegah-Nya namun perhatikan jawaban Yesus di ayat 15: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah."
Jadi kenapa Tuhan Yesus dibaptis?
Jawabannya sederhana, yaitu untuk menggenapi kehendak Allah.

Lalu kenapa kita harus dibaptis? Kita lihat dalam Matius 28:18-20, dan perhatikan amanat Tuhan Yesus dalam ayat 19: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
Jadi kenapa kita dibaptis? Jawabannya juga sederhana, karena Tuhan Yesus menyuruh demikian.

Alasan kita dibaptis memang sederhana yaitu mengikuti perintah Tuhan; tapi itu mengandung makna ketaatan kita kepada-Nya sama seperti yang dicontohkan Yesus yang menggenapi kehendak Allah. Walaupun sederhana, tapi baptisan memiliki banyak arti. Berikut ini 4 arti tentang Baptisan:

  1. Persatuan dengan Kristus
    Dengan dibaptis maka kita menjadi bagian dari Kristus. Rasul Paulus berkata dalam Roma 6:3, 5 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?... Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.
  2. Penggabungan ke dalam Tubuh Kristus
    1 Korintus 12:13, semua orang percaya apapun ras dan latar belakangnya setelah dibaptis akan menjadi satu tubuh Kristus yaitu Gereja, jadi melalui baptisan, kita semua menjadi satu saudara dalam Kristus, jadi suku Kristus!
  3. Pengampunan Dosa
    Ini adalah arti baptisan yang umum, kita tahu bahwa air digunakan untuk mencuci, sama dengan baptisan air, itu merupakan gambaran pencucian atas dosa kita, karena baptisan adalah soal pertobatan, perubahan arah hidup seseorang; Rasul Petrus menulis dalam Kisah 2:38 "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu..."
  4. Lahir Baru
    Pengertian ini menumbuhkan kebenaran bahwa baptisan adalah hadiah. Ini bukan sesuatu yang kita lakukan untuk diri kita sendiri. Sama seperti halnya saat kita lahir ke dunia, tidak ada satupun dari kita yang pernah meminta untuk dilahirkan. Lahir adalah hadiah, karena itu baptisan/lahir baru juga hadiah dari Tuhan untuk kita.

    Pembaptisan adalah kelahiran baru orang percaya menjadi ciptaan yang baru, II Korintus 5:17. Setelah dibaptis maka saudara akan mengalami kelahiran baru menjadi anak Allah, ahli waris Kerajaan Sorga.
    Yohanes 3:3 menulis, Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.
    Titus 3:5 menyampaikan, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Demikianlah 4 arti baptisan, biarlah hal ini memberikan pengertian bagi kita semua bahwa jika kita bisa dibaptis itu semua karena hadiah dan anugerah-Nya, bukan karena hasil usaha kita sendiri melainkan hasil karya Roh Kudus.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan hal ini...

  • Jika kita tadinya adalah rakyat biasa, tapi kemudian diangkat menjadi pejabat penting di pemerintahan, apakah kita masih bisa hidup sebagai rakyat biasa? Ataukah hidup sesuai dengan fasilitas yang ada?
  • Apalagi jika kita diangkat menjadi anak raja, ahli waris kerajaan, apakah kita tetap hidup dengan gaya hidup yang lama ataukah dengan gaya hidup yang baru?

Biarlah melalui Baptisan, kita sadar bahwa dilahirkan menjadi ciptaan yang baru, menjadi anak Allah, ahli waris Kerajaan Sorga, yang berarti: cara hidup sebagai manusia yang lama sudah mati saat kita dicelupkan, dan digantikan dengan cara hidup yang baru sebagai anak Allah saat diangkat dari kolam baptisan...

sharing

Sunday, March 21, 2010

Kisah Orang Muda yang Kaya

Mat 19:16-22












ayat 16: Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Dari Firman diatas, ada 3 hal yang Yesus ajarkan untuk diperbuat agar kita memperoleh hidup yang kekal:

  1. Ayat 17b: Hanya Satu yang baik, KJV: there is none good but one, that is, God
    Bukan perbuatan baik kita yang menyelamatkan, tapi hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan karena hanya Dia yang baik!

    Yohanes 3:16, 14:6 menuliskan bahwa: hidup kekal hanya didapat melalui Tuhan Yesus Kristus. Jadi, pengajaran yang pertama, Percaya & Terima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Pribadi! Inilah iman keselamatan.

  2. Ayat 17c: Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah. Perintah Allah yang mana?
    Semua yang tertulis dalam ayat 18-19... dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai Perintah Allah; jadi Perintah Allah adalah 10 Firman Tuhan, The Ten Commandment.

    Yang jadi pertanyaan buat kita, apakah kita sudah lakukan ke-10 Perintah Tuhan itu?
    Kita mungkin berpikir itu kan perintah Tuhan di jaman PL, saat ini kita tidak hidup dibawah hukum Taurat lagi tapi di jaman Kasih Anugerah, jadi tidak perlu melakukan hukum Taurat, benar/salah?

    Ada Firman Tuhan mengenai hukum Taurat ini di dalam Matius 5:17-20,
    Tertulis: bahwa Tuhan Yesus bukan datang untuk meniadakan hukum Taurat tapi untuk menggenapinya... menggenapi, KJV: fulfill = melaksanakan, memenuhi, menepati, menyelesaikan. Artinya Tuhan Yesus datang untuk memenuhi apa yang dituntut oleh hukum Taurat, dengan menjadi korban penebus dosa, sekali untuk selamanya.

    Tuhan juga berkata siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat, akan duduk di tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Sorga, yang melakukan dan yang mengajarkannya akan menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Sorga.
    Bahkan di ayat 20 disampaikan: jika hidup rohani kita tidak lebih benar dari hidup ahli Taurat & orang Farisi, kita tidak akan masuk dalam Kerajaan Sorga.

    Jadi hal kedua yang harus dilakukan adalah Menuruti Firman Tuhan = jadi pelaku Firman
  3. Kembali ke Matius 19:20, orang muda itu berkata: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" berarti kesepuluh perintah Tuhan sudah dilakukan oleh orang muda tersebut, sehingga bisa dikatakan... menurut hukum Taurat maka orang muda ini sudah sempurna, tapi di ayat 21, Tuhan menjawab: Jikalau engkau hendak sempurna... kenapa Tuhan masih bilang jika hendak sempurna?

    Anak muda ini adalah keturunan Yahudi, yang sejak kecil sudah dilatih cara hidup sesuai hukum Taurat, 10 Perintah Tuhan. Tapi perhatikan apa kata Firman Tuhan tentang cara hidup ahli Taurat & orang Farisi, dalam Matius 23:27, ...luarnya tampak bersih tapi dalamnya penuh kotoran.
    Apa yang dilakukan melalui hukum Taurat hanya mengubah secara lahiriah tapi belum sampai mengubah hingga ke dalam, yaitu: hati !

    Jadi kenapa Tuhan Yesus mengatakan jika hendak sempurna... berarti masih ada yang kurang... Tuhan tahu masih ada hal yang belum beres dalam diri anak muda ini... apa yang belum beres itu? Mari kita lanjutkan dalam ayat 21, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

    Tuhan minta orang muda ini menjual hartanya, Tuhan tahu dia seorang yang banyak hartanya, tapi bukan banyak harta yang menjadi dosanya... banyak harta bukan dosa, tapi yang belum beres dalam diri orang muda ini adalah karena hatinya masih terikat dengan hartanya.

    Jika dosa diumpamakan seperti rumput, seringkali kita berusaha memotong rumput-rumput tersebut, tapi apa yang terjadi jika rumput dipotong? Tidak lama kemudian, rumput itu akan bertumbuh lagi...
    Jika tidak mau rumput itu bertumbuh lagi maka satu-satunya cara hanya dengan... mencabut rumput sampai ke akar-akarnya! Demikianlah pula dengan dosa, harus dicabut sampai ke akar-akarnya...

    Apa akar dari kejahatan/dosa? 1 Timotius 6:10a

    Hal ketiga yang harus dilakukan: Bereskan hati dari kejahatan/dosa, jangan cinta uang...
    Bagaimana caranya membereskan cinta uang? yaitu dengan menjual segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin... = belajar untuk memberi!

    Siapa saja yang harus memberi? Apakah hanya orang muda yang kaya?
    Setiap dari kita yang percaya harus mulai memberi...
    Ada beberapa tingkatan dalam memberi:
    - Tingkat I: membawa persembahan persepuluhan (Mal 3:10)
    - Tingkat II: memberi seperlima (Kisah Yusuf di Kej 47:24)
    - Tingkat III: memberi setengah (Kisah Zakheus di Luk 19:8)
    - Tingkat IV: memberi seluruhnya (Kisah Maria di Yoh 12 :3, 5)

Hukum yang terutama adalah: Matius 22:37 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Perhatikan kata: segenap, dalam KJV: all = semua = seluruhnya = 100%

Tuhan tidak membutuhkan harta kita, justru Dia adalah Allah... sumber segala berkat, lalu kenapa Dia minta segenap yang kita miliki = 100%? Ingatkah kisah Janda dari Sarfat yang kekurangan dan hanya punya segenggam tepung & sedikit minyak (1 Raja 17:12)... Sedikit tepung & minyak itu = 100% nya si Janda Sarfat jika disejajarkan dengan minyak narwastunya Maria... kalau dalam kisah orang muda yang kaya, maka 100%-nya adalah semua hartanya.

Baik Janda Sarfat maupun orang muda kaya mengenal Tuhan, dan tahu bahwa Tuhan menyertai dan memberkati mereka. Tapi pilihan yang mereka ambil berbeda… Janda Sarfat memilih untuk memberi & melakukan, sedangkan anak muda itu memilih untuk pergi dan meninggalkan Tuhan. Tapi lihatlah kisah selanjutnya dari sang Janda Sarfat, saat dia memberi segalanya maka Tuhan tidak meninggalkannya, bahkan Tuhan memberkatinya dengan mujizat! Tuhan minta 100% kita untuk menguji hati kita, apakah kita masih terikat dengan apa yang ada di dunia ini... Bukankah jika kita ingin ada di sorga maka kita tidak perlu terikat dengan apa yang ada di dunia?

Apa yang telah menjadi 100%-nya kita? Berikanlah 100% itu buat Tuhan... maka kita juga akan diberkati bahkan beroleh hidup yang kekal !

sharing

Wednesday, March 3, 2010

Satu Kunci Kebahagiaan Pernikahan

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikitpun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ibu bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam pernikahan, ayah tidak memahami ibu.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur dan suka larut dalam dunia buku.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut rumah. Ayah menyatakan ketidakbahagiannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi yang menyatakan kepedihan yang dijalaninya dalam pernikahan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat dan mendengar ketidakberdayaan dalam pernikahan orangtua, tapi sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan sebenarnya mereka layak mendapatkan sebuah pernikahan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan pernikahan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku bertumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri: DUA ORANG YANG BAIK, KENAPA TIDAK MENDAPATKAN PERNIKAHAN YANG BAHAGIA?

Setelah dewasa dan memasuki pernikahan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui jawaban atas pertanyaan diatas…

Di masa awal pernikahan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, saya menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara pernikahan. Anehnya, saya tidak merasa bahagia dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak… lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia.

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata, “Istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik.” Dengan mimik tidak senang saya berkata, “Apa kau tidak melihat kalau rumah masih belum beres, anak-anak belum menyiapkan perlengkapannya?”

Tapi begitu kata-kata itu terlontar, saya pun termenung dalam hati… ternyata kata-kata itu tidak asing di telinga saya, dalam pernikahan orangtua saya, ibu juga kerap berkata yang sama kepada ayah. Saya seperti sedang mempertunjukkan kembali pernikahan orangtua, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam pernikahan mereka.

Kesadaran muncul dalam hati saya... Apa yang kamu inginkan? Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya. Ayah tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam pernikahannya... Waktu ibu menyikat panci dan mengurus rumah lebih lama daripada menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan pernikahan, ia mau memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, malah sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku, cara saya juga sama seperti ibu, pernikahan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan pernikahan yang bahagia.

Kesadaran… membuat saya bertanya pada suamiku, “Apa yang kau butuhkan, suamiku?”
“Aku membutuhkanmu untuk menemaniku, mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku,” ujar suamiku.

“Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu... dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.”

“Semua itu tidak penting lah!” ujar suamiku. “Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.” Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami terus menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memakai cara masing-masing untuk mencintai, namun bukan cara yang dikehendaki oleh pasangan.

Sejak itu, saya belajar membuat daftar kebutuhan suami, dan meletakkannya di atas meja buku, begitu pula dengan suami, dia juga membuat sebuah daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya: waktu senggang menemani suami mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan dan ciuman selamat jalan bila berangkat. Beberapa hal itu cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang sulit, seperti: dengarkan aku, jangan memberi komentar, dan lainnya.

Bagi saya ini sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengurus rumah, dan saat kebutuhan kami ini terpuaskan maka pernikahan yang kami jalani kian hari juga semakin penuh daya hidup.

Hai suami-istri, tanyakanlah pada pasanganmu: apa yang kau inginkan? Komunikasi akan menyiapkan jalan kebahagiaan dalam pernikahan. Sehingga keduanya akan melangkah dalam jalan bahagia yang memberi kehidupan dalam pernikahan.

Kini, saya tahu kenapa pernikahan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka bersikeras menggunakan cara masing-masing dalam mencintai pasangannya, tapi bukan mencintai sesuai keinginan pasangannya.


Tuhanlah yang menciptakan lembaga pernikahan, setiap pasangan pantas dan layak memiliki sebuah pernikahan yang bahagia, asalkan cara yang kita lakukan itu tepat. Memberi bukan atas kehendak kita sendiri, tapi atas apa yang pasangan kita kehendaki.

Demikianlah seperti yang tertulis dalam Efesus 5:32, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat.” Bukankah hubungan pasangan suami-istri dalam pernikahan melambangkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya? Seperti itu juga yang Tuhan mau untuk kita... mempelai-Nya... lakukan yaitu agar kita melakukan apa yang Dia kehendaki bukan yang kita kehendaki.

Tuhan memberkati!

Thursday, February 11, 2010

Pemulihan dan Kelimpahan

Tahun 2010 adalah tahun pemulihan dan kelimpahan, percayakah kita akan hal ini?
Janji Tuhan adalah janji yang luar biasa, tapi kenapa masih ada anak-anak Tuhan yang hidupnya pas-pasan, bahkan kekurangan. Apa penyebabnya? Mari kita lihat dalam Firman Tuhan…

Yoel 1:4 Apa yang ditinggalkan belalang pengerip telah dimakan belalang pindahan, apa yang ditinggalkan belalang pindahan telah dimakan belalang pelompat, dan apa yang ditinggalkan belalang pelompat telah dimakan belalang pelahap.

Dalam Alkitab, ada 41 ayat yang berhubungan dengan kata belalang, dan 37 diantaranya terdapat dlm PL. Belalang dalam PL kebanyakan dihubungkan dengan bencana musnahnya tanaman (kehilangan berkat) dan murka Allah. Ingat pada Tulah Mesir? Tulah yang ke-8 adalah wabah belalang (Kel 10:13-15), the locust.

Belalang secara umum terdiri dari 2 kelompok:

  1. Belalang pelari (cursoria): dipandang najis sesuai Imamat 11:20-23.
  2. Belalang pelempar (saltatoria), cirinya memiliki paha diatas kakinya untuk melompat: tidak najis.

Ada banyak jenis belalang di dunia ini, puluhan hingga ratusan macam, Yoel 1:4 diatas hanya menggambarkan 4 dari banyak jenis belalang di dunia ini. Dan menurut Imamat, ada jenis belalang yang boleh dan bisa dimakan... contoh: Yohanes Pembaptis yang memakan belalang (Matius 3:4).

Tapi apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan belalang-belalang dalam Yoel 1:4 tersebut?

KJV, Yoel 1:4 That which the palmerworm hath left hath the locust eaten; and that which the locust hath left hath the cankerworm eaten; and that which the cankerworm hath left hath the caterpillar eaten.

• Belalang pengerip (the palmerworm), ibrani: GAZAM, memotong
• Belalang pindahan (the locust), ibrani: ARBEH, istilah yang umum
• Belalang pelompat (the cankerworm), ibrani: YELEQ, menjilat
• Belalang pelahap (the caterpillar), ibrani: KHASIL, memakan

Berbagai jenis belalang ini adalah hama bagi produk perkebunan/sawah, karena menimbulkan kerusakan dan kerugian.

Kenapa kita membahas belalang? Karena belalang adalah salah satu pencuri berkat dalam hidup kita, khususnya berkat ekonomi. Perhatikan hal-hal yang dirusak oleh belalang adalah sektor pangan, salah satu kebutuhan utama manusia.

Apa saja akibat dari adanya ‘belalang’ dalam hidup kita?

  1. Ulangan 28:38: banyak benih yang ditabur tapi sedikit hasil yang dituai, kekurangan, tekor;
  2. Mazmur 103:34-35: segala tanaman/tumbuhan dan hasil tanah habis dimakan (tidak ada sisa), II Tawarikh 7:13: belalang memakan habis hasil bumi, hasil nol;
  3. Yoel 1:4: tekor/minus, habis-habisan, masih ditimpa masalah silih berganti.

Jadi walaupun sudah bekerja keras: menabur, menanam tapi hasilnya menuai sedikit, atau habis (tidak ada sisa) atau bahkan kekurangan; dan terus menerus ada masalah dalam hidupnya, itu tandanya masih ada ‘belalang’ di hidup orang tersebut.

Kenapa ‘belalang’ bisa ada dalam kehidupan kita?

  1. Keluaran 10:3-4: tidak merendahkan diri (ada dosa yang tidak dibereskan) dan tidak beribadah pada Tuhan;
  2. Maleakhi 3:8-11: tidak membawa persembahan persepuluhan.

Bagaimana caranya agar ‘belalang’ diusir dari hidup kita?

  1. II Tawarikh 7:14: merendahkan diri, berdoa & mencari wajah Tuhan, lalu berbalik dari jalan yang jahat, Tuhan akan mendengar doa kita, mengampuni dan memulihkan!
  2. Maleakhi 3:10-11: membawa persembahan persepuluhan ke rumah Tuhan!

Kalau sudah tidak ada belalang maka yang akan terjadi adalah berkat PEMULIHAN & KELIMPAHAN seperti dalam Yoel 2:25-26

Sebagai penutup, renungkanlah hal ini... ada 2 pilihan dalam hidup kita soal belalang ini,

  1. Dimakan belalang, pilihan ini terjadi jika kita hidup tidak sesuai dengan Firman-Nya.
  2. Memakan belalang, pilihan ini yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, dan harusnya ini yang kita buat...

Mari kita makan dan sikat semua belalang dalam hidup kita dengan melakukan apa yang difirmankan-Nya, sehingga tidak ada lagi belalang dalam hidup kita dan Yoel 2:25-26 “Pemulihan & Kelimpahan” terjadi!

sharing