Monday, July 12, 2010

Ramuan Kasih Mertua & Menantu

Hubungan antara mertua dan menantu memang menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan karena tidak sedikit orang yang memiliki masalah dalam hubungan tersebut, khususnya antara mertua perempuan dengan menantu perempuannya. Bahkan mungkin ada orang-orang yang pernah berdoa demikian, "Tuhan, berikanlah aku seorang pasangan. Namun tolonglah agar pasanganku itu sudah tidak punya orang tua lagi...," agar mereka dapat menghindari masalah tersebut.

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab munculnya masalah ini, bisa karena cemburu, beda pendapat, beda kebiasaan, atau hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Menantu sering berpikir, bagaimana caranya membuat sang mertua bersikap baik kepada mereka. Sedangkan mertua juga berpikir, bagaimana membuat sang menantu menghormati dan menyayangi mereka.

Apa pun sebabnya, di dalam Tuhan setiap masalah tentu bisa diselesaikan dan selalu ada cara supaya hubungan menantu dan mertua menjadi manis. Sebenarnya untuk menjadikan mertua atau menantu bersikap baik, itu lebih bergantung pada sikap anda sendiri. Bukankah firman Tuhan ”the golden rule” dalam Matius 7:12 berkata, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

Alkisah ada seorang wanita muda yang baru menikah dan tinggal di rumah mertuanya. Dalam waktu singkat, si menantu menyadari bahwa ia sangat tidak cocok dengan ibu mertuanya. Karakter mereka jauh berbeda. Hari berganti hari, menantu dan mertua itu tidak pernah berhenti berdebat atau bertengkar. Semua kemarahan dan ketidakbahagiaan di dalam rumah menyebabkan hati si suami menjadi sedih.

Karena sudah tidak tahan lagi terhadap sifat ibu mertuanya, si menantu berpikir untuk melakukan sesuatu. Ia pergil menjumpai seorang tabib dan menceritakan masalahnya, kemudian minta dibuatkan racun yang kuat untuk ibu mertuanya. Sang tabib berpikir keras sejenak, lalu berkata, "Nak, saya mau membantumu tetapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa pun yang saya sarankan." "Baik pak tabib, saya akan mengikuti apa saja yang bapak katakan untuk saya perbuat," jawab si menantu.

Sang tabib masuk ke dalam dan kembali dengan sebungkus ramuan. "Kamu tidak bisa memakai racun ini sekaligus, hal itu akan membuat semua orang curiga. Saya memberimu ramuan khusus yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun di dalam tubuhnya. Setiap hari, kamu harus menyediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan ini ke dalamnya. Lalu, agar tidak ada yang curiga, kamu harus hati-hati dan bersikap sangat baik kepadanya. Jangan berdebat dengan mertuamu, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti ibumu sendiri," katanya menjelaskan.

Si menantu sangat senang dan pulang ke rumah untuk melaksanakan rencananya. Setiap hari ia melayani mertuanya dengan makanan yang enak-enak, yang sudah dibubuhi racun dari si tabib. Agar tidak mencurigakan, ia belajar untuk mengendalikan amarahnya, menaati ibu mertuanya, dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri. Setelah enam bulan lewat, suasana di rumah itu berubah drastis. Si menantu sudah bisa mengendalikan emosinya dan menyadari bahwa selama enam bulan terakhir ia tidak lagi marah atau kesal dengan mertuanya, karena mertuanya kini tampak lebih ramah kepadanya. Sikap si ibu mertua terhadap menantunya juga berubah, ia mulai mencintai sang menantu seperti putrinya sendiri. Ia bahkan menceritakan kepada teman-teman dan sanak familinya bahwa menantunya adalah menantu yang paling baik di dunia. Si menantu perempuan dan ibu mertuanya berlaku layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya.

Suatu hari, dengan tergesa-gesa si menantu pergi menjumpai tabib untuk meminta bantuannya sekali lagi. "Pak, tolong saya untuk mencegah agar racun yang telah saya berikan kepada mertua saya tidak sampai membunuhnya. Beliau telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu baik, sehingga saya mencintainya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya,” katanya memohon. "Nak, tidak ada yang perlu kau kuatirkan. Saya tidak pernah memberimu racun. Ramuan yang saya berikan itu hanyalah untuk menjaga kesehatan beliau. Satu-satunya racun yang ada, hanyalah yang terdapat di dalam pikiran dan sikapmu terhadap beliau. Tetapi semuanya itu telah dibersihkan oleh cinta yang kau berikan kepadanya," jawab sang tabib sambil tersenyum

Jika antara menantu dan mertua ada perhatian, saling mengasihi, dan bersikap baik seperti orang tua dan anaknya sendiri, pastilah akan tercipta hubungan yang indah antara menantu dan mertua.

Tuhan memberkati!

Monday, June 14, 2010

Gaya Hidup Beda sebagai Anak Tuhan (2)

Nah, gaya hidup seperti apa yang harus kita lakukan sebagai anak Tuhan? Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai anak Tuhan, supaya mudah... mari kita sebut dengan 3 J.

J1: Jaga hati
Amsal 4:23 "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
Amsal mengatakan bahwa keberhasilan kita pada bidang apapun dalam kehidupan ini... dimulai dari hati kita.

Daniel menjaga kekudusannya, dia memilih tidak makan yang sedap-sedap = tidak memilih hal-hal yang hanya enak diluar tapi merusak di dalam, Amsal 18:8 menulis "Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati." Dalam hidup ini kita harus menjaga hati kita agar tidak terlena dengan hal-hal yang sedap, hal yang sedap itu bukan bicara tentang makanan, tapi tentang DOSA (yang tentunya kelihatan sedap, kalau tidak sedap orang pasti tidak mau berbuat dosa...) yang tanpa kita sadari masuk sedikit demi sedikit & pelan-pelan merusak lubuk hati kita (rohani kita). Jadi sebagai anak Tuhan... kita harus senantiasa berjaga agar hanya yang benar yang masuk dalam hati kita, bukan yang "sedap"; benar pasti sedap, sedap belum tentu benar!

J2: Jaga iman
Efesus 6:16 "dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat."

Saat Yusuf mendapatkan janji Tuhan melalui mimpinya, keadaannya bukan bertambah baik, dia dijual oleh saudaranya dan menjadi budak, lalu sebagai budak... keadaan Yusuf mulai lebih enak sedikit karena akhirnya dia jadi kuasa atas rumah tuannya (Kejadian 39:4)... tapi kemudian Yusuf malah difitnah oleh istri bosnya (karena menolak berzinah - Yusuf hidup benar) dan dijebloskan dalam penjara, tapi Yusuf tetap tidak kehilangan imannya... dia tidak larut dalam keadaannya yang tidak enak itu. Yusuf tetap percaya pada janji Tuhan (tetap menjaga imannya) sampai pada akhirnya dia meraih janji Tuhan dalam hidupnya.

Dalam Daniel pasal 6, Daniel pun menjaga imannya pada Tuhan, walaupun diancam masuk ke gua singa karena menolak untuk menyembah patung. Dan saat Daniel berada dalam gua singa, mujizat terjadi, Tuhan menyelamatkannya, dan akhirnya raja Darius menjadikan Daniel sebagai pejabat tinggi dalam kerajaannya.

J3: Jaga mulut/lidah
Dalam Alkitab ada 259 kata “mulut”, 103 kata “lidah”, & 102 kata “bibir”... total 464 kata tentang mulut, lidah, bibir (hal-hal yang berhubungan dengan perkataan). Bandingkan dengan kata hikmat, di Alkitab total ada 213 kata ‘’hikmat”.

Amsal 13:3 "Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan."
Amsal 18:21 "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya."

Jika kita berkata di suatu tempat yang bergema, misalkan dalam goa, maka apa yang kita ucapkan itulah yang akan bergema dan kembali pada kita dengan kata yang sama... contoh jika kita katakan A maka gemanya juga A... Nah perkataan apa yang kita gemakan selama ini?

Bukankah Firman berkata bahwa sebagai anak Tuhan, mulut kita ada kuasanya... ingatlah Tuhan menciptakan dunia ini dengan perkataan-Nya (Firman Tuhan). Hati-hatilah dengan mulut kita, sebagai anak-anak Tuhan, kita pun mewarisi kuasa-Nya, apa yang kita katakan itulah yang akan bergema dalam hidup kita.

Perhatikan kehidupan Yusuf dan Daniel, saat mereka mengalami keadaan yang buruk sekalipun, mereka tetap menjaga perkataan mereka, tidak sekalipun mereka mengutuki orang-orang yang mencelakai mereka... bahkan mereka senantiasa mengatakan berkat dan menjadi berkat dimanapun Tuhan menempatkan mereka (contoh: Kejadian 39:5, Daniel 6:21-22, 25-27).

Jadi apa sebaiknya kita perkatakan dalam hidup ini?
Dalam hal ini kita harus meneladani Yesus, Matius 4:1-11 mencatat, saat Dia dicobai oleh iblis di padang gurun... Yesus selalu menjawab dengan berkata: "Ada tertulis (dlm firman Tuhan)..."

Jadi mulai sekarang ini... di dalam segala keadaan, marilah kita mulai perkatakan Firman Tuhan sehingga setiap janji-Nya pasti digenapi dalam hidup kita.

Tuhan memberkati!

Sunday, June 13, 2010

Gaya Hidup Beda sebagai Anak Tuhan (1)

Dalam Alkitab, ada tokoh-tokoh yang dipakai oleh Tuhan sejak masa mudanya, dan mereka bukan hanya sukses, tapi dalam keadaan apapun Tuhan membuat mereka senantiasa sukses. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Yusuf, dalam Kejadian pasal 37, disambung pasal 39-41:46, dikisahkan bahwa:
    • Yusuf dikasihi oleh ayahnya Yakub (Israel) karena Yusuf anak yang lahir pada masa tuanya dan dia melakukan hal yang baik tidak seperti saudara-saudaranya.
    • Tapi Yusuf dibenci saudara-saudaranya sampai akhirnya dijual sebagai budak. Saat menjadi budak di rumah Potifar, Tuhan menyertai Yusuf sampai akhirnya Yusuf menjadi kuasa atas rumah dan milik Potifar (Kej 39:4).
    • Yusuf seorang yang hidup benar, saat diajak berzinah oleh istri Potifar, dia menolaknya tapi malah difitnah dan akhirnya dipenjara.
    • Tuhan selalu menyertai Yusuf sehingga saat Yusuf dalam penjara pun, dia menjadi kesayangan kepala penjara dan dipercaya mengurus semua tahanan.
    • Singkat cerita... akhirnya dari keadaan sebagai ex narapidana, Yusuf lalu diangkat oleh Firaun menjadi kuasa atas Mesir. Saat jadi Perdana Menteri (orang nomor dua) di Mesir, umur Yusuf baru 30 tahun.

  2. Daniel, dalam Daniel pasal 1-6, dikisahkan bahwa:
    • Daniel dipilih sebagai salah satu anak muda yang akan dididik untuk bekerja dalam istana raja, walaupun bagi mereka disediakan pelabur dari santapan raja dan anggur setiap hari, tapi Daniel (Beltsazar) dan 3 kawannya (Sadrakh, Mesakh, Abednego) berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan hal itu. Dia lebih memilih hanya makan sayur dan minum air setiap hari.
    • Dalam Daniel 1:19-20 dicatat bahwa setelah masa pendidikan, didapati oleh raja, bahwa Daniel dan ke-3 kawan Yehudanya sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang berilmu di kerajaannya.
    • Kemudian dalam Daniel 2:48 dicatat bahwa raja menjadikan Daniel sebagai penguasa atas seluruh wilayah Babel dan kepala semua orang bijak di Babel.
    • Tidak hanya sampai disitu, dalam pemerintahan raja-raja selanjutnya, Daniel tetap jadi orang yang tinggi kekuasaannya. Daniel 5:29, saat pemerintahan raja Belsyazar, Daniel diberi kekuasaan sebagai orang nomor tiga di kerajaannya. Lalu dalam Daniel 6:29 disebutkan, bahwa Daniel mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pemerintahan Koresh, orang Persia.

Perhatikan kehidupan Yusuf dan Daniel, mereka bukan hanya menjadi sukses, tapi dalam segala keadaan... Tuhan senantiasa membuat mereka sukses! Yusuf ditaruh dimanapun (sebagai budak, sebagai narapidana) Tuhan senantiasa membuatnya dikasihi dan menjadi kepercayaan atasannya (second man) hingga akhirnya pun menjadi kuasa atas Mesir (orang nomor dua setelah Firaun); Daniel pun demikian... dalam pemerintahan raja siapapun, Tuhan senantiasa membuatnya dikasihi dan dipercaya oleh raja, sebagai pejabat tinggi bahkan yang tertinggi!

Apa yang membuat semua hal itu terjadi?
Jika kita pelajari kisah mereka dalam pasal-pasal diatas, hal itu terjadi karena Tuhan senantiasa menyertai mereka, tapi kenapa Tuhan selalu menyertai mereka?

Perhatikan di Kejadian 37:2, Alkitab mencatat bahwa sedari muda Yusuf berkelakuan baik dan benar walaupun saudara-saudaranya tidak; lalu perhatikan Daniel 1:8-9, Daniel (dan ketiga kawan sebangsanya) tidak mau menajiskan diri mereka, mereka tetap menjaga kekudusannya dengan tidak makan santapan dan anggur raja, padahal semua anak muda yang lain menyantap hidangan tersebut.

Kedua tokoh ini memiliki GAYA HIDUP YANG BEDA (= Gaya hidup anak Tuhan)... baik Yusuf maupun Daniel, saat mereka mempraktekkan gaya hidup yang berbeda dengan yang dilakukan oleh lingkungannya, mereka malah mendapatkan kasih dari pemimpinnya.

Kenapa bisa demikian?
Matius 6:33 menulis "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."
Yusuf dan Daniel adalah contoh orang-orang yang mengasihi Tuhan... karena itu dalam hidupnya, mereka mempraktekkan gaya hidup yang berbeda sebagai anak Tuhan. Dan karena mereka lebih dulu mengasihi Tuhan (carilah dahulu Kerajaan Allah...) maka pada akhirnya mereka pun dikasihi oleh atasan atau pemimpin mereka (maka semuanya itu akan ditambahkan...)!

Demikianlah yang dimaksud dengan mengasihi Tuhan, mengasihi itu bukan cuma perkataan tapi juga perbuatan. Saat kita memiliki dan melakukan gaya hidup yang beda dengan gaya hidup dunia, itu artinya kita mengasihi Tuhan!

bersambung...

Monday, May 24, 2010

Pedoman & Tips dalam Memilih Pasangan Hidup

Sejak pertama kali manusia diciptakan, Tuhan memberinya kehendak bebas... termasuk dalam memilih pasangan hidup; sehingga tidak ada jodoh yang sudah ditetapkan atau ditentukan oleh Tuhan apalagi jodoh dari lahir, karena itu Tuhan tidak bertanggung jawab atas pilihan pasangan hidup anda, anda sendirilah yang harus memilih dan bertanggung jawab atas pilihan pasangan anda dihadapan Tuhan.

Tapi walaupun Tuhan memberi kehendak bebas pada kita untuk memilih pasangan hidup, Dia tetap memberikan tuntunan bagi anak-anakNya melalui Alkitab agar kita bisa memilih pasangan yang sesuai. Apalagi memilih pasangan hidup merupakan salah satu keputusan yang terpenting yang harus diambil seseorang dalam hidupnya; mengingat pernikahan itu dirancang oleh Tuhan untuk dilakukan sekali sepanjang hidup kita.

Mari kita lihat dari Alkitab, beberapa pedoman dalam memilih pasangan hidup agar anda dapat menemukan pasangan yang tepat sehingga mendatangkan tahun-tahun pernikahan yang dapat dinikmati bersama:

  1. Pasangan anda haruslah seorang yang percaya pada Tuhan

    Firman Tuhan menyatakan dalam 2 Korintus 6:14-15, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?"

    Hal ini merupakan dasar utama yang perlu diperhatikan dalam memilih pasangan hidup, karena itu dicantumkan sebagai pedoman yang pertama. Masalah kepercayaan adalah hal yang mendasar karena kepercayaan dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan kita.

    Lagipula manusia itu terdiri dari roh, jiwa dan tubuh, dan roh itu kekal. Jika tubuh bersatu tapi rohnya berbeda pasti akan timbul konflik, seperti yang telah disampaikan Firman Tuhan: bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? selain itu adanya perbedaan kepercayaan akan mengakibatkan perbedaan komunikasi dan pandangan hidup, yang akhirnya dapat menimbulkan perselisihan atau bahkan sikap toleransi yang salah seperti membiarkan hal-hal yang bertentangan dengan iman, dan lainnya.

    Dan jangan pernah kita berpikir... mungkin saja saya mendapat pasangan hidup yang berbeda kepercayaan agar setelah menikah, saya bisa memperkenalkannya pada Tuhan Yesus; hati-hatilah karena ini merupakan pemikiran yang keliru, sebab Alkitab tidak pernah mengajarkan hal yang demikian.
  2. Carilah pasangan yang sepadan dengan anda

    Kejadian 2:18, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

    Yang dimaksud dengan sepadan adalah:
    • Bukan cocok/sama persis dengan anda, karena pasangan anda bukanlah duplikat dari diri anda;
    • Bukan ideal atau memenuhi 100% standar/kriteria anda;
    • Saling menggenapi dan melengkapi satu sama lain, seseorang yang dapat menerima dan mengasihi pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

    Di dalam dunia ini tidak ada pasangan yang ideal, karena itu carilah pasangan hidup yang sepadan dengan anda. Perhatikan kisah berikut, tentang seorang yang sedang menunggu bus untuk pergi ke suatu tujuan.

    Sejak pagi orang tersebut telah menunggu bus tujuannya, bus pertama datang dan ternyata telah penuh sesak akhirnya orang tersebut membatalkan untuk naik bus pertama tersebut; beberapa jam kemudian bus ke-2 datang namun ternyata juga banyak penumpang yang berdesakan untuk segera menaiki bus tersebut, akhirnya orang tersebut pun membatalkan untuk menaiki bus ke-2; kemudian datanglah bus ke-3 yang tidak terlalu penuh, namun orang tersebut kembali membatalkan naik bus ke-3 karena bus tersebut tidak ada AC-nya dan kurang menarik; tak terasa waktu pun sudah menuju sore hari... dan akhirnya datang bus ke-4, orang tersebut langsung saja menaiki bus itu karena waktu yang dimilikinya sudah semakin sedikit untuk menuju ke tujuannya; setelah beberapa lama ada dalam bus itu akhirnya orang tersebut tersadar ternyata dia telah menaiki bus ke tujuan yang berbeda/salah jurusan...

    Dalam mencari pasangan, janganlah menetapkan standard yang ideal/kriteria yang tinggi yang mengakibatkan kita tidak pernah dapat menemukan pasangan yang tepat bagi kita, tapi juga jangan asal-asalan memilih sehingga salah tujuan... yang harus diperhatikan adalah kesepadanan antara anda dengan pasangan.

    Kesepadanan ini meliputi aspek kerohanian, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, intelektual, perbedaan usia dan kematangan sikap hidup. Makin banyak aspek yang sesuai berarti pasangan anda makin sepadan dengan anda, makin sepadan anda dengan pasangan maka hubungan akan terjalin makin kuat.

  3. Perhatikan karakternya

    Dalam mencari pasangan, anda juga perlu mempertimbangkan karakternya, seperti ada tertulis dalam Amsal 22:24-25, “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.”

    Karakter pasangan kita akan berpengaruh terhadap diri kita dan kehidupan kita, jika kita bergaul dengan orang yang salah maka kita akan terkena dampaknya.

    Berikut ini sebuah kisah hidup pernikahan yang nyata dan berakhir sedih, akibat karakter pasangan yang pemarah... Beberapa waktu sebelum pernikahannya, Dewi sempat bimbang dengan perangai pacarnya yang kasar dan pemarah, karena ia melihat sang pacar tengah marah memaki-maki seorang pengendara motor yang memotong jalur mobil yang dikendarainya. Tapi, akhirnya mereka menikah juga... dan setelah menikah selama 4 tahun terdengarlah kabar bahwa Dewi menggugat cerai suaminya, saat ditanya Dewi beralasan, ia sudah tidak cocok lagi dengan pasangannya karena karakternya yang sulit ditoleransi selama menikah. ”Suami saya sering marah-marah dan berteriak. Beberapa kali pembantu rumah tangga kami memilih keluar karena tak betah. Marah sama saya? Itu sih sudah tak terhitung lagi,” kata Dewi saat ditanya. ”Bahkan dia juga pernah dipecat dari pekerjaannya, karena dia marah dan menggebrak meja atasannya. Saya pikir dia akan berubah, tapi ternyata tidak,” lanjut Dewi...

    Dalam cerita diatas, Dewi sebenarnya sudah tahu karakter sang suami sebelum mereka menikah tapi dia berpikir bahwa pasangannya mungkin akan berubah setelah menikah, ternyata tidak... Yohanes 3:6 mengatakan, ”Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Hanya Roh Kudus yang dapat mengubah karakter seseorang, bukan manusia. Mengenai apa saja yang termasuk karakter yang baik dan tidak baik, anda dapat membacanya di Galatia 5:19-23.

    Lalu bagaimana seandainya jika pasangan saya menutupi karakternya atau berpura-pura selama berkenalan sehingga karakter aslinya baru ketahuan setelah menikah? Amsal 5:21 mencatat, ”Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.” Jadi janganlah takut... tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan Tuhan, jika dalam mencari pasangan, kita mau mengandalkan Tuhan dan menuruti setiap pedoman-Nya, pasti segala hal yang tersembunyi akan disingkapkan oleh Tuhan.

Berikut ini tips tambahan bagi yang sedang mencari pasangan agar tidak salah pilih:

  • Carilah di tempat yang tepat
    Jika anda mengikuti pedoman diatas tentunya anda akan menemukan pasangan anda di tempat yang benar bukan di tempat yang tidak benar, karena seorang yang percaya dan takut akan Tuhan pastinya tidak akan berada di tempat yang “gelap”.
  • Minta pertolongan Tuhan
    Berdoa pada Tuhan sebelum memulai hubungan dengan seseorang, minta “tanda” dari Tuhan tapi jangan mendasarkan keputusan semata-mata atas dasar satu “tanda” tersebut. Meskipun kita yakin bahwa "tanda" itu berasal dari Tuhan; tetap pergunakanlah akal budi yang Tuhan berikan dan perhatikan pedoman lainnya apakah mendukung. Eliezer terus menerus mengamati dan menilai Ribka, walaupun ia sudah mendapati bahwa “tanda” yang dimintanya telah dipenuhi (Kejadian 24:12-21).
  • Persetujuan Orang Tua
    Hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah persetujuan dari orang tua anda dan orang tua pasangan anda. Mengapa persetujuan orang tua diperlukan? Karena menikah bukan saja antara persatuan anda dan pasangan, tapi juga bersatunya dua keluarga. Pernikahan pasti akan melibatkan keluarga. Lagipula seorang anak selama belum menikah masih berada di bawah otoritas orang tuanya, jadi sudah sewajarnya sebagai anak meminta persetujuan orang tua sebelum menikah. Jika perlu berdoa dan berpuasalah untuk hal itu. Kalau Tuhan bekerja, maka tidak ada yang mustahil.

DON'T MARRY A PERSON YOU CAN LIVE WITH...
BUT, MARRY SOMEONE YOU CAN’T LIVE WITHOUT...


Tuhan memberkati!

Monday, May 17, 2010

Orang Bijak dan Orang Bodoh

Matius 7:24-27












Dalam kisah ini ada 2 tipe orang: orang bijak dan orang bodoh.
Ada hal-hal yang sama dari keduanya, antara lain:

  • Keduanya mendengar perkataan/Firman Tuhan Yesus = orang Kristen (masa kini),
  • Keduanya sama-sama mendirikan rumah = membangun hidup (rohani),
  • Keduanya sama-sama kena hujan, banjir dan angin (hujan badai) = masalah/persoalan.

Menjadi anak Tuhan bukan berarti bebas dari masalah, karena Tuhan tidak berjanji membebaskan kita dari masalah tapi yang Tuhan janjikan adalah jalan keluar untuk setiap masalah kita (Mat 11:28)

Lalu ada hal yang membedakan keduanya:

  • Yang bijak: melakukan Firman Tuhan = mendirikan rumah diatas batu.
  • Yang bodoh: tidak melakukan Firman Tuhan = mendirikan rumah diatas pasir.

Jadi, kedua orang tersebut adalah orang-orang yang percaya... mereka mengikut Yesus dan mendengar Firman Tuhan tapi mereka tidak sama dalam hal mendirikan rumah (melakukan Firman dalam kehidupannya).

Yang bijak membangun rumah diatas batu, batu bicara suatu dasar yang kuat dan teguh, Kisah 4:11 Yesus adalah batu penjuru, 1 Korintus 10:4 batu karang itu ialah Kristus, Efesus 2:20 dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.; Yohanes 1:1 Tuhan Yesus adalah Firman, berarti orang bijak membangun hidupnya atas dasar Firman Tuhan, tapi bukan hanya menjadi pendengar, dia pun menjadi pelaku Firman itu (Matius 7:24).

Yang bodoh, membangun rumah diatas pasir, pasir bicara sesuatu yang mudah luntur, mudah hanyut oleh air/masalah, berarti orang yang bodoh hanya mendengar Firman Tuhan tapi tidak melakukannya dalam kehidupan.

Apa artinya menjadi pelaku Firman?
Pelaku Firman berarti kita melakukan apa saja yang diperintahkan dalam Firman Tuhan; sebelum menjadi pelaku tentunya kita terlebih dulu harus menjadi pendengar (tidak mungkin kita melakukan jika belum pernah mendengarkan bukan?). Nah pada saat kita mendengar Firman Tuhan itu sama halnya dengan mulai menimbulkan iman kita (Roma 10:17).

Tapi menjadi pendengar saja tidak cukup... karena kita juga harus membangun iman kita, itulah gunanya menjadi pelaku Firman. Jika kita hanya mendengar, iman hanya pada tahap timbul (atau saya istilahkan dengan percaya), tapi saat kita mulai melakukannya maka iman mulai terbangun...

Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Jadi iman tidak sama persis dengan percaya; dalam bahasa Inggrisnya, iman: FAITH, sedangkan percaya: BELIEVE.

  • Kita percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita… itu disebut BELIEVE
  • Kita percaya Dia sanggup menyembuhkan, sanggup membuat kita keluar dari masalah… itu disebut BELIEVE.

Iman lebih dari percaya, faith more than believe...
Iman memang dimulai dari percaya tapi ada kelanjutannya, karena itu iman lebih dari sekedar percaya, iman berarti bertindak percaya walau belum melihat (tapi bedakan pula antara iman dengan nekad, he..he... iman dari percaya, nekad dari untung-untungan).

  • Saat kita sedang ada dalam masalah, apakah kita tetap percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup menolong? Tetap percaya sampai masalah itu selesai... itu yang disebut FAITH
  • Saat dalam persoalan seolah tidak ada jalan keluar, tapi tetap percaya sampai ada jalan keluar... itu yang disebut FAITH
  • Tetap percaya apa yang Tuhan janjikan akan terjadi walaupun belum terjadi… itu FAITH !

Saat keadaan kita tanpa masalah, iman kita mungkin belum teruji, tapi pada saat kita dalam masalah barulah terlihat perbedaannya antara orang yang hanya percaya dan orang yang beriman.

Jadi kenapa Tuhan ijinkan ada masalah dalam kehidupan kita?
Salah satu alasannya adalah untuk pembuktian dan pembangunan iman kita.

Perhatikan dalam Hakim 20:18-25, dimana dikisahkan: pada hari pertama, orang Israel berdoa dan mendapat konfirmasi dari Tuhan untuk maju berperang melawan bani Benyamin... tapi kemudian mereka kalah, lalu untuk kedua kalinya mereka berdoa kembali dan mendapat konfirmasi dari Tuhan untuk berperang tapi kalah lagi...

Andaikan kita berada di posisi mereka, dimana setelah mendapat dua kali konfirmasi tapi tetap kalah... Apakah kita tetap beriman pada Tuhan? Tidakkah kita menyangsikan konfirmasi itu? Atau jangan-jangan kita salah dengar??

Selanjutnya, dalam Hakim 20:26-35, setelah dua kali kalah, orang Israel tetap datang pada Tuhan bahkan kali ini dengan seluruh bangsa, dengan lebih tekun mereka berdoa puasa dan semalaman, berdoa untuk yang ketiga kalinya dan kembali mendapat konfirmasi dari Tuhan... Kali ini mereka tidak lagi kalah melainkan menang!! itulah IMAN... tetap percaya pada Tuhan, sampai akhir!

Jika iman kita besar maka kita akan memperoleh berkat dalam skala mujizat, bukan yang biasa-biasa saja. Dan hanya orang bijak yang akan memperolehnya...

sharing

Monday, May 3, 2010

Berkat dalam Hujan

“Aku akan menjadikan mereka dan semua yang di sekitar gunung-Ku menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat.” (Yehezkiel 34:26)

Jika anda diajukan sebuah pertanyaan, apakah hujan itu suatu berkat bagi anda? Anda tentu tidak langsung menjawab iya, semuanya tergantung situasi yang ada... kapan saatnya hujan itu turun. Jika hujan turun terus menerus, anda tentu berharap hujan berhenti agar tidak terjadi banjir.

Ada sebuah cerita tentang pasangan yang akan melakukan sesi foto pre-wedding di kawasan Kawah Putih, Bandung karena mereka begitu terkesan dengan hasil foto pasangan lain disana. Dalam perjalanan ternyata hujan turun dengan derasnya. Mereka berdoa agar hujan segera reda sehingga acara pemotretan dapat berlangsung dengan baik.

Tapi hujan tidak kunjung reda. Mereka gelisah apalagi hari itu adalah satu-satunya kesempatan untuk melakukan sesi pemotretan. Sesampainya disana, hujan belum juga reda, malah ada kabut yang turun. Dalam situasi begini yang terpikirkan oleh mereka acara pemotretan bisa berantakan, tapi karena tidak ada kesempatan lain mereka tetap melakukan sesi pemotretan tersebut.

Dua jam berlalu, akhirnya semuanya selesai. Hujan masih juga turun. Sang fotografer sebenarnya ragu dengan hasil karyanya karena dia belum pernah melakukan pemotretan di kala hujan. Tapi apa yang terjadi? Hasil foto itu ternyata luar biasa seperti yang mereka idamkan. Hujan yang turun justru menghapus kabut yang ada sehingga tercipta nuansa yang unik sebagai latar belakang, yang terbentuk dari kombinasi latar kabut dan basahan hujan yang turun.

Sebagai manusia, kita pasti berpikir bahwa saat yang terbaik untuk sesi pemotretan adalah saat cuaca cerah dan tidak ada hujan. Tapi Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Apa yang Tuhan lakukan untuk kita pasti tepat waktunya karena Dia tidak pernah salah dan tidak pernah terlambat.

Hujan yang Tuhan turunkan pada waktunya, pastilah hujan yang membawa berkat. Waktu kita bukanlah waktunya Tuhan, Dia lebih tahu saat yang tepat untuk mencurahkan hujan berkat-Nya bagi kita.

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya

GBU ^,^