Sunday, September 19, 2010

Yesus menyembuhkan Orang Lumpuh

Markus 2:1-12












Ada 3 hal luar biasa yang terjadi dalam Markus 2:1-12 ini, sebelum Yesus melakukan mujizat dengan menyembuhkan orang lumpuh. Tiga hal yang juga harus kita lakukan/alami sebelum menerima mujizat:

  1. Ayat 1-2: Yesus kembali ke Kapernaum setelah melakukan perjalanan pelayanan ke Galilea. Yesus lalu mengajar di rumah-Nya dan banyak orang datang sampai diluar rumah. Lukas 5:17 mencatat bahwa yang datang itu dari berbagai latar belakang dan berbeda asalnya: ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem.

    Jadi yang datang saat Yesus mengajar adalah campuran masyarakat umum dan imam-imam tingkat tinggi, bukan hanya orang biasa tapi juga kalangan atas; hal luar biasa yang pertama: banyak orang datang mencari Yesus.

    Kenapa hal ini luar biasa? Saat ini kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi pada masa itu tidak banyak yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan; namun demi mendengar Yesus dan melihat kuasa-Nya, mereka rela datang dari jauh (Yerusalem ke Kapernaum sekitar 120 km, kira-kira seperti Jakarta-Bandung) dan berdesak-desakan; padahal sebagai manusia, Yesus dikenal anak tukang kayu (Matius 13:55).

    Namun demikian motivasi orang-orang yang hadir juga berbeda-beda, ada yang memang tulus ingin belajar, ada yang cuma ingin nonton, ada pula yang berniat buruk... contohnya: orang Farisi dan ahli Taurat yang hadir, mereka adalah orang-orang terpelajar yang mengerti Firman Tuhan, sarjana-sarjana agama; tapi mereka tidak percaya, ragu-ragu atas perkataan Yesus; mereka hadir bukan hanya untuk mendengar Firman-Nya, tapi juga untuk mencari kesalahan-Nya, menjebak-Nya sehingga dengan demikian mereka bisa menghukum Yesus.

    Tapi Yesus adalah Tuhan, dan Dia bisa melihat jauh di dalam hati setiap orang. Dia tahu apakah kita hanya Kristen KTP atau Kristen sejati, apakah kita hanya percaya-percayaan atau sungguh-sungguh percaya... Jadi untuk bisa menerima mujizat, hal pertama yang kita lakukan: datang mencari Tuhan Yesus dengan sikap hati yang benar.
  2. Saat Yesus sedang mengajar, terjadi pula hal luar biasa yang kedua yaitu: 4 orang datang lalu membuat lubang di atap dan menurunkan tilam yang membawa teman mereka yang lumpuh ke dalam ruangan dimana Yesus berada.

    Pada jaman itu, bentuk rumah tidak tinggi dan atapnya datar, sehingga dapat dicapai dengan tangga yang dipasang di salah satu dinding diluar rumah. Atap rumah biasanya dijadikan tempat untuk menyimpan barang. Orang-orang yang membawa orang yang lumpuh ini naik dengan tangga diluar hingga ke atap rumah, lalu memindahkan bagian atap rumah dan menurunkan orang lumpuh ini ke dalam ruangan. Karena atap rendah, tidak butuh waktu lama untuk menurunkannya dari atap hingga sampai ke hadapan Yesus.

    Kenapa hal ini termasuk luar biasa? Karena tindakan yang mereka lakukan menunjukkan kekuatan iman mereka! Alkitab menuliskan, bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Perbuatan 4 orang ini menunjukkan kwalitas iman mereka, naik ke atap, membuka atap lalu menurunkan orang lumpuh memang tidak sulit tapi bukan hal yang mudah juga; yang istimewanya mereka terpikir untuk melakukan hal itu demi iman percaya mereka bahwa Yesus bisa menyembuhkan temannya yang lumpuh. Hal kedua: miliki iman dan tunjukkan dalam tindakan (iman yang benar)!
  3. Hal ketiga yang paling luar biasa adalah saat Yesus melakukan sesuatu yang mengherankan orang banyak, Ia berkata pada orang lumpuh itu: dosa-dosanya telah diampuni! Ini adalah hal yang paling luar biasa yang Yesus lakukan dalam pelayanan-Nya yaitu: pengampunan dosa.

    Mungkin ada yang berpikir, kenapa Yesus tidak lebih dulu menyembuhkan orang lumpuh itu? Seharusnya Yesus menyembuhkan orang lumpuh itu, baru bicara soal pengampunan. Tapi Tuhan tidak pernah salah... Yesus melihat ke dalam hati bahwa hal utama yang dibutuhkan manusia adalah kesembuhan rohani, baru kesembuhan fisik.

    Perjumpaan dengan Tuhan Yesus menyembuhkan rohani kita, membuat hidup kita berbalik dan berubah oleh kuasa pengampunan-Nya. Dulu kita semua orang yang lumpuh rohani tapi sejak berjumpa dengan Tuhan Yesus, kita disembuhkan dan dapat berdiri diatas batu keselamatan Kristus. Hal ketiga, agar menerima mujizat maka pastikan kita sudah hidup benar (tidak menyimpan dosa).

    Di balik setiap mujizat fisik yang Kristus kerjakan pasti ada mujizat kesembuhan rohani, dan itulah mujizat terbesar yang Dia kerjakan!

    2 Korintus 5:17 "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

    Those people who become Christians become new persons.
    They are not the same anymore, for the old is gone. A new life has begun.

Tuhan memberkati!

Sunday, September 5, 2010

Hubungan antara Orang Tua dan Anak

Di dalam Alkitab, anak-anak dipandang sebagai karunia Allah. Anak-anak harus dikasihi, dihargai dan dihormati seperti orang dewasa. Mereka penting di mata Allah dan dalam kerajaan Sorga (Matius 18:1-6, 10). Anak-anak juga diberi tanggung jawab: menghargai dan menghormati orang tua, peduli terhadap mereka, mendengarkan mereka, dan patuh kepada mereka (Keluaran 20:12, Amsal 1:8, 13:1, Markus 7:10-13, Efesus 6:1).

Efesus 6:1-3 mengatakan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi."

Meskipun dalam tulisannya yang lain, rasul Paulus memberi kritikan tajam kepada anak-anak yang tidak patuh (Roma 1:30, 2 Timotius 3:1-2), namun itu tidak berarti bahwa anak-anak harus selamanya patuh. Jika orang tua meminta mereka untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Firman Allah, maka mereka harus ingat bahwa hukum Allah selalu memiliki prioritas yang lebih tinggi daripada perintah manusia (Kisah 5:29). Untuk anak-anak yang sudah dewasa dan meninggalkan orang tua mereka untuk membangun keluarga yang baru, mereka pun tidak terbebas dari tanggung jawab untuk menghormati orang tua mereka. Tanggung jawab menghormati orang tua itu tetap ada selama orang tua masih hidup.

Sebaliknya orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberi teladan perilaku orang Kristen yang dewasa, mengasihi anak-anak mereka, peduli terhadap kebutuhan mereka, mengajar anak-anak dan mendisiplin mereka dengan sungguh-sungguh (Amsal 22:6, Kolose 3:21). Efesus 6:4 mengatakan, "... janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."

Pada Perjanjian Lama, ada bagian yang menyatukan semua prinsip dan merangkum ajaran Alkitab dalam hal mengasuh anak. Meskipun bagian ini ditulis untuk bangsa Israel sebelum mereka memasuki tanah perjanjian, Firman ini sangat praktis digunakan dalam membesarkan anak dan merupakan bimbingan bagi para orang tua Kristen di zaman modern ini.

"Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:1-7).

Dari Firman tersebut diatas, kita tahu hal-hal yang perlu dilakukan sebagai orang tua adalah:

  1. Mendengarkan Firman
    Orang tua yang baik mau mendengarkan perintah Allah, mengerti perintah itu dengan sungguh-sungguh sehingga “tertanam dalam hati” dan menjadi bagian dari dirinya. Proses ini dimulai melalui keteraturan dalam mempelajari Firman Tuhan, yaitu Alkitab, dan dengan pertolongan Roh Kudus sehingga Firman Tuhan menjadi jelas bagi kita.
  2. Melakukan Firman
    Pengetahuan saja tidaklah cukup. Selain mendengarkan, orang tua harus taat pada ketetapan dan perintah Allah serta melakukannya. Bila orang tua tidak menunjukkan keinginan untuk taat pada Allah, pada gilirannya anak-anak mereka juga tidak akan memiliki keinginan untuk taat orang tua mereka.
  3. Mengasihi Allah
    Allah berfirman agar orang tua mengasihi Allah dengan sepenuh hati, jiwa, dan kekuatan. Perhatikan bahwa penekanannya di sini adalah untuk orang tua. Orang tua harus menyadari bahwa mereka lebih dulu ada untuk mengasihi dan melayani Allah, dan tidak ada yang boleh menggantikan prioritas yang utama tersebut. Jika orang tua diberi anak, maka mengasuh anak merupakan salah satu dari tujuan hidup kita, tetapi bukanlah satu-satunya tujuan hidup kita.
  4. Mengajar Anak
    Dalam mengajar anak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua:
  • Tanggung jawab ayah dan ibu
    Meskipun mengasuh anak bukanlah satu-satunya tugas orang tua dalam hidup ini, tapi tanggung jawab ini penting dan tidak dapat diremehkan. Pendidikan anak-anak tidak hanya dilakukan oleh ibu saja atau ayah saja, tetapi harus oleh ayah dan ibu. Kejadian 1:27, "Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan..."
  • Gambar Allah secara sempurna ada pada laki-laki dan perempuan, pada suami dan istri, pada ayah dan ibu. Jika kita ingin mendidik anak kita dengan benar, maka peran serta ayah dan ibu dibutuhkan, sehingga anak dapat melihat gambar Allah dengan sempurna.

  • Dengan berulang-ulang
    Ulangan 11:19 mengatakan, "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."

    Firman menyampaikan bahwa mengajar bukanlah suatu usaha yang hanya cukup sekali dilakukan. Orang tua harus mengajar anak-anaknya dengan berulang-ulang setiap hari, siang dan malam, karena dengan demikian anak akan ingat dan mengerti apa yang diajarkan orang tuanya. Sebagai orang tua jangan pernah kita bosan mengajar anak-anak kita, karena Tuhan pun demikian terhadap kita.
  • Dengan teladan
    Dalam mendidik anak, seharusnya orang tua tidak hanya bicara, tetapi lebih banyak memberikan teladan kepada anak. Dalam mengajarkan Firman Tuhan, orang tua harus terlebih dulu menunjukkan melalui perbuatannya sendiri sebagai contoh kepada anaknya. Jika dipraktekkan hal ini tentunya akan lebih mudah bagi orang tua dalam mengajarkan sesuatu kepada anaknya. Ingatlah, Tuhan Yesus saja mau datang ke dunia untuk memberi teladan bagi kita, "sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." Yohanes 13:15
    • Bagaimana cara memberi teladan yang baik?

      • Supaya anak-anak menjadi orang yang dapat dipercaya, anda perlu percaya kepada diri anda sendiri.

      • Supaya anak-anak menjadi rendah hati, anda perlu menunjukkan kerendahan hati dengan mengakui kesalahan anda dan meminta maaf.

      • Supaya anak-anak mendengarkan anda, luangkan waktu untuk mendengarkan mereka bukan memaksakan pandangan kita sendiri (yang diperlukan adalah kemauan untuk mendengarkan saja, tidak harus menyetujuinya).

      • Supaya anak-anak bisa menghargai, anda perlu memberi penghargaan pada mereka, penghargaan itu bisa berupa pujian atau pengakuan secara verbal untuk perilaku positif yang telah dilakukan.

      • Supaya anak-anak menghormati, jangan remehkan mereka, pahami perasaan dan pandangan mereka.

      • Supaya anak-anak jujur, anda pun perlu menepati setiap janji pada anak anda dan mengatakan yang benar pada diri anda sendiri.

      Matius 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka..."

      Jadi mendidik anak-anak dengan teladan yang baik, artinya sebagai orang tua kita harus menjadi contoh bagi anak-anak kita, apa saja yang kita kehendaki supaya mereka lakukan kita lakukan lebih dahulu di hadapan mereka; jika kita mau anak kita hidup benar, maka sebagai orang tua, kita harus lebih dulu hidup benar bagi anak-anak kita...

    Tuhan memberkati!

    Sunday, August 8, 2010

    Iman yang Kuat untuk meraih Janji Tuhan

    Tahun 2010 adalah tahun pemulihan dan kelimpahan, bicara mengenai pemulihan dan kelimpahan bisa diibaratkan seperti perjalanan bangsa Israel yang keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian.

    Ulangan 11:8-12
    Tanah Mesir (ayat 10) adalah tanah dimana setelah menabur benih harus diberi air dengan jerih payah, sedangkan Tanah Perjanjian (ayat 9c, 11-12)adalah:
    1. Suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,
    2. Yang mendapat air sebanyak hujan turun dari langit,
    3. Negeri yang dipelihara Tuhan dari awal sampai akhir tahun.

    Tanah perjanjian berbicara mengenai keadaan yang penuh kelimpahan berkat, seperti surga di bumi. Pertanyaannya buat kita semua... apa yang harus kita lakukan agar bisa menerima janji Pemulihan dan Kelimpahan ini?

    Dalam Ulangan 11:8, dikatakan bahwa, "kamu harus berpegang pada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negeri, ke mana kamu pergi mendudukinya." Jadi agar bisa masuk dalam Tanah Perjanjian maka hal utama yang harus dilakukan bangsa Israel adalah berpegang pada seluruh perintah TUHAN!

    Kenapa kita harus berpegang pada seluruh perintah TUHAN, ayat 8 diatas mengatakan yaitu: supaya kita KUAT! Apanya yang kuat?
    IMAN-nya yang kuat. Orang yang kuat di mata Tuhan bukanlah yang berotot dan kekar seperti Simson atau Hercules, tapi orang yang beriman teguh seperti Abraham, Nuh dan pahlawan-pahlawan iman lainnya.

    Iman yang kuat itu berguna agar kita bisa masuk dan menduduki (dalam KJV, dipakai adalah kata "possess" yang artinya: mencapai, meraih) Tanah Perjanjian; demikian pula dalam kehidupan ini, jika kita ingin meraih janji hidup kelimpahan yang dijanjikan Tuhan maka kita pun harus memiliki iman yang kuat!

    Kenapa kita butuh iman yang kuat jika ingin meraih janji-Nya?
    Kembali kita lihat perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir sampai ke Tanah Perjanjian (= perjalanan hidup seorang percaya, mulai dari meninggalkan hidup lamanya sampai meraih janji Tuhan).

    Dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian, mereka harus melewati Padang Gurun. Sebagai orang percaya, kita pun harus siap melewati setiap padang gurun yang ada dalam hidup kita, sama seperti bangsa Israel. Perhatikanlah... semua tokoh dalam Alkitab harus melewati padang gurun sebelum mereka dipakai oleh Tuhan dan meraih janji-janji-Nya; bahkan Tuhan Yesus sendiri juga melewati padang gurun tersebut.

    Padang gurun bukanlah tempat yang enak, suhu disana ekstrem, jika siang sangat panas, jika malam sangat dingin... Kehidupannya juga keras karena sumber makanan dan minuman sangat minim, belum lagi ancaman hewan-hewan berbisa seperti kalajengking dan ular, lalu ada pula ancaman badai pasir, dan lainnya. Padang gurun adalah gambaran keadaan yang:
    - Kering, gersang, tandus,
    - Sumber daya yang terbatas,
    - Gangguan/masalah (pencobaan, godaan, jebakan, dan lainnya)

    Padang gurun, bahasa Inggrisnya: "desert" atau "wilderness" yang berasal dari kata wildness artinya tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Singkatnya padang gurun adalah tempat yang keadaannya tidak enak dan tidak dapat kita kontrol, karena itu ada banyak orang yang bersungut-sungut saat berada di padang gurun seperti: Kenapa koq setelah ikut Tuhan... hidupku malah jadi tidak enak ya? Atau kenapa hidup orang yang fasik malah enak-enak saja?

    Walaupun bukan tempat yang baik, justru saat berada di padang gurun... kita dapat melihat dan merasakan penyertaan, mujizat serta pertolongan Tuhan dalam hidup kita; bukankah demikian yang dialami bangsa Israel saat berada di padang gurun: diberi manna setiap hari, pakaian tidak menjadi buruk, dituntun oleh tiang awan/tiang api, dan sebagainya.

    Dalam keadaan yang tidak enak di padang gurun rohani, hanya yang kuat rohani yang dapat bertahan dan pada akhirnya meraih Janji Tuhan. Kuat rohani berarti mempunyai iman yang kuat, bagaimana caranya agar kita bisa punya iman yang kuat?
    Ada 4 langkah, kita sebut dengan 4 M, sebagai berikut:
    1. Mendengar (Membaca) Firman Tuhan: Roma 10:17 "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." Tidak cukup hanya mendengar Firman di kebaktian, tapi harus ditambah pula dengan membaca Alkitab, tapi mulai sekarang bacalah dengan suara agar kita juga mendengar dan iman pun bertumbuh,
    2. Merenungkan Firman: merenungkan berarti meneliti, menggali kebenaran Firman dengan bertanya dan mencari jawabannya. Mazmur 1:2-3 ...jika kesukaan kita adalah Firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam, maka Tuhan akan menjadikan apa saja yang kita perbuat berhasil.
    3. Melakukan Firman: Ulangan 6:8 "Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu." Kita jadi saksi yang hidup yang artinya hidup kita sesuai Firman Tuhan, tidak munafik, tidak menjadi batu sandungan. Kehidupan kita ditandai dengan Firman yang menjadi hidup dalam kehidupan kita.
    4. Membagikan Firman: sharing Firman, bersaksi, memberitakan Firman. Memberitakan firman bukan berarti harus menjadi pengkhotbah atau pendeta, tapi bisa dengan kita bersaksi pada orang-orang sekeliling atau yang kita temui (ingat Amanat Agung).

    Tahun 2010 adalah tahun pemulihan dan kelimpahan, untuk meraihnya kita harus punya iman yang kuat; dan untuk punya iman yang kuat... kita harus memulainya dengan membiasakan diri membaca dan mendengar Firman Tuhan setiap hari.

    Tuhan memberkati!

    Monday, July 12, 2010

    Ramuan Kasih Mertua & Menantu

    Hubungan antara mertua dan menantu memang menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan karena tidak sedikit orang yang memiliki masalah dalam hubungan tersebut, khususnya antara mertua perempuan dengan menantu perempuannya. Bahkan mungkin ada orang-orang yang pernah berdoa demikian, "Tuhan, berikanlah aku seorang pasangan. Namun tolonglah agar pasanganku itu sudah tidak punya orang tua lagi...," agar mereka dapat menghindari masalah tersebut.

    Banyak hal yang bisa menjadi penyebab munculnya masalah ini, bisa karena cemburu, beda pendapat, beda kebiasaan, atau hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Menantu sering berpikir, bagaimana caranya membuat sang mertua bersikap baik kepada mereka. Sedangkan mertua juga berpikir, bagaimana membuat sang menantu menghormati dan menyayangi mereka.

    Apa pun sebabnya, di dalam Tuhan setiap masalah tentu bisa diselesaikan dan selalu ada cara supaya hubungan menantu dan mertua menjadi manis. Sebenarnya untuk menjadikan mertua atau menantu bersikap baik, itu lebih bergantung pada sikap anda sendiri. Bukankah firman Tuhan ”the golden rule” dalam Matius 7:12 berkata, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

    Alkisah ada seorang wanita muda yang baru menikah dan tinggal di rumah mertuanya. Dalam waktu singkat, si menantu menyadari bahwa ia sangat tidak cocok dengan ibu mertuanya. Karakter mereka jauh berbeda. Hari berganti hari, menantu dan mertua itu tidak pernah berhenti berdebat atau bertengkar. Semua kemarahan dan ketidakbahagiaan di dalam rumah menyebabkan hati si suami menjadi sedih.

    Karena sudah tidak tahan lagi terhadap sifat ibu mertuanya, si menantu berpikir untuk melakukan sesuatu. Ia pergil menjumpai seorang tabib dan menceritakan masalahnya, kemudian minta dibuatkan racun yang kuat untuk ibu mertuanya. Sang tabib berpikir keras sejenak, lalu berkata, "Nak, saya mau membantumu tetapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa pun yang saya sarankan." "Baik pak tabib, saya akan mengikuti apa saja yang bapak katakan untuk saya perbuat," jawab si menantu.

    Sang tabib masuk ke dalam dan kembali dengan sebungkus ramuan. "Kamu tidak bisa memakai racun ini sekaligus, hal itu akan membuat semua orang curiga. Saya memberimu ramuan khusus yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun di dalam tubuhnya. Setiap hari, kamu harus menyediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan ini ke dalamnya. Lalu, agar tidak ada yang curiga, kamu harus hati-hati dan bersikap sangat baik kepadanya. Jangan berdebat dengan mertuamu, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti ibumu sendiri," katanya menjelaskan.

    Si menantu sangat senang dan pulang ke rumah untuk melaksanakan rencananya. Setiap hari ia melayani mertuanya dengan makanan yang enak-enak, yang sudah dibubuhi racun dari si tabib. Agar tidak mencurigakan, ia belajar untuk mengendalikan amarahnya, menaati ibu mertuanya, dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri. Setelah enam bulan lewat, suasana di rumah itu berubah drastis. Si menantu sudah bisa mengendalikan emosinya dan menyadari bahwa selama enam bulan terakhir ia tidak lagi marah atau kesal dengan mertuanya, karena mertuanya kini tampak lebih ramah kepadanya. Sikap si ibu mertua terhadap menantunya juga berubah, ia mulai mencintai sang menantu seperti putrinya sendiri. Ia bahkan menceritakan kepada teman-teman dan sanak familinya bahwa menantunya adalah menantu yang paling baik di dunia. Si menantu perempuan dan ibu mertuanya berlaku layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya.

    Suatu hari, dengan tergesa-gesa si menantu pergi menjumpai tabib untuk meminta bantuannya sekali lagi. "Pak, tolong saya untuk mencegah agar racun yang telah saya berikan kepada mertua saya tidak sampai membunuhnya. Beliau telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu baik, sehingga saya mencintainya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan kepadanya,” katanya memohon. "Nak, tidak ada yang perlu kau kuatirkan. Saya tidak pernah memberimu racun. Ramuan yang saya berikan itu hanyalah untuk menjaga kesehatan beliau. Satu-satunya racun yang ada, hanyalah yang terdapat di dalam pikiran dan sikapmu terhadap beliau. Tetapi semuanya itu telah dibersihkan oleh cinta yang kau berikan kepadanya," jawab sang tabib sambil tersenyum

    Jika antara menantu dan mertua ada perhatian, saling mengasihi, dan bersikap baik seperti orang tua dan anaknya sendiri, pastilah akan tercipta hubungan yang indah antara menantu dan mertua.

    Tuhan memberkati!

    Monday, June 14, 2010

    Gaya Hidup Beda sebagai Anak Tuhan (2)

    Nah, gaya hidup seperti apa yang harus kita lakukan sebagai anak Tuhan? Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai anak Tuhan, supaya mudah... mari kita sebut dengan 3 J.

    J1: Jaga hati
    Amsal 4:23 "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
    Amsal mengatakan bahwa keberhasilan kita pada bidang apapun dalam kehidupan ini... dimulai dari hati kita.

    Daniel menjaga kekudusannya, dia memilih tidak makan yang sedap-sedap = tidak memilih hal-hal yang hanya enak diluar tapi merusak di dalam, Amsal 18:8 menulis "Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati." Dalam hidup ini kita harus menjaga hati kita agar tidak terlena dengan hal-hal yang sedap, hal yang sedap itu bukan bicara tentang makanan, tapi tentang DOSA (yang tentunya kelihatan sedap, kalau tidak sedap orang pasti tidak mau berbuat dosa...) yang tanpa kita sadari masuk sedikit demi sedikit & pelan-pelan merusak lubuk hati kita (rohani kita). Jadi sebagai anak Tuhan... kita harus senantiasa berjaga agar hanya yang benar yang masuk dalam hati kita, bukan yang "sedap"; benar pasti sedap, sedap belum tentu benar!

    J2: Jaga iman
    Efesus 6:16 "dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat."

    Saat Yusuf mendapatkan janji Tuhan melalui mimpinya, keadaannya bukan bertambah baik, dia dijual oleh saudaranya dan menjadi budak, lalu sebagai budak... keadaan Yusuf mulai lebih enak sedikit karena akhirnya dia jadi kuasa atas rumah tuannya (Kejadian 39:4)... tapi kemudian Yusuf malah difitnah oleh istri bosnya (karena menolak berzinah - Yusuf hidup benar) dan dijebloskan dalam penjara, tapi Yusuf tetap tidak kehilangan imannya... dia tidak larut dalam keadaannya yang tidak enak itu. Yusuf tetap percaya pada janji Tuhan (tetap menjaga imannya) sampai pada akhirnya dia meraih janji Tuhan dalam hidupnya.

    Dalam Daniel pasal 6, Daniel pun menjaga imannya pada Tuhan, walaupun diancam masuk ke gua singa karena menolak untuk menyembah patung. Dan saat Daniel berada dalam gua singa, mujizat terjadi, Tuhan menyelamatkannya, dan akhirnya raja Darius menjadikan Daniel sebagai pejabat tinggi dalam kerajaannya.

    J3: Jaga mulut/lidah
    Dalam Alkitab ada 259 kata “mulut”, 103 kata “lidah”, & 102 kata “bibir”... total 464 kata tentang mulut, lidah, bibir (hal-hal yang berhubungan dengan perkataan). Bandingkan dengan kata hikmat, di Alkitab total ada 213 kata ‘’hikmat”.

    Amsal 13:3 "Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan."
    Amsal 18:21 "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya."

    Jika kita berkata di suatu tempat yang bergema, misalkan dalam goa, maka apa yang kita ucapkan itulah yang akan bergema dan kembali pada kita dengan kata yang sama... contoh jika kita katakan A maka gemanya juga A... Nah perkataan apa yang kita gemakan selama ini?

    Bukankah Firman berkata bahwa sebagai anak Tuhan, mulut kita ada kuasanya... ingatlah Tuhan menciptakan dunia ini dengan perkataan-Nya (Firman Tuhan). Hati-hatilah dengan mulut kita, sebagai anak-anak Tuhan, kita pun mewarisi kuasa-Nya, apa yang kita katakan itulah yang akan bergema dalam hidup kita.

    Perhatikan kehidupan Yusuf dan Daniel, saat mereka mengalami keadaan yang buruk sekalipun, mereka tetap menjaga perkataan mereka, tidak sekalipun mereka mengutuki orang-orang yang mencelakai mereka... bahkan mereka senantiasa mengatakan berkat dan menjadi berkat dimanapun Tuhan menempatkan mereka (contoh: Kejadian 39:5, Daniel 6:21-22, 25-27).

    Jadi apa sebaiknya kita perkatakan dalam hidup ini?
    Dalam hal ini kita harus meneladani Yesus, Matius 4:1-11 mencatat, saat Dia dicobai oleh iblis di padang gurun... Yesus selalu menjawab dengan berkata: "Ada tertulis (dlm firman Tuhan)..."

    Jadi mulai sekarang ini... di dalam segala keadaan, marilah kita mulai perkatakan Firman Tuhan sehingga setiap janji-Nya pasti digenapi dalam hidup kita.

    Tuhan memberkati!

    Sunday, June 13, 2010

    Gaya Hidup Beda sebagai Anak Tuhan (1)

    Dalam Alkitab, ada tokoh-tokoh yang dipakai oleh Tuhan sejak masa mudanya, dan mereka bukan hanya sukses, tapi dalam keadaan apapun Tuhan membuat mereka senantiasa sukses. Beberapa diantaranya adalah:

    1. Yusuf, dalam Kejadian pasal 37, disambung pasal 39-41:46, dikisahkan bahwa:
      • Yusuf dikasihi oleh ayahnya Yakub (Israel) karena Yusuf anak yang lahir pada masa tuanya dan dia melakukan hal yang baik tidak seperti saudara-saudaranya.
      • Tapi Yusuf dibenci saudara-saudaranya sampai akhirnya dijual sebagai budak. Saat menjadi budak di rumah Potifar, Tuhan menyertai Yusuf sampai akhirnya Yusuf menjadi kuasa atas rumah dan milik Potifar (Kej 39:4).
      • Yusuf seorang yang hidup benar, saat diajak berzinah oleh istri Potifar, dia menolaknya tapi malah difitnah dan akhirnya dipenjara.
      • Tuhan selalu menyertai Yusuf sehingga saat Yusuf dalam penjara pun, dia menjadi kesayangan kepala penjara dan dipercaya mengurus semua tahanan.
      • Singkat cerita... akhirnya dari keadaan sebagai ex narapidana, Yusuf lalu diangkat oleh Firaun menjadi kuasa atas Mesir. Saat jadi Perdana Menteri (orang nomor dua) di Mesir, umur Yusuf baru 30 tahun.

    2. Daniel, dalam Daniel pasal 1-6, dikisahkan bahwa:
      • Daniel dipilih sebagai salah satu anak muda yang akan dididik untuk bekerja dalam istana raja, walaupun bagi mereka disediakan pelabur dari santapan raja dan anggur setiap hari, tapi Daniel (Beltsazar) dan 3 kawannya (Sadrakh, Mesakh, Abednego) berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan hal itu. Dia lebih memilih hanya makan sayur dan minum air setiap hari.
      • Dalam Daniel 1:19-20 dicatat bahwa setelah masa pendidikan, didapati oleh raja, bahwa Daniel dan ke-3 kawan Yehudanya sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang berilmu di kerajaannya.
      • Kemudian dalam Daniel 2:48 dicatat bahwa raja menjadikan Daniel sebagai penguasa atas seluruh wilayah Babel dan kepala semua orang bijak di Babel.
      • Tidak hanya sampai disitu, dalam pemerintahan raja-raja selanjutnya, Daniel tetap jadi orang yang tinggi kekuasaannya. Daniel 5:29, saat pemerintahan raja Belsyazar, Daniel diberi kekuasaan sebagai orang nomor tiga di kerajaannya. Lalu dalam Daniel 6:29 disebutkan, bahwa Daniel mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pemerintahan Koresh, orang Persia.

    Perhatikan kehidupan Yusuf dan Daniel, mereka bukan hanya menjadi sukses, tapi dalam segala keadaan... Tuhan senantiasa membuat mereka sukses! Yusuf ditaruh dimanapun (sebagai budak, sebagai narapidana) Tuhan senantiasa membuatnya dikasihi dan menjadi kepercayaan atasannya (second man) hingga akhirnya pun menjadi kuasa atas Mesir (orang nomor dua setelah Firaun); Daniel pun demikian... dalam pemerintahan raja siapapun, Tuhan senantiasa membuatnya dikasihi dan dipercaya oleh raja, sebagai pejabat tinggi bahkan yang tertinggi!

    Apa yang membuat semua hal itu terjadi?
    Jika kita pelajari kisah mereka dalam pasal-pasal diatas, hal itu terjadi karena Tuhan senantiasa menyertai mereka, tapi kenapa Tuhan selalu menyertai mereka?

    Perhatikan di Kejadian 37:2, Alkitab mencatat bahwa sedari muda Yusuf berkelakuan baik dan benar walaupun saudara-saudaranya tidak; lalu perhatikan Daniel 1:8-9, Daniel (dan ketiga kawan sebangsanya) tidak mau menajiskan diri mereka, mereka tetap menjaga kekudusannya dengan tidak makan santapan dan anggur raja, padahal semua anak muda yang lain menyantap hidangan tersebut.

    Kedua tokoh ini memiliki GAYA HIDUP YANG BEDA (= Gaya hidup anak Tuhan)... baik Yusuf maupun Daniel, saat mereka mempraktekkan gaya hidup yang berbeda dengan yang dilakukan oleh lingkungannya, mereka malah mendapatkan kasih dari pemimpinnya.

    Kenapa bisa demikian?
    Matius 6:33 menulis "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."
    Yusuf dan Daniel adalah contoh orang-orang yang mengasihi Tuhan... karena itu dalam hidupnya, mereka mempraktekkan gaya hidup yang berbeda sebagai anak Tuhan. Dan karena mereka lebih dulu mengasihi Tuhan (carilah dahulu Kerajaan Allah...) maka pada akhirnya mereka pun dikasihi oleh atasan atau pemimpin mereka (maka semuanya itu akan ditambahkan...)!

    Demikianlah yang dimaksud dengan mengasihi Tuhan, mengasihi itu bukan cuma perkataan tapi juga perbuatan. Saat kita memiliki dan melakukan gaya hidup yang beda dengan gaya hidup dunia, itu artinya kita mengasihi Tuhan!

    bersambung...