Tuesday, November 2, 2010

Konflik karena Suami Enggan Bekerja

Dalam rumah tangga sewajarnya suami bekerja untuk menghidupi keluarganya, tetapi sayangnya kita bisa menemukan ada sebagian suami yang tidak mau bekerja. Jika ini terjadi tentu lambat laun akan menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Apa yang harus diperbuat jika hal ini terjadi dalam rumah tangga kita?

Mari kita cari tahu apa yang menyebabkannya serta melihat solusinya. Ada beberapa alasan mengapa suami enggan bekerja sebagai berikut:

  1. Ada yang enggan bekerja karena merasa belum dapat pekerjaan yang cocok dengan keinginannya. Mungkin dulu dia bekerja lalu kehilangan pekerjaan atau usahanya, dan menolak melakukan pekerjaan lain karena merasa tidak cocok.

    Jika ini terjadi, istri bisa membantu suami mencarikan pekerjaan. Suami pun jangan putus asa dan tetap berupaya mencari pekerjaan juga. Istri memberi dorongan pada suami agar mau mengambil pekerjaan lain sebagai pekerjaan sementara jika keuangan sudah mendesak. Bila istri memiliki penghasilan, hal ini bisa memberi waktu bagi suami mencoba pekerjaan lain sementara istri menopang dulu keuangan rumah tangga.
  2. Mirip seperti diatas, suami tidak mau bekerja kecuali dia bisa mendapatkan pekerjaan yang dicita-citakannya, tapi bedanya, dia memang belum pernah bekerja sebelumnya.

    Solusinya istri bisa ngobrol dengan suami dari hati ke hati, jika perlu sharing dengan teman/senior yang punya banyak pengalaman kerja agar suami punya pandangan lebih luas. Lewat komunitas seperti COOL, suami juga bisa diajak melihat bermacam pekerjaan yang dimiliki oleh teman-teman dan membuka pandangannya bahwa ada banyak jenis pekerjaan yang dapat dikerjakannya. Namun suami pun dituntut kesediaannya untuk fleksibel dan membuka diri.
  3. Ada yang enggan bekerja karena kecewa/sakit hati dengan pekerjaannya sebab dia diberhentikan (PHK), apalagi dengan cara yang buruk.

    Untuk kondisi ini, istri sebaiknya memberi waktu bagi suami untuk memulihkan diri. Suami pun jangan lama-lama terlarut dalam kesedihan, mengingat ada keluarga yang harus dinafkahinya. Istri bisa ikut bekerja untuk menopang keuangan, tapi bukan mengambil alih posisi suami sebagai kepala rumah tangga. Suami harus ingat tanggung jawabnya dalam keluarga, bangkitlah dan berusaha mencari pekerjaan lain, ingat pepatah yang mengatakan: "Dimana ada kemauan, disitu ada jalan."
  4. Ada pula yang enggan bekerja karena tidak mau/tidak tahan diperintah orang lain. Hal ini tidak masalah jika suami tipe pekerja mandiri & berjiwa wiraswasta, namun jika bukan tipe pekerja mandiri tentunya akan menimbulkan konflik sebab di satu sisi, suami tidak mau bekerja dengan orang lain sedangkan dia memang harus bekerja dengan orang lain.

    Untuk tipe ini, istri harus ekstra sabar, dengan lembut namun jelas, istri terus berusaha menyadarkan suami akan kelemahannya agar suami tidak menyalahkan keadaan, belajar menerima dan berubah. Istri sebagai tiang doa, dapat berdoa agar terjadi perubahan dalam kehidupan suami & rumah tangga; hanya Roh Kudus yang mampu mengubah pribadi seseorang, jadi jangan berpikir untuk mengubahnya dengan kemampuan sendiri. Suami pun belajar menerima keadaan, merendahkan hati untuk bekerja dengan orang lain, dan minta pada Tuhan agar diberikan kapasitas & kesempatan untuk bisa mandiri.
  5. Tapi ada pula suami yang enggan bekerja karena dia memang malas. Dia mau hidup enak tanpa mengeluarkan keringat bahkan tidak sungkan untuk memanfaatkan istri.

    Amsal 21:25 berkata, "Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja." Menghadapi suami jenis ini memang berat, sebab demi kepentingan rumah tangga, akhirnya istri yang harus bekerja dan memikul beban. Dalam kasus ini komunikasi dengan suami hampir percuma dan hubungan suami-istri bisa memburuk. Jadi, daripada bertengkar terus, istri baiknya menahan diri dan sungguh-sungguh berdoa puasa demi memenangkan pergumulan serta mengubah sikap suami. Kuncinya adalah kesabaran, kesetiaan mempertahankan ikatan pernikahan dan iman kepada Tuhan yang sanggup mengubahkan suami anda.

Seorang teman bercerita tentang suaminya yang sudah dua tahun ini tidak bekerja. Alasannya? Bukan karena tidak diterima kerja atau minimnya lowongan kerja, bukan pula karena tidak mampu bekerja. Tapi karena MALAS. Ya, suaminya malas bekerja, tidak mau berusaha, dan ingin santai.

Bagaimana dengan keuangannya? Siapa yang menafkahi? Tentu saja sang istri. Mereka memiliki satu anak yang sudah bersekolah dan seorang bayi. Lalu apa yang dikerjakan sang suami? Tiap hari kerjanya hanya bermalas-malasan. Tidur, makan, nonton TV, pergi dengan temannya dan seterusnya.

Dia sering bingung dan khawatir jika memikirkan anak-anaknya dan sudah kenyang dengan sindiran tetangga. "Kalau aku yang jadi kamu, pasti aku tinggalkan pria itu!" "Jika suamimu bertanggung jawab, tentu dia menafkahi kalian!" dan banyak kata-kata cemoohan lainnya. Sang istri sempat terpikir untuk bercerai namun urung dilakukannya, dia tetap berusaha mempertahankan rumah tangganya yang pincang itu.

Tidak ada istri yang mengharapkan keadaan demikian terjadi dalam pernikahannya. Seorang yang menikah tentunya ingin punya pasangan yang bisa saling mendukung dan menghargai. Ketika hal tersebut tidak didapatkan tentu terpikir untuk mengakhiri pernikahan... namun Firman Tuhan mengajarkan, "apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Jadi apapun masalah yang dihadapi dalam keluarga, kita harus ingat akan hal ini.

Biarlah para suami menyadari bahwa sebagai kepala rumah tangga, Tuhan memberikan tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya, Efesus 5:23 "karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." Jika suami enggan bekerja bagaimana dia bisa menyelamatkan keluarganya? Dan istri yang memiliki suami demikian tetaplah bersabar dan berpengharapan dalam Kristus yang mampu mengubahkan seseorang. Walaupun istri harus mencukupi kebutuhan rumah tangga ataupun penghasilan istri melebihi suami, janganlah melupakan hal ini, Efesus 5:22 "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan." Tetaplah saling menghargai dan saling mendukung sebagai pasangan yang setara di dalam Tuhan.

Tuhan memberkati!

Tuesday, October 19, 2010

Yesus menyembuhkan Orang Tuli dan Bisu

Markus 7:31-35

Ayat 32: ada seorang yang tuli dan gagap (bisu), orang yang tuli apalagi sejak lahir biasanya juga akan menjadi bisu karena tidak bisa mendengar otomatis tidak bisa berbicara; hal ini melambangkan diri kita yang dulunya juga tuli dan bisu secara rohani, sebelum ditolong oleh Tuhan Yesus.

Lalu bagaimana prosesnya Tuhan menyembuhkan kita?
Ada 3 proses yang terjadi:

  1. Ayat 33a: Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian.
    Dia memisahkan kita dari kehidupan lama kita (memanggil kita keluar dari dunia ini) = gereja, ekklesia. Sehingga sendirian dengan Tuhan, artinya: dekat dengan Tuhan = intim dengan Dia.

    Apa yang terjadi jika kita dekat dengan Tuhan?
    • Ada pertobatan & keselamatan
      Lukas 19:2, 5-10: Zakheus
      - Zakheus seorang pemungut cukai & kaya, ayat 7: Zakheus orang berdosa,
      - Zakheus dipanggil oleh Tuhan,
      - Zakheus menerima & membawa Tuhan dirumahnya (dekat dengan Dia),
      - Ayat 8: terjadi pertobatan = ada perubahan,
      - Ayat 9-10: terjadi keselamatan.
    • Kita bertumbuh & berbuah
      Yohanes 15:5-6: Pokok Anggur yang benar
      Tuhanlah pokok anggur yang benar dan kitalah ranting-rantingnya, kita mendapat makanan dari pokok yaitu Yesus Kristus sehingga bisa bertumbuh dan berbuah, diluar Dia... kita akan menjadi kering (tidak berguna), dibuang dan dibakar.

  2. Ayat 33b: Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu.
    Telinga: pendengaran, lidah: perkataan.

    Proses kedua yang terjadi, Tuhan mengurapi telinga kita agar bisa mendengar Firman Tuhan (bukan gosip), Dia mengurapi lidah kita agar kita memperkatakan Firman Tuhan (bukan mengutuk).

    Apa yang terjadi saat kita bisa mendengar perkataan Firman Tuhan?
    Iman kita timbul dan makin kuat
    Roma 10:17 "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."

  3. Ayat 34: Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
    Proses ketiga yang terjadi adalah saat Firman menjadi Rhema dalam hidup kita! Rhema (bahasa Yunani) yang artinya: tindakan ucapan, yaitu Firman yang menjadi nyata! Perhatikan ayat 34, Tuhan Yesus berfirman: Terbukalah! Dan apa yang terjadi di ayat 35: maka terbukalah...

    Dalam proses yang ketiga inilah mujizat terjadi karena Firman menjadi Rhema, Iman perbuatan menjadi Nyata. Jika kita mau ada mujizat dalam hidup kita maka kita harus mencapai tahapan ini yaitu ada kuasa Firman dalam hidup kita (baik dalam perkataan & perbuatan = iman yang memindahkan gunung).

    Matius 17:20 "...Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu."

    Saat iman kita dan Firman Tuhan menjadi satu maka mujizat pun terjadi, seperti yang tertulis dalam Yohanes 15:7 "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya."

    Tuhan memberkati...

    Friday, October 15, 2010

    Jam berapa sebenarnya Yesus disalibkan

    Menurut Markus: jam sembilan (Markus 15:25), sedangkan menurut Yohanes: jam dua belas, Yesus belum disalibkan (Yohanes 19:14)

    Untuk mengerti lebih jelas mengenai hal ini, mari kita mempelajari hal berikut ini...

    PERHITUNGAN WAKTU MENURUT YAHUDI:
    Orang Yahudi membedakan perhitungan waktu antara 'malam' dan 'hari'. Perhitungan 'hari' dimulai sejak matahari terbit, sedangkan 'malam' dimulai sejak matahari terbenam. Orang Yahudi kuno membagi malam menjadi tiga bagian yang masing-masing terdiri atas empat jam, yaitu:
    • Jam pertama ( Ratapan 2:19: Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam...),
    • Jam kedua (Hakim-hakim 7:19: Lalu Gideon dan keseratus orang yang bersama-sama dengan dia sampai ke ujung perkemahan itu pada waktu permulaan giliran jaga tengah malam...),
    • Jam ketiga (Keluaran 14:24: Dan pada waktu jaga pagi...).

    Dalam perkembangannya, malam kemudian dibagi menjadi empat bagian masing-masing lamanya tiga jam:
    • Jaga pertama dihitung mulai matahari terbenam yaitu jam 18:00 - 21:00,
    • Jaga kedua dari jam 21:00 - 24:00,
    • Jaga ketiga dari jam 00:00 - 03:00,
    • Jaga keempat dari jam 03:00 - 06:00.
    Di jaman Yesus Kristus, mereka juga masih membagi malam menjadi empat bagian yang masing-masing terdiri atas tiga jam:
    • Jam pertama disebut malam mulai dari jam 18:00 hingga jam 21:00.
    • Jam kedua disebut tengah malam mulai dari jam 21:00 hingga jam 24:00.
    • Jam ketiga disebut kokok ayam mulai jam 00:00 hingga jam 03:00.
    • Jam keempat disebut pagi mulai jam 03:00 hingga jam 06:00.
    Contohnya seperti yang tertulis dalam Matius 14:25,
    LAI: Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
    KJV: And in the fourth watch of the night Jesus went unto them, walking on the sea.

    Jam keempat malam adalah antara jam 03:00 dini hari hingga jam 06:00 pagi. Karena itu LAI menerjemahkan sebagai 'jam tiga malam'.

    Orang Yahudi menghitung 'hari' selama 12 jam dan 'malam' selama 12 jam (dibagi menjadi 4 bagian jam malam seperti diatas).

    Sedangkan perincian jam 'hari' dimulai dari matahari terbit ± pukul 06:00 pagi, sebagai berikut:
    Jam ke-1, pukul 07:00 pagi
    Jam ke-2, pukul 08:00 pagi
    Jam ke-3, pukul 09:00 pagi
    Jam ke-4, pukul 10:00 pagi
    Jam ke-5, pukul 11:00 pagi
    Jam ke-6, pukul 12:00 siang
    Jam ke-7, pukul 13:00 siang
    Jam ke-8, pukul 14:00 siang
    Jam ke-9, pukul 15:00 sore
    Jam ke-10, pukul 16:00 sore
    Jam ke-11, pukul 17:00 sore

    Mengenai jam, contoh yang paling jelas bisa dilihat di Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (Matius 20:1-16)
    • Ayat 3: kira-kira pukul sembilan pagi...
      KJV: And he went out about the third hour, and saw others standing idle in the marketplace,
    • Ayat 5: kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang...
      KJV: Again he went out about the sixth and ninth hour, and did likewise,
    • Ayat 6: kira-kira pukul lima petang...
      KJV: And about the eleventh hour he went out.
    Lalu kenapa bisa ada perbedaan antara Markus dan Yohanes?
    Karena Matius, Markus, dan Lukas menggunakan perhitungan waktu Yahudi, sedangkan Yohanes menggunakan perhitungan yang berbeda yaitu perhitungan waktu Romawi (yang sama dengan perhitungan waktu jaman sekarang).

    Kembali ke pertanyaan diawal:
    Jam berapa sebenarnya Yesus disalibkan?

    Markus 15:25
    LAI: Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan.
    KJV: And it was the third hour, and they crucified him.

    Terjemahan dari jam ketiga, yang menurut perhitungan jam Yahudi adalah sama dengan jam 9 pagi waktu sekarang.

    Yohanes 19:14
    LAI: Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"
    KJV: And it was the preparation of the passover, and about the sixth hour: and he saith unto the Jews, Behold your King!

    Terjemahan dari jam keenam, yang menurut perhitungan waktu Romawi adalah sama dengan jam 6 pagi waktu sekarang (jadi tidak perlu diubah seperti di Markus yang menurut perhitungan Yahudi).

    Injil Yohanes ditujukan kepada pembaca Romawi dan Yunani, oleh karena itu Yohanes menggunakan perhitungan waktu Romawi bukan perhitungan Yahudi. Yohanes menulis jam keenam yang maksudnya adalah memang benar-benar jam 6 pagi (menurut perhitungan Romawi) yaitu saat Pilatus memberi keputusan terakhir dan Yesus belum disalib. Markus menulis jam ketiga (jam sembilan pagi menurut perhitungan Romawi), yaitu saat Yesus Kristus mulai disalibkan.

    Jadi kedua ayat ini sama sekali tidak bertentangan. Yesus disalibkan pada jam 9 pagi, seperti yang ditulis oleh Markus.

    Contoh lainnya mengenai perhitungan waktu Romawi yang digunakan Yohanes dapat kita pelajari di Yohanes 4:6,
    LAI: Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
    KJV: Now Jacob's well was there. Jesus therefore, being wearied with his journey, sat thus on the well: and it was about the sixth hour.

    LAI menerjemahkan jam keenam sebagai ‘pukul dua belas’ menurut perhitungan waktu Yahudi, padahal itu tidak sesuai, kenapa? Karena kebiasaan menimba air di tanah Palestina dilakukan pada pagi dan sore hari, tidak pernah dilakukan di tengah hari yaitu jam dua belas seperti terjemahan kisah wanita Samaria itu. Jadi jelas, Yesus duduk di sumur Yakub pada jam enam sore, bukan jam dua belas seperti yang diterjemahkan.

    GBU

    Sunday, September 19, 2010

    Yesus menyembuhkan Orang Lumpuh

    Markus 2:1-12












    Ada 3 hal luar biasa yang terjadi dalam Markus 2:1-12 ini, sebelum Yesus melakukan mujizat dengan menyembuhkan orang lumpuh. Tiga hal yang juga harus kita lakukan/alami sebelum menerima mujizat:

    1. Ayat 1-2: Yesus kembali ke Kapernaum setelah melakukan perjalanan pelayanan ke Galilea. Yesus lalu mengajar di rumah-Nya dan banyak orang datang sampai diluar rumah. Lukas 5:17 mencatat bahwa yang datang itu dari berbagai latar belakang dan berbeda asalnya: ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem.

      Jadi yang datang saat Yesus mengajar adalah campuran masyarakat umum dan imam-imam tingkat tinggi, bukan hanya orang biasa tapi juga kalangan atas; hal luar biasa yang pertama: banyak orang datang mencari Yesus.

      Kenapa hal ini luar biasa? Saat ini kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi pada masa itu tidak banyak yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan; namun demi mendengar Yesus dan melihat kuasa-Nya, mereka rela datang dari jauh (Yerusalem ke Kapernaum sekitar 120 km, kira-kira seperti Jakarta-Bandung) dan berdesak-desakan; padahal sebagai manusia, Yesus dikenal anak tukang kayu (Matius 13:55).

      Namun demikian motivasi orang-orang yang hadir juga berbeda-beda, ada yang memang tulus ingin belajar, ada yang cuma ingin nonton, ada pula yang berniat buruk... contohnya: orang Farisi dan ahli Taurat yang hadir, mereka adalah orang-orang terpelajar yang mengerti Firman Tuhan, sarjana-sarjana agama; tapi mereka tidak percaya, ragu-ragu atas perkataan Yesus; mereka hadir bukan hanya untuk mendengar Firman-Nya, tapi juga untuk mencari kesalahan-Nya, menjebak-Nya sehingga dengan demikian mereka bisa menghukum Yesus.

      Tapi Yesus adalah Tuhan, dan Dia bisa melihat jauh di dalam hati setiap orang. Dia tahu apakah kita hanya Kristen KTP atau Kristen sejati, apakah kita hanya percaya-percayaan atau sungguh-sungguh percaya... Jadi untuk bisa menerima mujizat, hal pertama yang kita lakukan: datang mencari Tuhan Yesus dengan sikap hati yang benar.
    2. Saat Yesus sedang mengajar, terjadi pula hal luar biasa yang kedua yaitu: 4 orang datang lalu membuat lubang di atap dan menurunkan tilam yang membawa teman mereka yang lumpuh ke dalam ruangan dimana Yesus berada.

      Pada jaman itu, bentuk rumah tidak tinggi dan atapnya datar, sehingga dapat dicapai dengan tangga yang dipasang di salah satu dinding diluar rumah. Atap rumah biasanya dijadikan tempat untuk menyimpan barang. Orang-orang yang membawa orang yang lumpuh ini naik dengan tangga diluar hingga ke atap rumah, lalu memindahkan bagian atap rumah dan menurunkan orang lumpuh ini ke dalam ruangan. Karena atap rendah, tidak butuh waktu lama untuk menurunkannya dari atap hingga sampai ke hadapan Yesus.

      Kenapa hal ini termasuk luar biasa? Karena tindakan yang mereka lakukan menunjukkan kekuatan iman mereka! Alkitab menuliskan, bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Perbuatan 4 orang ini menunjukkan kwalitas iman mereka, naik ke atap, membuka atap lalu menurunkan orang lumpuh memang tidak sulit tapi bukan hal yang mudah juga; yang istimewanya mereka terpikir untuk melakukan hal itu demi iman percaya mereka bahwa Yesus bisa menyembuhkan temannya yang lumpuh. Hal kedua: miliki iman dan tunjukkan dalam tindakan (iman yang benar)!
    3. Hal ketiga yang paling luar biasa adalah saat Yesus melakukan sesuatu yang mengherankan orang banyak, Ia berkata pada orang lumpuh itu: dosa-dosanya telah diampuni! Ini adalah hal yang paling luar biasa yang Yesus lakukan dalam pelayanan-Nya yaitu: pengampunan dosa.

      Mungkin ada yang berpikir, kenapa Yesus tidak lebih dulu menyembuhkan orang lumpuh itu? Seharusnya Yesus menyembuhkan orang lumpuh itu, baru bicara soal pengampunan. Tapi Tuhan tidak pernah salah... Yesus melihat ke dalam hati bahwa hal utama yang dibutuhkan manusia adalah kesembuhan rohani, baru kesembuhan fisik.

      Perjumpaan dengan Tuhan Yesus menyembuhkan rohani kita, membuat hidup kita berbalik dan berubah oleh kuasa pengampunan-Nya. Dulu kita semua orang yang lumpuh rohani tapi sejak berjumpa dengan Tuhan Yesus, kita disembuhkan dan dapat berdiri diatas batu keselamatan Kristus. Hal ketiga, agar menerima mujizat maka pastikan kita sudah hidup benar (tidak menyimpan dosa).

      Di balik setiap mujizat fisik yang Kristus kerjakan pasti ada mujizat kesembuhan rohani, dan itulah mujizat terbesar yang Dia kerjakan!

      2 Korintus 5:17 "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

      Those people who become Christians become new persons.
      They are not the same anymore, for the old is gone. A new life has begun.

    Tuhan memberkati!

    Sunday, September 5, 2010

    Hubungan antara Orang Tua dan Anak

    Di dalam Alkitab, anak-anak dipandang sebagai karunia Allah. Anak-anak harus dikasihi, dihargai dan dihormati seperti orang dewasa. Mereka penting di mata Allah dan dalam kerajaan Sorga (Matius 18:1-6, 10). Anak-anak juga diberi tanggung jawab: menghargai dan menghormati orang tua, peduli terhadap mereka, mendengarkan mereka, dan patuh kepada mereka (Keluaran 20:12, Amsal 1:8, 13:1, Markus 7:10-13, Efesus 6:1).

    Efesus 6:1-3 mengatakan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi."

    Meskipun dalam tulisannya yang lain, rasul Paulus memberi kritikan tajam kepada anak-anak yang tidak patuh (Roma 1:30, 2 Timotius 3:1-2), namun itu tidak berarti bahwa anak-anak harus selamanya patuh. Jika orang tua meminta mereka untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Firman Allah, maka mereka harus ingat bahwa hukum Allah selalu memiliki prioritas yang lebih tinggi daripada perintah manusia (Kisah 5:29). Untuk anak-anak yang sudah dewasa dan meninggalkan orang tua mereka untuk membangun keluarga yang baru, mereka pun tidak terbebas dari tanggung jawab untuk menghormati orang tua mereka. Tanggung jawab menghormati orang tua itu tetap ada selama orang tua masih hidup.

    Sebaliknya orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberi teladan perilaku orang Kristen yang dewasa, mengasihi anak-anak mereka, peduli terhadap kebutuhan mereka, mengajar anak-anak dan mendisiplin mereka dengan sungguh-sungguh (Amsal 22:6, Kolose 3:21). Efesus 6:4 mengatakan, "... janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."

    Pada Perjanjian Lama, ada bagian yang menyatukan semua prinsip dan merangkum ajaran Alkitab dalam hal mengasuh anak. Meskipun bagian ini ditulis untuk bangsa Israel sebelum mereka memasuki tanah perjanjian, Firman ini sangat praktis digunakan dalam membesarkan anak dan merupakan bimbingan bagi para orang tua Kristen di zaman modern ini.

    "Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:1-7).

    Dari Firman tersebut diatas, kita tahu hal-hal yang perlu dilakukan sebagai orang tua adalah:

    1. Mendengarkan Firman
      Orang tua yang baik mau mendengarkan perintah Allah, mengerti perintah itu dengan sungguh-sungguh sehingga “tertanam dalam hati” dan menjadi bagian dari dirinya. Proses ini dimulai melalui keteraturan dalam mempelajari Firman Tuhan, yaitu Alkitab, dan dengan pertolongan Roh Kudus sehingga Firman Tuhan menjadi jelas bagi kita.
    2. Melakukan Firman
      Pengetahuan saja tidaklah cukup. Selain mendengarkan, orang tua harus taat pada ketetapan dan perintah Allah serta melakukannya. Bila orang tua tidak menunjukkan keinginan untuk taat pada Allah, pada gilirannya anak-anak mereka juga tidak akan memiliki keinginan untuk taat orang tua mereka.
    3. Mengasihi Allah
      Allah berfirman agar orang tua mengasihi Allah dengan sepenuh hati, jiwa, dan kekuatan. Perhatikan bahwa penekanannya di sini adalah untuk orang tua. Orang tua harus menyadari bahwa mereka lebih dulu ada untuk mengasihi dan melayani Allah, dan tidak ada yang boleh menggantikan prioritas yang utama tersebut. Jika orang tua diberi anak, maka mengasuh anak merupakan salah satu dari tujuan hidup kita, tetapi bukanlah satu-satunya tujuan hidup kita.
    4. Mengajar Anak
      Dalam mengajar anak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua:
    • Tanggung jawab ayah dan ibu
      Meskipun mengasuh anak bukanlah satu-satunya tugas orang tua dalam hidup ini, tapi tanggung jawab ini penting dan tidak dapat diremehkan. Pendidikan anak-anak tidak hanya dilakukan oleh ibu saja atau ayah saja, tetapi harus oleh ayah dan ibu. Kejadian 1:27, "Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan..."
    • Gambar Allah secara sempurna ada pada laki-laki dan perempuan, pada suami dan istri, pada ayah dan ibu. Jika kita ingin mendidik anak kita dengan benar, maka peran serta ayah dan ibu dibutuhkan, sehingga anak dapat melihat gambar Allah dengan sempurna.

    • Dengan berulang-ulang
      Ulangan 11:19 mengatakan, "Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."

      Firman menyampaikan bahwa mengajar bukanlah suatu usaha yang hanya cukup sekali dilakukan. Orang tua harus mengajar anak-anaknya dengan berulang-ulang setiap hari, siang dan malam, karena dengan demikian anak akan ingat dan mengerti apa yang diajarkan orang tuanya. Sebagai orang tua jangan pernah kita bosan mengajar anak-anak kita, karena Tuhan pun demikian terhadap kita.
    • Dengan teladan
      Dalam mendidik anak, seharusnya orang tua tidak hanya bicara, tetapi lebih banyak memberikan teladan kepada anak. Dalam mengajarkan Firman Tuhan, orang tua harus terlebih dulu menunjukkan melalui perbuatannya sendiri sebagai contoh kepada anaknya. Jika dipraktekkan hal ini tentunya akan lebih mudah bagi orang tua dalam mengajarkan sesuatu kepada anaknya. Ingatlah, Tuhan Yesus saja mau datang ke dunia untuk memberi teladan bagi kita, "sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." Yohanes 13:15
      • Bagaimana cara memberi teladan yang baik?

        • Supaya anak-anak menjadi orang yang dapat dipercaya, anda perlu percaya kepada diri anda sendiri.

        • Supaya anak-anak menjadi rendah hati, anda perlu menunjukkan kerendahan hati dengan mengakui kesalahan anda dan meminta maaf.

        • Supaya anak-anak mendengarkan anda, luangkan waktu untuk mendengarkan mereka bukan memaksakan pandangan kita sendiri (yang diperlukan adalah kemauan untuk mendengarkan saja, tidak harus menyetujuinya).

        • Supaya anak-anak bisa menghargai, anda perlu memberi penghargaan pada mereka, penghargaan itu bisa berupa pujian atau pengakuan secara verbal untuk perilaku positif yang telah dilakukan.

        • Supaya anak-anak menghormati, jangan remehkan mereka, pahami perasaan dan pandangan mereka.

        • Supaya anak-anak jujur, anda pun perlu menepati setiap janji pada anak anda dan mengatakan yang benar pada diri anda sendiri.

        Matius 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka..."

        Jadi mendidik anak-anak dengan teladan yang baik, artinya sebagai orang tua kita harus menjadi contoh bagi anak-anak kita, apa saja yang kita kehendaki supaya mereka lakukan kita lakukan lebih dahulu di hadapan mereka; jika kita mau anak kita hidup benar, maka sebagai orang tua, kita harus lebih dulu hidup benar bagi anak-anak kita...

      Tuhan memberkati!

      Sunday, August 8, 2010

      Iman yang Kuat untuk meraih Janji Tuhan

      Tahun 2010 adalah tahun pemulihan dan kelimpahan, bicara mengenai pemulihan dan kelimpahan bisa diibaratkan seperti perjalanan bangsa Israel yang keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian.

      Ulangan 11:8-12
      Tanah Mesir (ayat 10) adalah tanah dimana setelah menabur benih harus diberi air dengan jerih payah, sedangkan Tanah Perjanjian (ayat 9c, 11-12)adalah:
      1. Suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,
      2. Yang mendapat air sebanyak hujan turun dari langit,
      3. Negeri yang dipelihara Tuhan dari awal sampai akhir tahun.

      Tanah perjanjian berbicara mengenai keadaan yang penuh kelimpahan berkat, seperti surga di bumi. Pertanyaannya buat kita semua... apa yang harus kita lakukan agar bisa menerima janji Pemulihan dan Kelimpahan ini?

      Dalam Ulangan 11:8, dikatakan bahwa, "kamu harus berpegang pada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negeri, ke mana kamu pergi mendudukinya." Jadi agar bisa masuk dalam Tanah Perjanjian maka hal utama yang harus dilakukan bangsa Israel adalah berpegang pada seluruh perintah TUHAN!

      Kenapa kita harus berpegang pada seluruh perintah TUHAN, ayat 8 diatas mengatakan yaitu: supaya kita KUAT! Apanya yang kuat?
      IMAN-nya yang kuat. Orang yang kuat di mata Tuhan bukanlah yang berotot dan kekar seperti Simson atau Hercules, tapi orang yang beriman teguh seperti Abraham, Nuh dan pahlawan-pahlawan iman lainnya.

      Iman yang kuat itu berguna agar kita bisa masuk dan menduduki (dalam KJV, dipakai adalah kata "possess" yang artinya: mencapai, meraih) Tanah Perjanjian; demikian pula dalam kehidupan ini, jika kita ingin meraih janji hidup kelimpahan yang dijanjikan Tuhan maka kita pun harus memiliki iman yang kuat!

      Kenapa kita butuh iman yang kuat jika ingin meraih janji-Nya?
      Kembali kita lihat perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir sampai ke Tanah Perjanjian (= perjalanan hidup seorang percaya, mulai dari meninggalkan hidup lamanya sampai meraih janji Tuhan).

      Dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian, mereka harus melewati Padang Gurun. Sebagai orang percaya, kita pun harus siap melewati setiap padang gurun yang ada dalam hidup kita, sama seperti bangsa Israel. Perhatikanlah... semua tokoh dalam Alkitab harus melewati padang gurun sebelum mereka dipakai oleh Tuhan dan meraih janji-janji-Nya; bahkan Tuhan Yesus sendiri juga melewati padang gurun tersebut.

      Padang gurun bukanlah tempat yang enak, suhu disana ekstrem, jika siang sangat panas, jika malam sangat dingin... Kehidupannya juga keras karena sumber makanan dan minuman sangat minim, belum lagi ancaman hewan-hewan berbisa seperti kalajengking dan ular, lalu ada pula ancaman badai pasir, dan lainnya. Padang gurun adalah gambaran keadaan yang:
      - Kering, gersang, tandus,
      - Sumber daya yang terbatas,
      - Gangguan/masalah (pencobaan, godaan, jebakan, dan lainnya)

      Padang gurun, bahasa Inggrisnya: "desert" atau "wilderness" yang berasal dari kata wildness artinya tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Singkatnya padang gurun adalah tempat yang keadaannya tidak enak dan tidak dapat kita kontrol, karena itu ada banyak orang yang bersungut-sungut saat berada di padang gurun seperti: Kenapa koq setelah ikut Tuhan... hidupku malah jadi tidak enak ya? Atau kenapa hidup orang yang fasik malah enak-enak saja?

      Walaupun bukan tempat yang baik, justru saat berada di padang gurun... kita dapat melihat dan merasakan penyertaan, mujizat serta pertolongan Tuhan dalam hidup kita; bukankah demikian yang dialami bangsa Israel saat berada di padang gurun: diberi manna setiap hari, pakaian tidak menjadi buruk, dituntun oleh tiang awan/tiang api, dan sebagainya.

      Dalam keadaan yang tidak enak di padang gurun rohani, hanya yang kuat rohani yang dapat bertahan dan pada akhirnya meraih Janji Tuhan. Kuat rohani berarti mempunyai iman yang kuat, bagaimana caranya agar kita bisa punya iman yang kuat?
      Ada 4 langkah, kita sebut dengan 4 M, sebagai berikut:
      1. Mendengar (Membaca) Firman Tuhan: Roma 10:17 "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." Tidak cukup hanya mendengar Firman di kebaktian, tapi harus ditambah pula dengan membaca Alkitab, tapi mulai sekarang bacalah dengan suara agar kita juga mendengar dan iman pun bertumbuh,
      2. Merenungkan Firman: merenungkan berarti meneliti, menggali kebenaran Firman dengan bertanya dan mencari jawabannya. Mazmur 1:2-3 ...jika kesukaan kita adalah Firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam, maka Tuhan akan menjadikan apa saja yang kita perbuat berhasil.
      3. Melakukan Firman: Ulangan 6:8 "Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu." Kita jadi saksi yang hidup yang artinya hidup kita sesuai Firman Tuhan, tidak munafik, tidak menjadi batu sandungan. Kehidupan kita ditandai dengan Firman yang menjadi hidup dalam kehidupan kita.
      4. Membagikan Firman: sharing Firman, bersaksi, memberitakan Firman. Memberitakan firman bukan berarti harus menjadi pengkhotbah atau pendeta, tapi bisa dengan kita bersaksi pada orang-orang sekeliling atau yang kita temui (ingat Amanat Agung).

      Tahun 2010 adalah tahun pemulihan dan kelimpahan, untuk meraihnya kita harus punya iman yang kuat; dan untuk punya iman yang kuat... kita harus memulainya dengan membiasakan diri membaca dan mendengar Firman Tuhan setiap hari.

      Tuhan memberkati!