Saturday, April 13, 2013

Tidak saling menuntut

Owa Jawa (hylobates moloch) adalah sejenis kera kecil yang hidup di Pulau Jawa, meskipun banyak penduduk di Pulau Jawa yang tidak mengetahui keberadaan satwa yang sudah di ambang kepunahan ini. Owa Jawa, sebagaimana beberapa jenis owa lain, biasanya hidup berpasangan dan monogami. Untuk mendapatkan pasangan yang cocok, Owa Jawa kadang memerlukan waktu yang panjang. Namun setelah mendapatkannya, pasangan ini akan bertahan seumur hidup. Benar-benar tak tergantikan. Jika pasangannya mati, owa tersebut biasanya tidak akan mencari pasangan lagi. Sampai mati.

Cinta kasih kita sebagai manusia tentu semestinya melebihi cinta kasih satwa. Walaupun kini tengah marak fenomena perceraian dalam hubungan suami-istri, tetapi yang Tuhan kehendaki adalah hubungan yang harmonis layaknya Tuhan dengan jemaat-Nya. Efesus 5 dengan jelas menggambarkan hubungan ini. Ada cinta kasih dan kesetiaan yang dibutuhkan dalam hubungan antara suami dan istri - yakni seperti Kristus dengan jemaat-Nya. Dan, hubungan yang dipersatukan oleh Allah harus dipelihara dengan baik sebagai wujud ungkapan syukur terhadap Tuhan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9).

Akan tetapi realita saat ini justru sebaliknya. Banyak perceraian terjadi karena ada ketidakpuasan dalam rumah tangga. Dalam membina rumah tangga, suami dan istri seharusnya bisa saling menyatakan cinta kasih tanpa memiliki sikap menuntut dan dituntut.

Jika melihat Firman Tuhan dalam Efesus 5:22-23 kata ‘tunduklah’ seperti menjadi suatu tuntutan sikap bagi istri kepada suami. Isteri harus tunduk pada suami, seperti halnya seorang bawahan kepada atasan/kepalanya. Namun isteri pun seolah bisa menuntut agar suami mengasihinya seperti yang tertulis dalam ayat 25. Istri menuntut suami agar dikasihi dan suami menuntut istri agar tunduk kepadanya. Masing-masing melihat apa yang jadi bagian pihak lain, apa yang harus dilakukan oleh pasangannya...sungguh disayangkan, kenapa masing-masing tidak lebih dulu mengerjakan apa yang jadi bagiannya?

Tidaklah heran apabila yang terjadi akhirnya malah masing-masing pihak saling menuntut haknya dalam rumah tangga. Suami atau istri lebih mementingkan kepentingannya sendiri bukan pasangannya. Kenapa hal ini bisa terjadi padahal pada masa awal kisah cinta kasih sikap mereka tentunya tidak demikian. Matius 24:12 mencatat: “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Kedurhakaan yang dimaksud disini dalam bahasa Inggrisnya tertulis: iniquity yang bisa diartikan sebagai ketidakadilan, kelaliman, perbuatan salah atau bahkan ketidaksusilaan.

Perjalanan cinta kasih setiap pasangan tentunya tidak selalu mulus-mulus saja, ada banyak hal yang terjadi apalagi dalam membina rumah tangga, kurangnya waktu untuk berkomunikasi, kesibukan pekerjaan, atau ada perbuatan suami yang tidak berkenan pada istrinya dan sebaliknya, namun apapun yang diperbuat oleh pasangan kita...jangan sampai hal itu membuat cinta kasih yang awalnya ‘panas’ menjadi ‘dingin’.

Cinta kasih yang memudar menyebabkan suami atau istri mulai saling menuntut, padahal seharusnya cinta kasih yang sejati itu adalah cinta kasih tanpa menuntut dan dituntut... Seperti kasih Kristus kepada kita, Dia yang telah melepaskan hak-Nya sebagai Anak Allah, memberi diri-Nya disiksa bahkan disalib untuk menebus dosa kita tanpa paksaan, bahkan saat kita masih berdosa dan belum menyadarinya, dan semuanya itu dilakukan oleh Kristus semata-mata hanya karena cinta kasih-Nya pada kita, kasih yang tidak menuntut, kasih yang tidak dipaksa, kasih yang sejati!

Sesungguhnya rumah tangga Rani tampak bahagia dan tak ada kekurangan yang bisa dicela oleh orang-orang yang melihatnya. Akan tetapi jika dilihat di dalamnya, yang terjadi sesungguhnya adalah sandiwara. Rani dan Roni, suaminya, berada dalam jarak psikologis yang sulit disatukan.

Masing-masing merasa tidak butuh dengan pasangannya. Rani asyik dengan kesibukannya mengurus Cindy, anak satu-satunya yang kini masuk Playgroup. Roni sibuk dengan usaha yang amat menguras tenaga, waktu dan juga perhatiannya. Sesampai di rumah, keinginan Roni hanyalah istirahat, melepas lelah. Ia tidak ingin diganggu oleh isteri dan ulah anaknya. Sementara, Rani sebenarnya ingin bisa berbagi cerita, ingin dimanja dan mendapatkan perhatian dari Roni.

Namun karena keinginannya hampir tidak pernah menjadi nyata, semakin lama Rani mulai berusaha untuk memupus angan-angan indahnya berumah tangga. Ia mulai melaksanakan semua kegiatannya sendirian. Ia belajar menyelesaikan semua masalahnya sendiri, karena Roni tak mau mengerti. Ia bahkan mengurus anaknya sendiri, dan akhirnya iapun mulai menikmati hidup sebagai seorang yang mandiri, kendatipun memiliki suami.

Kondisi ini terus berlangsung sehingga Rani dan Roni mulai merasakan nyaman dalam keadaan kesendirian, dan perlahan merasa tidak saling membutuhkan lagi.

Jika hal ini terus dibiarkan, tentunya cinta Rani dan Roni akan menjadi padam dan akhirnya konflik yang terjadi dengan mudah akan menggoyahkan serta mengoyak hubungan rumah tangga yang sudah menjadi tawar ini.

Sebelum terlambat, Roni harus mau merelakan dirinya untuk tetap memperhatikan Rani dan anaknya, dalam keadaan sesibuk apapun juga. Ingatlah bahwa setelah Tuhan, keluarga adalah prioritas yang berikutnya, bukan usaha atau pekerjaan. Kerelaan Roni untuk melepaskan haknya untuk istirahat setelah lelah bekerja dan menyediakan waktu lebih bagi Rani, akan menjadi titik balik keharmonisan dalam rumah tangganya.

Ketika kita mulai merasa tak lagi mencintainya.
Ingatlah disaat kita ‘tergila-gila’ kepadanya.

Ketika kita mulai tak peduli kepadanya.
Ingatlah disaat kita mengharap cinta kasihnya.

Ketika kita mulai merasa bosan kepadanya.
Ingatlah disaat dia menerima cinta kita begitu tulusnya.

Ketika kita mulai meninggalkannya.
Ingatlah disaat pertama kita selalu ingin bersamanya.

Dan ketika kita ingin menduakannya.
Ingatlah dia yang selalu menunggu kita dengan setianya.

Cinta kasih yang sejati bukan muncul dari keinginan atau kepentingan pribadi, tetapi dari kesadaran untuk rela memberi (melepaskan haknya) bagi pihak lain, tanpa menuntut, tanpa dipaksa. Dan karena kita sudah menerimanya dari Kristus maka seharusnya kita pun bisa memberikannya kepada orang lain, apalagi jika orang lain itu adalah pasangan hidup kita, yang sedari awal...sudah kita pilih dari semua pria atau semua wanita yang ada di bumi ini untuk dikasihi sampai mati.

TRUE LOVE NEVER DIES

Friday, February 1, 2013

Berjaga-jaga

Memasuki tahun 2013 banyak berita mengenai kiamat yang dihubung-hubungkan dengan berakhirnya kalendar suku maya atau isu lainnya. Saya sendiri pernah melihat acara tv tentang persiapan orang-orang dalam menghadapi kiamat (doomsday) atau akhir dunia ini.

Pertanyaan penting untuk kita, apakah persiapan kita sebagai orang percaya dalam menghadapi akhir dunia ini?

Firman Tuhan mengatakan bahwa sebelum kesudahan dunia ini Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya. Hal ini penting bagi orang percaya, kenapa? Karena Alkitab mencatat bahwa sebelum akhir zaman, akan ada satu zaman kesukaran besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, sejak bumi ini diciptakan dan tidak akan ada lagi, yaitu zaman antikris. "Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa." (II Tesalonika 2:3)

Kita yang percaya tentunya tidak ingin mengalami zaman kesukaran besar itu. Akan ada satu peristiwa yang mendahului zaman antikris yaitu rapture, kedatangan Tuhan Yesus di angkasa untuk menjemput mempelai-Nya; barangsiapa ikut diangkat (rapture) maka dia terluputkan dari masa kesukaran besar di bumi dan menikmati pesta perjamuan kawin Anak Domba di sorga.

Jadi, bicara akhir zaman itu bisa berarti dua hal:

Pertama, kiamat yang sesungguhnya, tapi jika melihat konteks waktu maka hal itu masih cukup lama karena harus melewati beberapa moment seperti: rapture, zaman antikris, zaman 1000 tahun damai, baru tibalah waktunya kiamat atau akhir zaman atau akhir dunia yang kita kenal sekarang ini. Bagi orang percaya, yang lebih penting untuk kita persiapkan adalah menyambut kedatangan Tuhan di angkasa (rapture) dibandingkan akhir zaman/kiamat itu.

Kedua, akhir zaman (zaman = waktu) bisa juga berarti berakhinya waktu hidup kita di dunia, alias mati/meninggal dunia. Hal kematian ini penting untuk dipersiapkan, karena umur seseorang tidak ada yang tahu (kecuali Tuhan). Kematian bisa datang sewaktu-waktu oleh sebab alami ataupun tidak, dan tidak musti menunggu tua...yang muda pun bisa dipanggil Tuhan jika sudah waktunya.

Matius 25:13 mencatat: "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." Kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang kedua kalinya di angkasa (rapture) dan kita juga tidak tahu kapan kita akan mati. Maka untuk kedua hal inilah kita harus berjaga-jaga agar kita siap seandainya waktunya tiba!

Perbuatan berjaga-jaga seperti apa yang Tuhan mau?

Kita lihat dalam Firman Tuhan, apa yang dilakukan oleh seseorang yang pernah mengalami 'rapture'

Kejadian 5:21-24 "Setelah Henokh hidup enam puluh tahun, ia memperanakkan Metusalah. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah."

Perhatikan kata: Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu dia diangkat oleh Allah (rapture).

Bagaimana caranya bergaul dengan Tuhan?

Pada suatu hari, di tempat lain, dalam suasana yang sedikit berbeda, seorang yang mengaku bergaul dengan Tuhan Yesus, menghubungi Tuhan Yesus, dan berbicara sebagai berikut: "Oh Tuhan Yesus, saya ingin berbicara dengan Engkau; begini Tuhan, saya sudah berbicara dengan pak A dan dia bersedia untuk belajar mengenai Engkau, Tuhan. Dan pak B juga sudah saya beritahu bahwa Tuhan Yesus selalu mau menolongnya. Tolong ya Tuhan, pak B sungguh memerlukan pertolonganMu. Dan pak C, yang di seberang rumah kami ini Tuhan, juga ada masalah yang memerlukan bantuan Tuhan juga. Oh ya, saya juga memerlukan bantuan-Mu Tuhan, tolonglah Tuhan mengusahakan suatu pekerjaan bagi anak saya yang baru tamat sekolah itu. Berilah berkat-Mu ya Tuhan, tolonglah anak itu, pasti dia akan rajin menyampaikan persembahan persepuluhannya! Satu hal lagi, Tuhan, isteri saya mulai kena rematik dan sangat perlu perawatan dari padaMu. Tolong jamah dia Tuhan, sembuhkanlah dia. Terimakasih Tuhan Yesus, dalam namaMu yang kudus saya sudah berdoa, AMIN."

Plop, mata dibuka, lalu selesailah doanya, dan tinggallah Tuhan Yesus termangu-mangu, belum sempat berbicara apa-apa; ditinggal bersama setumpuk 'tugas' yang harus diselesaikan-Nya sendiri?!

Kalau cara kita selama ini bergaul seperti demikian terus-menerus maka BERTOBATLAH karena siapa sebenarnya yang jadi BOSS-nya, kita atau Tuhan??

Pergaulan yang benar bukanlah bicara satu arah, harus berupa pembicaraan dua arah. Inilah definisi pergaulan:
(1) Pembicaraan dua arah
(2) Bekerja sama, saling membantu, timbal-balik
(3) Memiliki gagasan-gagasan yang sama, untuk landasan kerja-sama tadi
(4) Pada puncak keakraban: sehati-seperasaan alias sepakat dengan Tuhan (bukan Tuhan dipaksa sesuai hati kita)!

Gambaran ini pula yang seharusnya dapat kita lihat dalam hubungan pasangan suami-istri yang akrab/intim.

Jadi, pergaulan yang benar dengan Tuhan, kita mulai dari:

1. Mengenal Tuhan melalui Firman-Nya, apakah kita sudah baca Alkitab setiap hari? Apakah kita sudah merenungkan Firman itu siang dan malam?

2. Bicara dengan Tuhan melalui doa yang benar, lihat dalam:

Yakobus 5:16b "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."

Yakobus 5:17 "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan."

Contoh doa yang Tuhan sendiri ajarkan yaitu: Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13)

3. Melakukan kehendak-Nya, Yoh 15:14 "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu."

Apa yang jadi perintah/hukum-Nya?
Inilah perintah/hukum yang utama (Matius 22:37-39):

I. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

II. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Jika kita bisa melakukan kedua perintah diatas maka itu sama artinya dengan melakukan kehendak-Nya.

Tuhan memberkati!

Sunday, November 4, 2012

My God My Hero

Tuhan Yesus dikenal dengan banyak sebutan, seperti yang tertulis dalam Yesaya 6:9 salah satunya adalah "Allah yang perkasa" yang juga diterjemahkan sebagai "pahlawan perkasa" atau "pahlawan ilahi." Allah sebagai pahlawan, pahlawan yang perkasa! Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, tapi pernahkah kita terpikir untuk menjadikan Dia sebagai pahlawan kita juga?

Saya mencari arti "pahlawan" melalui kamus dan inilah pengertiannya:

1. Seorang dengan kemampuan yang berani, dikagumi karena perbuatan berani dan sifat-sifat mulia.

2. Seseorang yang, menurut pendapat orang lain, memiliki kualitas heroik atau telah melakukan tindakan heroik dan dianggap sebagai model atau ideal. Contohnya: seseorang dianggap pahlawan lokal ketika ia menyelamatkan anak tenggelam.

3. Karakter pria utama dalam cerita, film dan lain-lain.

Ketika saya pertama kali membaca definisi itu, saya berpikir, "Wow, ini benar-benar cocok dengan apa yang saya tahu tentang Yesus." Bukankah Tuhan Yesus telah melakukan perbuatan-perbuatan yang berani dan memiliki sifat-sifat yang mulia? Dia bukan hanya menyelamatkan anak tenggelam tapi seluruh umat manusia. Yesus berdarah karena disiksa dan mati disalib bagi kita. Selama hidup di dunia, Dia mengendalikan pikiran-Nya, disiplin perbuatan-Nya, dan memberikan hidup-Nya untuk melakukan kehendak Allah Bapa-Nya. Dilakukan-Nya hal itu hari demi hari, tanpa pamrih hingga pada akhir ketaatan-Nya di kayu salib. Dia mengubah sejarah manusia selama-lamanya dengan mematahkan dosa turunan akibat ketidaktaatan Adam dan memberikan jalan keselamatan untuk manusia kembali hidup bersama dengan Allah seperti yang seharusnya di Taman Eden. That’s a true hero!

Sewaktu kecil banyak diantara kita yang memiliki “hero-hero” dalam pikirannya, biasanya yang dijadikan pahlawan adalah tokoh superhero yang ada dalam cerita komik atau film-film. Kenapa kita cenderung menjadikan mereka sebagai pahlawan atau idola? Karena tokoh-tokoh itu melakukan, menurut pikiran kita saat itu, sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang ingin kita tiru atau teladani.

Setiap orangtua, suami-istri, tanyakan pada anak-anak kita, siapa yang mereka jadikan pahlawan saat ini? Banyak anak-anak muda sekarang ini menjadikan aktor, aktris, penyanyi, grup musik dan sebagainya sebagai pahlawan atau idolanya. Mereka pun meniru gaya dan dandanan pahlawan yang ditirunya, bahkan mungkin cara berpikirnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Sebagai orang percaya, harusnya kita menjadikan Tuhan sebagai pahlawan kita, idola kita, teladan kita. Tuhan memang tidak kelihatan secara fisik tapi Tuhan memiliki image (gambaran) diri-Nya yang dapat dilihat, Kejadian 1:27 mencatat: “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Jadi seharusnya melalui figur laki-laki dan perempuan (baca: figur Ayah-Ibu atau Suami-Istri) maka anak-anak dapat melihat gambaran Allah secara lengkap. Sayangnya, banyak orangtua yang belum dapat memenuhi kriteria yang benar sebagai gambaran Allah. Setiap orangtua/suami-istri harus menyadari bahwa anda masing-masing membawa citra Allah dalam hidup anda, karena itu seharusnya orangtua bisa dan harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, sehingga anak-anak bisa melihat gambaran Allah yang sesungguhnya dan meneladaninya.

Jika seorang ayah/suami terbiasa melakukan tindakan kekerasan, memukul istri, memukul anak, mabuk atau merokok, bahkan jarang pulang, bagaimana mungkin anaknya akan menganggap ayahnya sebagai teladan? Lalu, bagaimana mungkin pula anak itu percaya bahwa Tuhan Yesus yang seharusnya tercitra dalam hidup ayahnya itu ada atau menjadi pahlawannya? Begitu pula, jika seorang ibu/istri yang sibuk bekerja atau sibuk mengurus dirinya sendiri atau lebih sering bepergian untuk arisan, shopping dan sebagainya, sehingga tidak ada waktu bagi anak-anaknya, bagaimana bisa menjadi teladan bagi mereka? Jangan-jangan anak-anaknya akan beranggapan bahwa Tuhan tentu lebih sibuk lagi dari ibunya dan lebih susah lagi untuk ditemui...

Ketidak adaan figur yang dapat diteladani dengan benar, yang seharusnya dapat dicitrakan oleh setiap orangtua sebagai gambaran Allah di muka bumi, mengakibatkan banyak anak-anak yang mencari “pahlawan-pahlawan semu” diluar rumah, yang di jaman teknologi informasi ini lebih mudah dijangkau melalui multimedia elektronik, socialmedia dan sebagainya. Hal ini tentu membahayakan kehidupan anak-anak muda, generasi penerus kita. Banyak tipu muslihat iblis yang disisipkan secara terselubung melalui musik-musik dunia atau film-film dunia atau segala keindahan dunia yang semu ini. Sebagai orang percaya, tentunya kita tidak mau melihat anak-anak kita menjadi rusak atau terpengaruh hal-hal demikian.

Marilah setiap orangtua/suami-istri terlebih dulu menjadikan Tuhan Yesus sebagai pahlawan untuk diteladani dalam hidupnya, dimulai dari ayah/suami sebagai kepala keluarga, kemudian ibu/istri sebagai tiang doa dan penolong. Saat orangtua/suami-istri melakukan hal ini maka Tuhan juga akan menjadikan mereka sebagai “pahlawan” bagi anak-anaknya, yang akan meneladani cara hidup benar dari orangtuanya. Bukankah suatu hal yang indah jika kita dan juga keturunan kita bisa hidup dan berjalan bersama “pahlawan yang sejati” yaitu Tuhan Yesus Kristus, seumur hidup kita, bahkan kita pun akan dijadikan-Nya pahlawan-pahlawan iman seperti tokoh-tokoh yang ada dalam Alkitab.

Ulangan 3:24 Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau?

Monday, October 8, 2012

Go to the Next Level

Setiap keluarga tentunya menginginkan keadaan yang lebih baik dalam segala hal. Yang tadinya belum punya rumah alias ngontrak, pasti ingin membeli rumah; yang belum punya anak tentunya ingin segera punya anak; dan sebagainya.

Masuk dalam keadaan yang lebih baik, itulah pengertian sederhana dari istilah NEXT LEVEL (naik tingkat). Naik tingkat berarti keadaan kita dipromosikan ke level yang lebih baik, bukan hanya secara rohani tapi juga secara jasmani. Tuhan rindu sekali untuk membawa anak-anak-Nya naik ke level berikutnya. Seperti janji-Nya, bahwa kita akan menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, kita akan tetap naik dan bukan turun, apabila kita senantiasa mendengarkan perintah TUHAN. Seorang yang naik tingkat berarti mendapat promosi dari Tuhan untuk makin luas pandangannya, makin besar tanggung jawab, makin mengerti apa kehendak Tuhan dan tentunya makin diberkati oleh Tuhan.

Promosi tidak hanya berdampak bagi diri kita sendiri tapi juga bagi lingkungan sekeliling kita. Contohnya dalam sebuah keluarga, jika ada anggota keluarga yang mengalami promosi, tentunya anggota keluarga lainnya juga akan turut menikmatinya. Sayangnya tidak setiap orang percaya bisa mengalami kenaikan tingkat ini walaupun sebenarnya ingin, karena tidak setiap orang sungguh-sungguh berusaha meraihnya. Banyak orang yang hanya ingin hasilnya tanpa mengikuti ujiannya, padahal tanpa ujian tidak akan ada kenaikan tingkat.

Ada seorang anak SD yang pernah bertanya kepada gurunya, “Ibu guru, apakah saya boleh tidak mengikuti ujian akhir?” Jawab bu guru, “Boleh saja kamu tidak ikut ujian, tetapi selamanya kamu harus berada di kelas ini, karena untuk bisa naik kelas, kamu harus ikut ujian dan lulus.” Tentu tidak ada seorang anak yang mau tetap di kelas yang sama apalagi jika teman-temannya sudah naik kelas/lulus sekolah. Kita pun tentu tidak mau menerima keadaan yang hanya begini-begini saja tanpa ada perubahan yang lebih baik.

Oleh karena itu setiap anak Tuhan, apalagi sebagai suami atau ayah, harus siap dan percaya bahwa melalui setiap ujian yang dihadapi, pada akhirnya akan mendatangkan promosi ke tingkat yang lebih tinggi bagi dirinya dan keluarganya. Inisiatif harus dimulai dari seorang suami atau ayah, karena Tuhan menetapkan laki-laki sebagai kepala keluarga baik secara jasmani dan rohani; tapi tentunya para istri atau ibu jangan juga melupakan perannya sebagai penolong dan tiang doa dalam rumah tangga. Dengan kesiapan suami dan dukungan istri maka setiap ujian pasti dapat dilalui, dan sekeluarga akan mengalami promosi, akan tetap naik dan bukan turun.

Bagaimana caranya agar kita bisa mengalami promosi/kenaikan tingkat?

1. Waktu Tuhan

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Jelas apa yang di sampaikan bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, dan kita tidak bisa memaksa bila belum waktunya. Kita harus menangkap pesan Tuhan melalui Gembala Pembina, bahwa tahun 2012 ini adalah tahun perkenanan Tuhan, itu berarti pula bahwa tahun ini adalah waktu-Nya Tuhan untuk mencurahkan perkenanan-Nya bagi kita, tahun ini adalah saat yang tepat bagi keluarga-keluarga dan orang percaya untuk mengalami promosi dari Tuhan. Jangan tunda lagi, berusahalah untuk meraih janji Tuhan di tahun 2012 ini sehingga multiplikasi dan promosi terjadi dalam kehidupan keluarga kita.

2. Ketaatan

Ulangan 28:1 “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.” Demikian dikatakan oleh Firman Tuhan, ketaatan pada Tuhan adalah cara untuk mengalami promosi. Ketaatan bukanlah pilihan melainkan keputusan yang harus kita ambil. Perkenanan Tuhan akan ada jika kita melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan hari-hari ini. Mari setiap ayah atau suami mengambil inisiatif untuk mengajak seluruh anggota keluarga melakukan apa yang Tuhan minta, bangun mezbah keluarga, ajarkan Firman Tuhan pada anak-anak sedari dini, dan mulai berjalan taat dalam tuntunan-Nya, pasti berkat Tuhan akan dicurahkan seperti yang dijanjikan-Nya.

3. Perubahan Paradigma

Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang berpengaruh pada cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku. Paradigma sangat berpengaruh pada cara kita hidup, sebab sebagaimana paradigma kita maka begitulah jadinya kehidupan kita. Paradigma harus diperbaharui, seperti tertulis di Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Antara suami dan istri harus ada perubahan paradigma dari keadaan sebelum dengan sesudah menikah, dari keadaan sebelum dengan sesudah memiliki anak, dan seterusnya. Setiap ada perubahan kondisi tentunya memerlukan adanya perubahan paradigma, sehingga setiap pasangan bisa beradaptasi dengan keadaan dan mengurangi friksi yang muncul. Keharmonisan dalam keluarga tercipta oleh adanya paradigma yang tepat dan tentunya kesepakatan suami-istri didalamnya.

4. Hidup oleh Roh

Roma 8:8 “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Perkenanan Tuhan sebagai syarat promosi, akan ada jika kita hidup dalam Roh bukan dalam daging. Sebagai anak Tuhan setiap hari kita harus belajar untuk melawan keinginan daging dan hidup dalam tuntunan Roh Kudus, inilah yang dinamakan peperangan rohani. Seringkali kita kurang menyadari hal ini, sehingga kita banyak dikalahkan oleh keinginan daging dan roh-roh jahat, akibatnya promosi hanya menjadi harapan bukan kenyataan. Inilah pentingnya membangun mezbah dalam keluarga kita, dengan adanya mezbah keluarga maka otomatis seorang suami atau ayah akan mengajarkan pada istri dan anak-anaknya untuk hidup dalam tuntunan Roh. Semakin sering mezbah diadakan, akan semakin peka keluarga itu pada tuntunan Roh Kudus, yang menuntun dari satu promosi kepada promosi berikutnya.

Dalam suatu acara permainan/lomba di TV, diperlihatkan berbagai tantangan yang memacu adrenalin peserta maupun penontonnya. Berbagai lomba yang penuh resiko dan tantangan tinggi diadakan, mulai dari perlombaan ketangkasan diatas ketinggian sampai perlombaan menjijikkan seperti memakan makanan yang tidak layak dimakan atau masuk dalam tempat-tempat yang menjijikan. Namun hadiah yang disediakan bagi pemenangnya adalah uang puluhan bahkan ratusan ribu dollar atau paket wisata ke luar negeri! Setiap permainan atau lomba yang menarik tentu sebanding dengan hadiahnya; lomba yang mudah, hadiahnya tentu sederhana sedangkan lomba yang penuh tantangan, imbalannya tentu hadiah yang besar pula.

Demikian pula dengan hidup kita. Semakin sulit ujian yang harus kita hadapi, semakin tinggi level yang Tuhan sediakan untuk kita capai. Karena itu, jangan menyerah! Tetap percaya dan andalkan Tuhan saat menghadapi ujian, karena kita tahu dibalik setiap ujian tersedia promosi yang menarik dari Tuhan!

Gbu...