Sunday, March 21, 2010

Kisah Orang Muda yang Kaya

Mat 19:16-22












ayat 16: Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Dari Firman diatas, ada 3 hal yang Yesus ajarkan untuk diperbuat agar kita memperoleh hidup yang kekal:

  1. Ayat 17b: Hanya Satu yang baik, KJV: there is none good but one, that is, God
    Bukan perbuatan baik kita yang menyelamatkan, tapi hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan karena hanya Dia yang baik!

    Yohanes 3:16, 14:6 menuliskan bahwa: hidup kekal hanya didapat melalui Tuhan Yesus Kristus. Jadi, pengajaran yang pertama, Percaya & Terima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Pribadi! Inilah iman keselamatan.

  2. Ayat 17c: Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah. Perintah Allah yang mana?
    Semua yang tertulis dalam ayat 18-19... dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai Perintah Allah; jadi Perintah Allah adalah 10 Firman Tuhan, The Ten Commandment.

    Yang jadi pertanyaan buat kita, apakah kita sudah lakukan ke-10 Perintah Tuhan itu?
    Kita mungkin berpikir itu kan perintah Tuhan di jaman PL, saat ini kita tidak hidup dibawah hukum Taurat lagi tapi di jaman Kasih Anugerah, jadi tidak perlu melakukan hukum Taurat, benar/salah?

    Ada Firman Tuhan mengenai hukum Taurat ini di dalam Matius 5:17-20,
    Tertulis: bahwa Tuhan Yesus bukan datang untuk meniadakan hukum Taurat tapi untuk menggenapinya... menggenapi, KJV: fulfill = melaksanakan, memenuhi, menepati, menyelesaikan. Artinya Tuhan Yesus datang untuk memenuhi apa yang dituntut oleh hukum Taurat, dengan menjadi korban penebus dosa, sekali untuk selamanya.

    Tuhan juga berkata siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat, akan duduk di tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Sorga, yang melakukan dan yang mengajarkannya akan menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Sorga.
    Bahkan di ayat 20 disampaikan: jika hidup rohani kita tidak lebih benar dari hidup ahli Taurat & orang Farisi, kita tidak akan masuk dalam Kerajaan Sorga.

    Jadi hal kedua yang harus dilakukan adalah Menuruti Firman Tuhan = jadi pelaku Firman
  3. Kembali ke Matius 19:20, orang muda itu berkata: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" berarti kesepuluh perintah Tuhan sudah dilakukan oleh orang muda tersebut, sehingga bisa dikatakan... menurut hukum Taurat maka orang muda ini sudah sempurna, tapi di ayat 21, Tuhan menjawab: Jikalau engkau hendak sempurna... kenapa Tuhan masih bilang jika hendak sempurna?

    Anak muda ini adalah keturunan Yahudi, yang sejak kecil sudah dilatih cara hidup sesuai hukum Taurat, 10 Perintah Tuhan. Tapi perhatikan apa kata Firman Tuhan tentang cara hidup ahli Taurat & orang Farisi, dalam Matius 23:27, ...luarnya tampak bersih tapi dalamnya penuh kotoran.
    Apa yang dilakukan melalui hukum Taurat hanya mengubah secara lahiriah tapi belum sampai mengubah hingga ke dalam, yaitu: hati !

    Jadi kenapa Tuhan Yesus mengatakan jika hendak sempurna... berarti masih ada yang kurang... Tuhan tahu masih ada hal yang belum beres dalam diri anak muda ini... apa yang belum beres itu? Mari kita lanjutkan dalam ayat 21, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

    Tuhan minta orang muda ini menjual hartanya, Tuhan tahu dia seorang yang banyak hartanya, tapi bukan banyak harta yang menjadi dosanya... banyak harta bukan dosa, tapi yang belum beres dalam diri orang muda ini adalah karena hatinya masih terikat dengan hartanya.

    Jika dosa diumpamakan seperti rumput, seringkali kita berusaha memotong rumput-rumput tersebut, tapi apa yang terjadi jika rumput dipotong? Tidak lama kemudian, rumput itu akan bertumbuh lagi...
    Jika tidak mau rumput itu bertumbuh lagi maka satu-satunya cara hanya dengan... mencabut rumput sampai ke akar-akarnya! Demikianlah pula dengan dosa, harus dicabut sampai ke akar-akarnya...

    Apa akar dari kejahatan/dosa? 1 Timotius 6:10a

    Hal ketiga yang harus dilakukan: Bereskan hati dari kejahatan/dosa, jangan cinta uang...
    Bagaimana caranya membereskan cinta uang? yaitu dengan menjual segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin... = belajar untuk memberi!

    Siapa saja yang harus memberi? Apakah hanya orang muda yang kaya?
    Setiap dari kita yang percaya harus mulai memberi...
    Ada beberapa tingkatan dalam memberi:
    - Tingkat I: membawa persembahan persepuluhan (Mal 3:10)
    - Tingkat II: memberi seperlima (Kisah Yusuf di Kej 47:24)
    - Tingkat III: memberi setengah (Kisah Zakheus di Luk 19:8)
    - Tingkat IV: memberi seluruhnya (Kisah Maria di Yoh 12 :3, 5)

Hukum yang terutama adalah: Matius 22:37 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Perhatikan kata: segenap, dalam KJV: all = semua = seluruhnya = 100%

Tuhan tidak membutuhkan harta kita, justru Dia adalah Allah... sumber segala berkat, lalu kenapa Dia minta segenap yang kita miliki = 100%? Ingatkah kisah Janda dari Sarfat yang kekurangan dan hanya punya segenggam tepung & sedikit minyak (1 Raja 17:12)... Sedikit tepung & minyak itu = 100% nya si Janda Sarfat jika disejajarkan dengan minyak narwastunya Maria... kalau dalam kisah orang muda yang kaya, maka 100%-nya adalah semua hartanya.

Baik Janda Sarfat maupun orang muda kaya mengenal Tuhan, dan tahu bahwa Tuhan menyertai dan memberkati mereka. Tapi pilihan yang mereka ambil berbeda… Janda Sarfat memilih untuk memberi & melakukan, sedangkan anak muda itu memilih untuk pergi dan meninggalkan Tuhan. Tapi lihatlah kisah selanjutnya dari sang Janda Sarfat, saat dia memberi segalanya maka Tuhan tidak meninggalkannya, bahkan Tuhan memberkatinya dengan mujizat! Tuhan minta 100% kita untuk menguji hati kita, apakah kita masih terikat dengan apa yang ada di dunia ini... Bukankah jika kita ingin ada di sorga maka kita tidak perlu terikat dengan apa yang ada di dunia?

Apa yang telah menjadi 100%-nya kita? Berikanlah 100% itu buat Tuhan... maka kita juga akan diberkati bahkan beroleh hidup yang kekal !

sharing

Wednesday, March 3, 2010

Satu Kunci Kebahagiaan Pernikahan

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikitpun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ibu bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam pernikahan, ayah tidak memahami ibu.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur dan suka larut dalam dunia buku.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut rumah. Ayah menyatakan ketidakbahagiannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi yang menyatakan kepedihan yang dijalaninya dalam pernikahan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat dan mendengar ketidakberdayaan dalam pernikahan orangtua, tapi sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan sebenarnya mereka layak mendapatkan sebuah pernikahan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan pernikahan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku bertumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri: DUA ORANG YANG BAIK, KENAPA TIDAK MENDAPATKAN PERNIKAHAN YANG BAHAGIA?

Setelah dewasa dan memasuki pernikahan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui jawaban atas pertanyaan diatas…

Di masa awal pernikahan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, saya menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara pernikahan. Anehnya, saya tidak merasa bahagia dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak… lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia.

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata, “Istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik.” Dengan mimik tidak senang saya berkata, “Apa kau tidak melihat kalau rumah masih belum beres, anak-anak belum menyiapkan perlengkapannya?”

Tapi begitu kata-kata itu terlontar, saya pun termenung dalam hati… ternyata kata-kata itu tidak asing di telinga saya, dalam pernikahan orangtua saya, ibu juga kerap berkata yang sama kepada ayah. Saya seperti sedang mempertunjukkan kembali pernikahan orangtua, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam pernikahan mereka.

Kesadaran muncul dalam hati saya... Apa yang kamu inginkan? Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya. Ayah tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam pernikahannya... Waktu ibu menyikat panci dan mengurus rumah lebih lama daripada menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan pernikahan, ia mau memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, malah sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku, cara saya juga sama seperti ibu, pernikahan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan pernikahan yang bahagia.

Kesadaran… membuat saya bertanya pada suamiku, “Apa yang kau butuhkan, suamiku?”
“Aku membutuhkanmu untuk menemaniku, mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku,” ujar suamiku.

“Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu... dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.”

“Semua itu tidak penting lah!” ujar suamiku. “Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.” Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami terus menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memakai cara masing-masing untuk mencintai, namun bukan cara yang dikehendaki oleh pasangan.

Sejak itu, saya belajar membuat daftar kebutuhan suami, dan meletakkannya di atas meja buku, begitu pula dengan suami, dia juga membuat sebuah daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya: waktu senggang menemani suami mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan dan ciuman selamat jalan bila berangkat. Beberapa hal itu cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang sulit, seperti: dengarkan aku, jangan memberi komentar, dan lainnya.

Bagi saya ini sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengurus rumah, dan saat kebutuhan kami ini terpuaskan maka pernikahan yang kami jalani kian hari juga semakin penuh daya hidup.

Hai suami-istri, tanyakanlah pada pasanganmu: apa yang kau inginkan? Komunikasi akan menyiapkan jalan kebahagiaan dalam pernikahan. Sehingga keduanya akan melangkah dalam jalan bahagia yang memberi kehidupan dalam pernikahan.

Kini, saya tahu kenapa pernikahan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka bersikeras menggunakan cara masing-masing dalam mencintai pasangannya, tapi bukan mencintai sesuai keinginan pasangannya.


Tuhanlah yang menciptakan lembaga pernikahan, setiap pasangan pantas dan layak memiliki sebuah pernikahan yang bahagia, asalkan cara yang kita lakukan itu tepat. Memberi bukan atas kehendak kita sendiri, tapi atas apa yang pasangan kita kehendaki.

Demikianlah seperti yang tertulis dalam Efesus 5:32, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat.” Bukankah hubungan pasangan suami-istri dalam pernikahan melambangkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya? Seperti itu juga yang Tuhan mau untuk kita... mempelai-Nya... lakukan yaitu agar kita melakukan apa yang Dia kehendaki bukan yang kita kehendaki.

Tuhan memberkati!

Thursday, February 11, 2010

Pemulihan dan Kelimpahan

Tahun 2010 adalah tahun pemulihan dan kelimpahan, percayakah kita akan hal ini?
Janji Tuhan adalah janji yang luar biasa, tapi kenapa masih ada anak-anak Tuhan yang hidupnya pas-pasan, bahkan kekurangan. Apa penyebabnya? Mari kita lihat dalam Firman Tuhan…

Yoel 1:4 Apa yang ditinggalkan belalang pengerip telah dimakan belalang pindahan, apa yang ditinggalkan belalang pindahan telah dimakan belalang pelompat, dan apa yang ditinggalkan belalang pelompat telah dimakan belalang pelahap.

Dalam Alkitab, ada 41 ayat yang berhubungan dengan kata belalang, dan 37 diantaranya terdapat dlm PL. Belalang dalam PL kebanyakan dihubungkan dengan bencana musnahnya tanaman (kehilangan berkat) dan murka Allah. Ingat pada Tulah Mesir? Tulah yang ke-8 adalah wabah belalang (Kel 10:13-15), the locust.

Belalang secara umum terdiri dari 2 kelompok:

  1. Belalang pelari (cursoria): dipandang najis sesuai Imamat 11:20-23.
  2. Belalang pelempar (saltatoria), cirinya memiliki paha diatas kakinya untuk melompat: tidak najis.

Ada banyak jenis belalang di dunia ini, puluhan hingga ratusan macam, Yoel 1:4 diatas hanya menggambarkan 4 dari banyak jenis belalang di dunia ini. Dan menurut Imamat, ada jenis belalang yang boleh dan bisa dimakan... contoh: Yohanes Pembaptis yang memakan belalang (Matius 3:4).

Tapi apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan belalang-belalang dalam Yoel 1:4 tersebut?

KJV, Yoel 1:4 That which the palmerworm hath left hath the locust eaten; and that which the locust hath left hath the cankerworm eaten; and that which the cankerworm hath left hath the caterpillar eaten.

• Belalang pengerip (the palmerworm), ibrani: GAZAM, memotong
• Belalang pindahan (the locust), ibrani: ARBEH, istilah yang umum
• Belalang pelompat (the cankerworm), ibrani: YELEQ, menjilat
• Belalang pelahap (the caterpillar), ibrani: KHASIL, memakan

Berbagai jenis belalang ini adalah hama bagi produk perkebunan/sawah, karena menimbulkan kerusakan dan kerugian.

Kenapa kita membahas belalang? Karena belalang adalah salah satu pencuri berkat dalam hidup kita, khususnya berkat ekonomi. Perhatikan hal-hal yang dirusak oleh belalang adalah sektor pangan, salah satu kebutuhan utama manusia.

Apa saja akibat dari adanya ‘belalang’ dalam hidup kita?

  1. Ulangan 28:38: banyak benih yang ditabur tapi sedikit hasil yang dituai, kekurangan, tekor;
  2. Mazmur 103:34-35: segala tanaman/tumbuhan dan hasil tanah habis dimakan (tidak ada sisa), II Tawarikh 7:13: belalang memakan habis hasil bumi, hasil nol;
  3. Yoel 1:4: tekor/minus, habis-habisan, masih ditimpa masalah silih berganti.

Jadi walaupun sudah bekerja keras: menabur, menanam tapi hasilnya menuai sedikit, atau habis (tidak ada sisa) atau bahkan kekurangan; dan terus menerus ada masalah dalam hidupnya, itu tandanya masih ada ‘belalang’ di hidup orang tersebut.

Kenapa ‘belalang’ bisa ada dalam kehidupan kita?

  1. Keluaran 10:3-4: tidak merendahkan diri (ada dosa yang tidak dibereskan) dan tidak beribadah pada Tuhan;
  2. Maleakhi 3:8-11: tidak membawa persembahan persepuluhan.

Bagaimana caranya agar ‘belalang’ diusir dari hidup kita?

  1. II Tawarikh 7:14: merendahkan diri, berdoa & mencari wajah Tuhan, lalu berbalik dari jalan yang jahat, Tuhan akan mendengar doa kita, mengampuni dan memulihkan!
  2. Maleakhi 3:10-11: membawa persembahan persepuluhan ke rumah Tuhan!

Kalau sudah tidak ada belalang maka yang akan terjadi adalah berkat PEMULIHAN & KELIMPAHAN seperti dalam Yoel 2:25-26

Sebagai penutup, renungkanlah hal ini... ada 2 pilihan dalam hidup kita soal belalang ini,

  1. Dimakan belalang, pilihan ini terjadi jika kita hidup tidak sesuai dengan Firman-Nya.
  2. Memakan belalang, pilihan ini yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, dan harusnya ini yang kita buat...

Mari kita makan dan sikat semua belalang dalam hidup kita dengan melakukan apa yang difirmankan-Nya, sehingga tidak ada lagi belalang dalam hidup kita dan Yoel 2:25-26 “Pemulihan & Kelimpahan” terjadi!

sharing

Tuesday, January 26, 2010

Kristen Rajawali

Mau menerima janji Tuhan di tahun 2010 ini, janji Pemulihan dan Kelimpahan? Sebelumnya ada cerita yg mau saya sampaikan buat kita semua…

Alkisah, di suatu desa hidup seorang pemburu. Suatu hari dia ingin menangkap burung rajawali, karena itu ia naik ke gunung yang tinggi. Sesampainya di sarang rajawali, dia tidak bertemu dengan rajawali (karena memang tidak janjian he.he...) dan hanya menemukan sebutir telur. Daripada pulang sia-sia, telur tersebut dibawanya pulang dan ditaruhnya di kandang ayam yang sedang mengeram.

Singkat cerita, semua telur menetas, muncul anak-anak ayam, begitu juga dengan anak rajawali. Anak rajawali ini hidup setiap hari dengan perilaku seperti ayam, karena dia mengira dirinya ayam. Ia ikut mengais-ngais tanah, makan cacing, main di selokan... segala perilaku lakunya seperti ayam.

Suatu hari, ketika sedang bermain, anak rajawali dan anak-anak ayam diberi peringatan oleh induk ayam bahwa ada burung rajawali yang sedang terbang diatas dan mengincar mereka, induk ayam menyuruh mereka bersembunyi. Di tengah-tengah kepanikan dan sambil terbirit-birit, sang anak rajawali sempat menengadah ke langit, dan melihat sang rajawali dewasa yang terbang gagah membelah awan. Terlintas dalam benaknya, ia ingin terbang seperti rajawali itu, begitu gagah dan perkasa tampaknya, dan ia mulai mencoba mengepak-ngepakkan sayapnya.

Tiba-tiba anak ayam lain berceloteh, “Hey, sedang apa kau?? Kita ini ayam, bukan rajawali, ayam itu tidak bisa terbang, selamanya tidak bisa terbang!” Semangat anak rajawali pun surut dan cita-citanya mundur teratur, lalu dia ikut bersembunyi bersama anak ayam lainnya. Anak rajawali tidak pernah berani lagi berpikir untuk menjadi rajawali yang perkasa karena dia menganggap bahwa dirinya hanya anak ayam.

Tragis… kisah hidup anak rajawali ini. Tapi di dunia ini karena ketidaktahuan dan ketakutan, juga banyak orang melewati hidupnya dengan tragis dan sia-sia. Mereka tidak menyadari bakat dan kemampuan yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

Ulangan 32:11 menulis: ....bahwa anak Tuhan diumpamakan seperti anak rajawali, bukan ayam atau perkutut, tapi seperti rajawali! Kenapa diumpamakan seperti rajawali? Karena burung rajawali ini punya ciri-ciri yang unik.

Ada 3 ciri utama Kristen Rajawali:

  1. Ulangan 32:11-12: Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya.

    Digoyangbangkitkan... orang Kristen Rajawali adalah orang yang mau digoyangbangkitkan. Setelah anaknya besar maka induk rajawali akan menggoyang sarangnya agar anaknya tidak nyaman dan keluar untuk belajar terbang; sama dengan hidup kita… Tuhan kadang juga menggoyang kita pada saat kita nyaman agar kita bisa dididik oleh-Nya.

    Saat anak rajawali diajar terbang, induknya ada diatas, saat anaknya mau jatuh, baru dia turun untuk menopang & mencengkram anaknya. Dalam hidup kita, goncangan masalah yang terjadi kadang Tuhan ijinkan untuk menyadarkan & mendidik kita.. untuk melatih rohani kita. Jadi jika kita menghadapi tantangan hidup kita harus ingat bahwa Tuhan sedang melatih kita… seperti induk rajawali, Tuhan tetap akan mendampingi & memperhatikan kita dan Dia tak'kan membiarkan kita jatuh tergeletak.

    Ciri pertama Kristen Rajawali: mau digoyang agar tahan terhadap goncangan.

  2. Mazmur 103:2-5
    Kita perhatikan ayat ke 5b: ...sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.
    Rajawali itu punya hal yang unik, setiap beberapa tahun dia akan memperbarui bulunya, dia mengganti bulu-bulunya dengan bulu yang baru. Demikian pula dengan Kristen Rajawali, mereka adalah orang yang mengalami pembaharuan setiap hari.

    Tapi apakah yang harus diperbaharui setiap hari itu?
    Lihat dalam Efesus 4:23: supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu.

    Pertama, yg harus diperbarui adalah roh kita. Bagaimana caranya memperbaiki roh kita? Berikut ini saya beri sedikit ilustrasi agar kita lebih memahami... misalkan saudara punya sebuah radio yang rusak apakah radio tsb bisa perbaiki dirinya sendiri? Tentu tidak kecuali itu adalah radio ajaib atau radio doraemon he.he...

    Sejak jatuh dalam dosa, manusia tidak bisa memperbaiki rohnya sendiri tapi harus dengan pertolongan Tuhan.

    2 Tes 2:13b: ...sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu...

    Cara memperbaiki roh kita hanya dengan pertolongan Roh Kudus, tidak ada cara lain, karena itu kita harus membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, karena Tuhan itu Roh maka kita menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24). Perbanyak bahasa roh, pujian & penyembahan pribadi dengan Tuhan.

    Kedua, yang diperbarui adalah pikiran kita, pikiran itu ibarat komputer jika banyak diisi atau penuh dengan data akhirnya bisa "hank", pikiran jika diisi penuh dengan hal-hal yang kita hadapi di dunia akibatnya bisa jadi “hank” alias marah dan stress.

    Kita harus memperbarui pikiran kita dengan pikiran Kristus, caranya yaitu dengan membaca Firman Tuhan; lalu ingatlah senantiasa semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita, biarlah hanya semua yang baik, semua yang sedap, yang kita pikirkan... jika ada perkataan yang tidak sedap di-delete saja & jangan disimpan.

    Ciri kedua Kristen Rajawali: setiap hari hidup kita diperbaharui oleh Tuhan, baik roh dan pikiran kita.

  3. Yesaya 40:31: tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

    Hidup anak Tuhan yang benar pasti berbeda dengan aturan dunia. Aturan yang berlaku dalam dunia ini, jika berjalan pasti menjadi lelah, tapi Firman Tuhan mengatakan Kristen Rajawali jika berjalan... tidak menjadi lelah.

    Burung Rajawali saat terbang tidak seperti burung-burung lain yang mengepakkan sayapnya. Saat terbang, burung perkutut misalkan, harus mengepakkan sayap; kalau ayam lebih parah lagi walaupun sudah mengepak-epakkan sayapnya tetap tidak bisa terbang; sedangkan rajawali tidak mengepakkan sayapnya tapi membentangkan sayapnya & dia terbang melayang diatas aliran udara… karena itu rajawali tidak lelah saat terbang di angkasa.

    Sebagai anak Tuhan harus memiliki gaya hidup yang berbeda dengan gaya hidup dunia, Firman Tuhan menulis dalam Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

    Ciri Kristen Rajawali yang ketiga: punya gaya hidup yang berbeda dengan dunia.
  4. Anak Tuhan harus tampil beda dengan dunia ini...

Biarlah dengan menyadari siapa sesungguhnya diri kita, dan melakukan ketiga hal diatas ini maka hidup kita tidak tragis dan sia-sia, melainkan berarti bagi kemuliaan-Nya!

sharing

Wednesday, January 13, 2010

Tiga Peristiwa Orang Buta Disembuhkan

Shalom... memasuki tahun yang baru ini pasti ada keinginan-keinginan yang kita harapkan terjadi dalam hidup kita, selain juga ada janji-janji Tuhan buat kita secara pribadi maupun secara korporat. Mungkin di tahun sebelumnya kita mengalami masalah, seperti: sakit penyakit, problem keuangan/pekerjaan, masalah rumah tangga, hubungan, dll; tapi masuk tahun 2010 ini ada janji Tuhan yang baru buat kita semua, yaitu Tahun Pemulihan dan Kelimpahan.

Masalah boleh ada, tapi sebagai anak Tuhan, kita harus percaya kalau kita punya Tuhan yang hidup, Tuhan yang sanggup menolong kita... Yesus Kristus adalah jawaban untuk semua masalah kita, Dia pasti akan memberikan jalan keluar untuk setiap masalah kita. Tuhan Yesus tidak pernah berkata bahwa orang yang mengikut Dia tidak akan mengalami masalah; tapi yang Dia firmankan adalah jalan keluar atas masalah kita (Matius 11:28).

Hari ini kita mau belajar dari Firman Tuhan mengenai peristiwa Tuhan menyembuhkan orang buta. Buta disini bisa kita artikan sebagai masalah yang kita hadapi dalam hidup ini. Dalam Alkitab, ada beberapa macam peristiwa orang buta disembuhkan oleh Tuhan Yesus dan setiap cara penyembuhannya berbeda-beda... Hal ini menggambarkan bahwa cara Tuhan menolong setiap orang untuk keluar dari masalah hidupnya juga berbeda-beda. Ada bagian yang harus kita lakukan, ada bagian yang akan Tuhan genapi!

Berikut ini 3 macam peristiwa dimana Tuhan menyembuhkan orang buta, mari kita belajar dari peristiwa tersebut:
  1. Mat 9:27-30 → dalam peristiwa ini Yesus menyembuhkan 2 orang buta dengan cara bertanya lebih dulu pada mereka: Apakah mereka percaya Dia dapat menyembuhkan? Saat mereka PERCAYA maka mereka disembuhkan, melalui jamahan tangan-Nya.
    Kenapa masalah yang terjadi seringkali tidak selesai?

    Karena seringkali kita hanya percaya di mulut tapi tidak dalam hati, jika kita percaya maka seharusnya kita bertindak seperti 2 orang buta itu; mereka mengikuti dan mendatangi Tuhan.Ada cerita soal iman percaya, berikut ini:

    Kemarau panjang melanda sebuah desa, air menjadi barang yang sangat susah dicari. Pemimpin desa mengumpulkan semua warganya untuk membahas cara mengatasi masalah ini.

    Katanya, "Wargaku sekalian, saya mendengar informasi bahwa desa tetangga sudah turun hujan sejak minggu kemarin. Setelah saya selidiki ternyata mereka berdoa kepada Tuhan dan beriman mereka sudah mendapatkannya. Karena itu saya minta kita semua warga disini juga melakukan hal yang sama. Baiklah besok pagi kita berkumpul lagi di tempat ini untuk menyambut turunnya hujan."

    Setelah itu semua warga pulang dan berdoa malam itu. Esok paginya semua warga sudah kembali berkumpul. Mereka menunggu sampai siang hari dan hujanpun tidak turun. Kemudian pemimpin desa bertanya pada semua warga, "Apakah kalian sungguh sudah berdoa & beriman menerima hujan ?"

    Mereka semua menjawab sudah melakukannya. Lalu kata pemimpin desa, "Mungkin kalian memang sudah berdoa... tapi jika kalian beriman mana tindakan imanmu? Kenapa tidak ada seorang pun yang berkumpul disini membawa payung agar nanti pulang tidak kehujanan ?"

    Iman tanpa perbuatan adalah mati.
  2. Mrk 8:22-25 → Tuhan menyembuhkan orang buta di Betsaida: teman-teman si orang buta itu membawanya kepada Yesus, oleh Yesus... orang buta itu dibawa keluar kampung dan diludahi matanya oleh Yesus. Saat orang buta ini dibawa keluar kampung oleh Yesus (pasti dipegang/dijamah oleh Tuhan, ayat 23), tapi dia belum sembuh. Mungkin saat kita ditumpangi tangan oleh hamba Tuhan/Tuhan, kita tidak sabar menunggu realisasi janji-Nya padahal ada yang namanya waktu Tuhan (kairos) dan kita harus bersabar menunggu waktu-Nya Tuhan. Lalu kenapa Tuhan meludahi matanya? karena Tuhan mau mengecek hatinya. Orang buta ini mengalami hal yang tidak enak (diludahi) karena hatinya harus direndahkan.

    Jika ia tidak suka pas diludahi dan pergi, maka kesembuhannya hanya setengah-setengah (setelah diludahi matanya bisa melihat, tapi masih kabur). Tapi dia tetap SABAR, walau direndahkan karena percaya Tuhan pasti sembuhkan dengan sempurna, maka Tuhan melanjutkan prosesnya dan si orang buta sembuh total. Tuhan tidak memakai cara seperti cara yang ke-1, karena Dia punya jalan keluar yang berbeda untuk tiap orang. Dalam peristiwa kali ini, cara Tuhan adalah menyembuhkan sebagian dulu, karena Dia ingin mengecek hati kita... apakah tetap percaya & setia walau belum pulih total! jika kita tetap percaya seperti orang buta itu maka kita akan sembuh total, sempurna!

  3. Yoh 9:1-7 → Yesus melihat orang yang sejak dari lahir, tapi orang itu tidak langsung ditolong-Nya, malahan Yesus berdiskusi dulu dengan murid-murid-Nya tentang orang buta itu, panjang dan lebar…

    Tapi perhatikan... si orang buta ini sabar menanti walaupun Tuhan Yesus tidak langsung menolongnya. Bayangkan jika kita yang menjadi orang buta itu apakah mau sabar menantikan pertolongan Tuhan?

    Akhirnya setelah dia sabar menanti, maka Tuhan meludah ke tanah, lalu mengolesi matanya dengan tanah tersebut. Tapi orang buta itu tidak langsung sembuh! Dia disuruh pergi membasuh diri ke kolam Siloam (siloam = yang diutus), artinya: kita harus taat pada apa yang Tuhan suruh/perintah. Dalam cara ke-3 ini, sebelum disembuhkan oleh Tuhan, kita harus belajar TAAT & SETIA serta melayani. Pada saat kita taat dan setia, maka kesembuhan terjadi.

    Dari tiga peristiwa ini, semua orang buta itu disembuhkan... Tidak ada yang tidak sembuh karena janji Tuhan adalah Ya & Amin! Tapi ingatlah senantiasa untuk melakukan apa yang menjadi bagian kita yaitu percaya saja, sabar, tetap taat dan setia; maka selebihnya Tuhan yang menyempurnakan!

    sharing

    Wednesday, January 6, 2010

    Sikap Perwira di Kapernaum

    Matius 8:5-13










    Ada 4 sikap yang bisa kita pelajari dari perwira di Kapernaum sehingga mujizat terjadi:

    1. Ayat 5: datanglah seorang perwira mendapatkan Dia.

    • Sikap pertama yang harus kita lakukan agar mujizat terjadi dalam hidup kita adalah datang kepada Yesus dan dapatkan Dia!
    • Seringkali yang kita lakukan hanyalah datang kepada Tuhan…seperti kita pergi bertamu ke rumah seseorang, kita mendatangi ke rumahnya tapi orang tersebut tidak ada atau tidak muncul menemui kita… Kenapa kita tidak bisa mendapatkan orang itu? Karena kita tidak tahu kapan dia ada di rumah, bisa juga karena orang itu tidak mengenal kita sehingga tidak mau menemui kita.
    • Tuhan memang bisa kita temui setiap saat, tapi apakah kita sungguh-sungguh mendapatkan Dia? Cara mendapatkan Dia hanya dengan memperbanyak hubungan intim dengan Dia melalui: Doa, Pujian & Penyembahan.

    2. Ayat 6: Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.

    • Sikap kedua yang harus kita miliki adalah punya belas kasih.
    • Perwira ini datang pada Tuhan minta kesembuhan untuk hambanya, pada jaman itu hamba = budak, tidak ada artinya… kalau mati ya tinggal beli yang baru… tapi perwira ini punya belas kasih pada hambanya sehingga dia minta agar Tuhan menyembuhkan hambanya.
    • Saudara jika kita mau mujizat terjadi dalam hidup kita maka kita harus belajar untuk mengasihi orang lain.
    • Saya punya kesaksian: di tahun 2006 lalu, saya mengalami masalah keuangan. Biasanya saya menerima pendapatan dari investasi, tapi tiba-tiba pendapatan itu macet dan mendadak jadi nol… dalam keadaan sulit itu saya diajar oleh Tuhan untuk tetap setia melayani. Dalam pelayanan itu, Tuhan mempertemukan saya dengan 1 pasangan yang saya bimbing yang ternyata sedang mengalami masalah keuangan, dan masalah mereka lebih parah dari yang saya alami, disana saya mengerti bahwa dalam keadaan sulit sekalipun kita harus tetap punya belas kasih, Tuhan menunjukkan pada saya untuk tidak mengasihani diri sendiri tapi mengasihi orang lain. Karena mengalami hal yang sama, saya jadi lebih memahami persoalan mereka dan bisa memberi dukungan yang tepat bagi mereka.
    • Sikap kedua yaitu miliki Belas kasihan dan keinginan untuk melayani.

    3. Ayat 8a: Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku.

    • Perwira ini bukan orang Yahudi, sedangkan Yesus adalah orang Yahudi, pada jaman itu tidak lazim jika orang Yahudi bergaul apalagi datang ke rumah org non Yahudi, sehingga perwira itu merasa tidak layak menerima Tuhan Yesus di rumahnya.
    • Perwira ini punya sikap yang rendah hati, ia merasa dirinya tidak layak menerima kehadiran Tuhan Yesus di rumahnya karena ia seorang yang non Yahudi. Dia tidak mau mengotori citra Yesus di mata orang Yahudi lainnya.
    • Jika kita mau mujizat terjadi dalam hidup kita maka sikap ketiga yang harus kita miliki adalah Kerendahan hati.
    • Rendah hati tidak sama dengan rendah diri; rendah hati adalah sikap yang menghargai, lemah lembut dan tidak sombong, walaupun kita sebenarnya mampu, Efesus 4:2 mengatakan: Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

    4. Ayat 8b-9: katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini! maka ia mengerjakannya.

    • Perwira itu adalah seorang pemimpin yang memiliki prajurit bawahan, pangkatnya mungkin centurion (pemimpin 100 orang), di jaman sekarang posisi ini seperti Komandan Kompi (Kapten), dan selain sebagai pemimpin dia sendiri juga punya atasan/pimpinan yang ada diatasnya.
    • Perwira ini mengerti apa yang namanya komando atau perintah, dia juga mengerti tentang otoritas, dengan otoritas yang ada padanya dia bisa memerintah prajurit bawahannya atau hambanya. Dengan komando dari atasannya maka dia akan bergerak.
    • Saudara, perwira ini bukan orang Yahudi, tapi dia mengenal Yesus, dia tahu bahwa Yesus punya kuasa, punya otoritas sebagai Tuhan, karena itu dia percaya bahwa cukup hanya dengan Firman-Nya saja maka hambanya yang sakit itu akan sembuh.
    • Perhatikan ayat 10: iman perwira ini membuat Yesus kaget! Dan akhirnya di ayat 13: mujizat terjadi, hamba perwira itu sembuh!
    • Sikap ke 4 yang harus kita miliki adalah punya Iman yang membuat Yesus tergerak. Bukan hanya percaya saja, tapi miliki iman yang memindahkan gunung.

    Mujizat pasti terjadi!

    sharing

    Monday, December 14, 2009

    Kado Natal untuk Tuhan

    Di bulan Desember ini biasanya kita akan merayakan hari Natal. Natal dikenal sebagai suatu peristiwa untuk memperingati kelahiran Kristus ke dunia. Dengan demikian, secara tidak langsung Natal adalah hari ulang tahun Tuhan Yesus.

    Apa yang biasanya ada saat perayaan ulang tahun?

    Kebahagiaan, kegembiraan, pesta, tamu, acara, kue-kue, dan banyak lagi, tapi yang pasti tidak ketinggalan... pada saat pesta ulang tahun juga harus ada yang namanya kado atau hadiah atau persembahan…

    Untuk Natal ini, apakah kita sudah menyiapkan kado untuk Tuhan Yesus?

    Jika ada seseorang yang anda kasihi, anda pasti akan berkeinginan untuk memberikan hadiah kepadanya... tanpa harus diberitahukan oleh siapapun, keinginan itu timbul sendiri dari hati. Dan semakin anda mengasihi seseorang, maka semakin besar hadiah yang anda berikan, bahkan kadang-kadang tanpa suatu alasan apapun.

    Hadiah atau persembahan apa yang patut diberikan untuk Tuhan kita?

    Ingatkah kisah 3 orang majus yang membawa kado untuk bayi Yesus yaitu emas, kemenyan dan mur.

    • Emas, mur dan kemenyan bicara mengenai kehidupan jasmani yang kita miliki (berupa harta/uang, waktu, cara hidup); emas adalah logam mulia yang berharga; mur atau dikenal dengan myrrh (adalah sejenis resin/getah pohon) bahan dasar wewangian yg pada jaman itu nilainya bisa lebih mahal dari emas dalam ukuran berat yg sama; kemenyan juga sejenis resin wewangian yang banyak dipakai dalam pembuatan parfum & aromaterapi, minyak mur & kemenyan juga dipakai sebagai bahan pengobatan pada jaman itu.

    Pertanyaannya... Apakah hidup kita sudah menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan seperti emas, mur dan kemenyan ini?

    • Dari sisi uang, maka persembahan yang harum itu bisa berupa persembahan persepuluhan dan persembahan khusus (Maleakhi 3:8 dan 10). Sedangkan contoh persembahan khusus adalah Pembangunan Rumah Tuhan (Hagai 1:6-8), Pemberian untuk orang2 yang membutuhkan (Matius 25:35-40).
    • Dari sisi waktu, maka persembahan yang harum berupa waktu yang kita berikan untuk Tuhan, nah coba kita renungkan... selama ini berapa % waktu yang telah kita berikan buat Tuhan? Dalam 1 hari 24 jam, waktu itu kita pakai untuk tidur sekitar 6-8 jam, itu hampir 1/3 dari hidup kita; lalu bekerja 8-10 jam (sekitar 1/3-nya lagi); sisa hanya sekitar 6-8 jam… kurang lebih sisa 1/3 nya, dipakai untuk perjalanan, mandi, makan dan aktivitas-aktivitas lainnya… lalu berapa buat Tuhan... apakah ada sepersepuluhnya (sekitar 2,4 jam) ?

    Dan seharusnya persembahan yang kita berikan untuk Tuhan bukanlah sisa uang ataupun sisa waktu, melainkan persembahan dari awal, jika itu uang maka sebelum uang itu dibelanjakan, jika itu waktu juga maka sebaiknya pada pagi hari yaitu saat kita mengawali hidup pada hari itu...

    Namun hal utama yang Tuhan inginkan bukanlah uang dan waktu kita, sebagai orang percaya... kita pasti rela mempersembahkan uang dan waktu kita bagi Tuhan, itu semua adalah kado yang baik… tapi persembahan utama yang Tuhan inginkan bukan hal itu… Lalu apa?

    Ada tertulis dalam Markus 14:9: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat Dia."

    Lalu Lukas 4:37 menulis: "...tersebarlah berita tentang Dia, YESUS, kemana-mana!"

    Kelahiran Yesus Kristus ke dunia adalah Kabar Baik atau Injil bagi semua umat manusia, karena kelahiran-Nya itu merupakan Berita tentang karya Keselamatan dari Allah bagi manusia yang sudah berdosa.

    Yohanes 3:16: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

    Oleh karena kasih-Nya, kita semua yang percaya... yang tadinya harus binasa... sekarang sudah diselamatkan! Karena itu kado utama yang dapat kita berikan pada Tuhan di hari Natal ini adalah kita punya kasih dan semangat untuk memberitakan injil-Nya kepada banyak orang... Hal itulah yang diinginkan-Nya untuk mengingat Dia! Agar berita tentang Dia tersebar kemana-mana...

    Biarlah di hari Natal ini, kita kembali diingatkan untuk menyebarkan Kabar Baik, Kabar Sukacita , Injil tentang Yesus kemana-mana… bukan cerita tentang pohon Natal, pestanya atau hiasannya... tapi berita tentang Tuhannya!

    Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi pembawa berita yang benar?
    Tidak perlu dengan menjadi pendeta atau penginjil lebih dulu, tapi hal itu bisa kita mulai dari kehidupan kita sendiri:

    • Menjadi pelaku Firman dan hidup sebagai Orang Benar di dalam dunia yang tidak benar ini (artinya kita menjadi saksi secara perbuatan = saksi hidup).
    • Berani bersaksi tentang Yesus pada orang-orang yang ada di sekeliling kita (menjadi saksi secara perkataan = saksi iman).

    Mulai sekarang mari ambil komiten untuk memberitakan Kabar Baik tentang Dia kepada semua orang, agar mereka semua juga bisa diselamatkan...

    Tuhan memberkati!

    sharing