Tuesday, March 15, 2011

Bumi Jaman Sebelum Air Bah

Berdasarkan penelitian... beberapa ilmuwan memperkirakan bahwa, keadaan bumi kita yang sekarang ini sangat berbeda dari keadaan bumi sebelum Air Bah. Diperkirakan pada jaman sebelum Air Bah, Allah menempatkan lapisan uap air di atas atmosfir di sekeliling bumi (Kejadian 1:6-8). Adam, Kain, Nuh dan orang-orang lain yang hidup pada jaman sebelum Air Bah, tidak dapat melihatnya. Lapisan uap air itu tidak terlihat oleh mata mereka. Mereka dapat melihat matahari pada siang hari, bulan dan bintang-bintang pada malam hari, tapi melihatnya melalui pantulan lapisan uap air itu.

Lapisan uap air itu adalah bagian dari rencana agung Allah. Lapisan uap air diciptakan untuk menjaga dan memelihara penguapan suhu bumi. Karena itulah pada jaman itu tidak ada daerah yang terus menerus dingin di bumi, bahkan di Kutub Utara atau di Kutub Selatan. Suhu udara di seluruh bumi tetap sama sepanjang tahun. Cuaca yang hangat dan lembab, mirip sekali dengan udara dalam rumah kaca di jaman sekarang, kalau kita masuk ke dalamnya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa sinar ultra-violet dari matahari berbahaya bagi kehidupan setiap makhluk di bumi. Selama 1600 tahun lapisan uap yang tidak kelihatan itu melindungi bumi dari sinar ultra-violet. Karena perlindungannya itu tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang dan manusia dapat hidup lebih lama, dan bisa bertumbuh lebih besar daripada keadaan zaman sekarang ini. Sebagai contoh adalah buah-buahan yang dihasilkan di rumah kaca biasanya lebih besar daripada yang dihasilkan di kebun.

Ketika Allah memberi tahu Nuh, bahwa hujan lebat akan turun, maksud-Nya ialah lapisan uap air itu berubah menjadi air hujan. Maka hujan lebat pun turun. Firman Allah melukiskan hujan itu demikian "...terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit." (Kejadian 7:11). Terjadinya Air Bah itu sebagian besar disebabkan pula oleh curahan air yang dahsyat dari langit ke bumi.

Kemudian datanglah air bah. Tetapi Allah melindungi ciptaannya dengan menyediakan satu bahtera yang menyelamatkan satu keluarga, dan juga segala jenis binatang yang bernafas (termasuk dinosaurus).

Ketika keluarga Nuh dan semua binatang itu keluar dari bahtera, mereka menyaksikan satu bumi yang sangat berbeda dari bumi yang pernah mereka huni sebelumnya. Gunung-gunung terjal, seperti Gunung Alpen dan Himalaya, muncul pada daerah pegunungan yang jauh lebih datar sebelumnya. Ngarai-ngarai curam terbentuk oleh arus air deras, yang mengkikis tanah lunak. Laut yang dangkal berubah menjadi samudera yang dalam, seperti yang kita kenal pada jaman sekarang ini.

Barangkali bumi memiliki lebih banyak tanah daratan, dan lebih banyak lahan bagi tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang sebelum Air Bah. Setelah jaman itu, tumbuh-tumbuhan tidak tumbuh sesubur dan serimbun sebelumnya. Demikian pula rawa-rawa semakin langka. Padang gurun mulai ada, sehingga sebagian dinosaurus sulit mendapat makanan. Karena kekurangan bahan makanan, banyak dinosaurus mungkin mati kelaparan. Sementara dinosaurus herbivora mulai punah, dinosaurus karnivora terancam punah pula.

Radiasi sinar matahari mulai merusak segala yang hidup. Sebab sinar ultra-violet yang berbahaya tidak lagi ditapis oleh lapisan uap air di cakrawala. Akibatnya, masa hidup tumbuh-tumbuhan dan makhluk binatang semakin pendek. Ini berarti dinosaurus tidak sempat bertumbuh sampai menjadi raksasa seperti dahulu.

Cuaca bumi berubah begitu jauh setelah peristiwa Air Bah. Cuaca di seluruh bumi tidak lagi hangat atau pun lembab. Beberapa bagian dunia bahkan sangat ekstrem dingin atau panas. Tidak semua spesies dapat menyesuaikan diri karena perubahaan cuaca ini... Bisa jadi banyak binatang yang punah termasuk dinosaurus karena habitat dan suhu bumi berubah sehingga mereka tidak dapat bertahan hidup.

Beberapa dinosaurus ada yang masih bertahan hidup sampai jaman Ayub dan sisanya ada yang masih bertahan hidup sampai sekarang seperti Komodo si Kadal Raksasa, atau Coelacanth si Ikan Purba...

Friday, February 25, 2011

Perselingkuhan

Di jaman akhir ini, perselingkuhan sepertinya sudah menjadi hal yang biasa terjadi dalam masyarakat kita bahkan diantara orang-orang Kristen. Padahal dosa perselingkuhan atau perzinahan yang menjadi penyebab utama keretakan hubungan suami istri, merupakan kekejian di mata Tuhan.

Dulu orang cenderung menyangka bahwa perselingkuhan lebih sering terjadi pada pria/wanita setengah baya yang mengalami ’puber kedua’. Namun seiring perkembangan jaman, saat ini perselingkuhan sudah begitu meluas bahkan juga melanda keluarga/pasangan muda. Yang dimaksud perselingkuhan adalah suatu hubungan antara individu baik pria maupun wanita yang sudah menikah ataupun yang belum menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya.

Perselingkuhan terjadi karena ada dua pihak yang saling tertarik. Awalnya mungkin hanya satu pihak saja yang merasa tertarik, tapi kemudian dia mengambil tindakan proaktif untuk mendekati pihak lain yang disukainya itu. Contoh, seorang suami tidak lagi merasa dipenuhi kebutuhannya oleh sang istri, lalu dia mencari dan mendapatkan apa yang dibutuhkannya dari wanita idaman lain (WIL), atau sebaliknya jika sang istri yang mencari dan mendapatkan apa yang dibutuhkannya dari pria idaman lain (PIL).

Perselingkuhan atau hubungan gelap di luar nikah merupakan salah satu krisis yang paling menghancurkan dalam pernikahan. Akibat adanya hubungan itu, maka impian, harapan, dan kepercayaan suami/istri yang dikhianati telah dihancurkan oleh pasangannya yang berselingkuh. Firman Tuhan jelas bahwa pernikahan adalah kovenan (perjanjian) antara suami-istri sebagai satu pasangan untuk seumur hidup di dunia. Tapi adanya ketidaksetiaan dalam komitmen pernikahan menjadi celah timbulnya perselingkuhan. Sekurang-kurangnya ada tiga hal atau tahapan yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan (perhatikan kisah Raja Daud dan Batsyeba dalam 2 Samuel 11:2-27):

a. Saling Ketertarikan
Awalnya ada ketertarikan spontan dari sisi fisik, menyukai wajah dan penampilannya atau ada sesuatu yang menarik dari orang tersebut, misal: cara bicaranya yang enak dan pas, caranya tertawa atau tersenyum, gaya berpakaian dan sebagainya. Jika tahap ketertarikan ini berlanjut (atau diteruskan) maka umumnya akan ditandai dengan keinginan untuk makin sering bertemu dan berbincang. Lalu mereka pun akan masuk dalam tahap berikutnya.

b. Saling Ketergantungan
Pada tahap ini, mulai ada sharing (isi hati dan perasaan) kepada PIL/WIL, sehingga pada waktu PIL/WIL tidak ada, akan timbul rasa kehilangan. Akibatnya orang yang berselingkuh merasa hidupnya tidak seimbang lagi tanpa adanya PIL/WIL. Semakin hari kebutuhannya akan kehadiran pasangan selingkuhnya semakin meningkat, sampai-sampai jika ada sesuatu yang mengganggunya maka PIL/WIL itulah yang akan dihubunginya terlebih dulu.

c. Saling Memenuhi
Di tahap selanjutnya ini, pasangan yang berselingkuh secara sadar mencoba untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain. Yang mereka lakukan dalam tahap ini bukan lagi hal yang spontan namun sudah terencana seperti: "Bagaimana saya bisa membahagiakan engkau?", "Bagaimana saya bisa selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu?", "Bagaimana saya bisa selalu bersamamu?" Secara sadar semua hal ini akan dilakukan, impian-impian terlarang yang direncanakan mulai diwujudkan dengan berbagai cara. Pada tahap ini, perselingkuhan sudah mencapai level dosa yang matang, ada tindakan yang dilakukan oleh pasangan yang berselingkuh agar bisa hidup bersama, seperti bercerai dari pasangan lama, atau bahkan pembunuhan seperti yang Raja Daud lakukan pada Uria (suami Batsyeba).

Ada seorang wanita berusia 38 tahun berkisah: Saya punya 3 anak dengan usia 10-14 tahun, karier mapan dengan jabatan yang lumayan dan seringkali tugas keluar kota bahkan keluar negeri. Walaupun sibuk namun saat tidak keluar kota, saya selalu berusaha pulang sebelum jam 7 malam. Hidup pernikahan kami awalnya baik-baik saja sampai setahun yang lalu, suami mulai sering terlambat pulang dengan alasan yang bermacam-macam.

Sebulan yang lalu, saya dikejutkan oleh telepon dari seorang wanita muda yang berkata bahwa dia adalah simpanan suami saya. Perasaan shock, marah, benci, dan dendam campur aduk dalam hati saya, apalagi saat saya konfirmasikan ke suami, dia membenarkannya (walaupun awalnya dia tidak langsung mengaku), dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.

Tapi setelah membongkar perselingkuhan suami, saya malah jadi sulit tidur, seperti ada rasa sesak dan panas di dada, juga perasaan berdebar-debar yang tidak bisa saya kontrol, saya merasa seperti mau mati saja. Saya ingin marah pada Tuhan dan pada siapa saja termasuk diri sendiri kenapa hal demikian bisa terjadi dalam kehidupan pernikahan saya?!


Apa yang harus dilakukan jika perselingkuhan sampai terjadi dalam pernikahan?
  1. Minta pada Tuhan Yesus untuk memperbaiki dan menyembuhkan pernikahan anda.
  2. Usahakan untuk tidak bersikap bermusuhan dengan pasangan. Jangan menyindir atau menghina pasangan, tapi lakukan introspeksi diri. Bukankah Tuhan Yesus mengajarkan agar kita melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
  3. Jika pasangan belum mau terbuka, jangan terlalu mendesaknya. Dengan sabar mintalah dia untuk terbuka pada anda.
  4. Jangan menganggap anda tahu perasaan atau pikiran pasangan anda.
  5. Jangan bertanya, "Mengapa engkau merasa demikian?", "Mengapa engkau melakukan hal itu?" Jika dipojokkan, orang mungkin akan mengarang-ngarang suatu jawaban.
  6. Mintalah pasangan untuk memberi tahu apa penilaiannya mengenai anda, dan jangan membela diri anda.
  7. Jangan menghakimi pasangan.
  8. Jika anda terlalu marah, sedih dan terluka, janganlah berbicara pada saat itu.
  9. Lakukan tindakan rekonsiliasi/pemulihan hubungan pernikahan anda dengan sikap keterbukaan, tidak membela diri, dan mau memaafkan.
Banyak perselingkuhan yang sebenarnya dapat dihindari dengan menyadari tanda-tanda peringatan dini akan adanya suatu hubungan gelap. Seperti kisah diatas, sang istri sebenarnya bisa menyadari karena setahun terakhir suaminya mulai sering pulang terlambat. Namun hal yang patut disayangkan adalah adanya ’over confidence’ dari pasangan orang percaya bahkan hamba-hamba Tuhan bahwa perselingkuhan tidak mungkin terjadi dalam kehidupan pernikahan mereka.

Ingatlah kembali kisah Raja Daud dan Batsyeba, betapapun Raja Daud begitu intim dan dekat dengan Tuhan, namun dia pun bisa jatuh ke dalam dosa perselingkuhan. Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap dosa, jadi senantiasalah berjaga-jaga. Untuk jenis dosa seksual, salah satu cara ampuh mengatasinya adalah dengan bertindak seperti yang Yusuf lakukan saat dirayu oleh isteri Potifar; sebelum jatuh dalam dosa, Yusuf melarikan diri. Demikian harusnya sikap suami/istri terhadap kemungkinan adanya dosa perselingkuhan (perzinahan) dalam pernikahan, jauhkan diri anda dari hal itu!

Tuhan memberkati...

Sunday, January 16, 2011

Tetap Percaya karena Bagi Tuhan Tak Ada yang Mustahil

Hari ini kita sudah berada di awal tahun 2011, di hari yang ke 16... di tahun ini Tuhan memberikan janji-Nya melalui Gembala Pembina: Tahun 2011 adalah Tahun Multiplikasi dan Promosi artinya tahun ini anak-anak Tuhan akan mengalami pelipatgandaan berkat dan ada promosi dari Tuhan. Amin!

Satu pertanyaan penting, apakah setelah kita aminkan janji itu lalu otomatis janji itu akan terjadi dalam hidup kita? Tentu tidak demikian...

Lalu bagaimana caranya agar janji Tuhan (mujizat-Nya) bisa tergenapi dalam hidup kita? Penggenapan janji Tuhan dalam hidup kita tergantung pula dari sikap/respon kita atas hal itu!

Perhatikan kisah dan sikap Abraham berikut ini:
  1. Kejadian 15:1-6, saat Tuhan berjanji dan kita percaya, Tuhan memperhitungkannya sebagai kebenaran (ayat 6); jadi sikap pertama adalah percaya. Saat itu usia Abram sekitar 76 tahun.
  2. Kejadian 17:1-2, Tuhan menegaskan kembali janji-Nya pada Abram, janji yang sama, di saat usia Abram 99 tahun, jadi sudah ada rentang waktu selama 23 tahun dimana Abram menanti penggenapan janji Tuhan dengan setia. Sikap kedua yang harus dimiliki jika ingin melihat penggenapan janji Tuhan adalah sabar.
  3. Kejadian 17:4-6, 9-11, setiap perjanjian pasti ada 2 pihak yang terlibat... demikian pula halnya janji Tuhan juga melibatkan 2 pihak yaitu Tuhan dan kita, ada bagian yang Tuhan kerjakan dan ada bagian yang harus kita kerjakan agar janji itu bisa tergenapi; sikap yang ketiga: kerjakan apa yang jadi bagian kita. Dalam ayat 26-27 Abraham taat menjalankan apa yang menjadi bagiannya, disunat pada usia 99 tahun...
Yang Tuhan janjikan bagi Abraham (Kejadian 15:3-5) ada 2 hal:
  • Abraham akan mempunyai anak kandung,
  • Keturunan Abraham akan sebanyak bintang di langit.
Janji itu dipertegas lagi oleh Tuhan dalam Kejadian 17,
  • ayat 6: Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja -raja.
  • ayat 19: ...isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
Pada Kejadian 21:1-2 & 5, akhirnya anak yang dijanjikan Tuhan (Ishak) lahir bagi Abraham tepat di usianya yang 100 tahun.

Lalu apakah janji Tuhan sudah selesai digenapi? Belum, karena dari dua hal yang Tuhan janjikan baru satu yang digenapi-Nya. Lalu dalam Kejadian 22:1-2, Tuhan minta agar Abraham mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran di gunung Moria, padahal hanya melalui Ishak-lah perjanjian itu kekal selamanya (Kejadian 17:19) suatu ironi bukan?

Mungkin dalam hidup kita mengalami sesuatu yang dijanjikan oleh Tuhan tapi kemudian yang terjadi seolah-olah malah hal yang sebaliknya atau perkembangan yang kelihatan tidak sesuai dengan hal yang dijanjikan-Nya atau justru saat penggenapan janji itu sudah ada di depan mata kemudian seolah buyar/tertunda...

Inilah momen yang penting dalam penggenapan janji-Nya, Tuhan memakai hal ini untuk melihat/menguji apakah kita memiliki sikap yang keempat:

4. Tetap percaya pada janji Tuhan, apapun yang terjadi!

Jika kita yang menjadi Abraham, apakah yang ada dalam hati & pikiran kita dan apakah kita tetap percaya pada janji-Nya saat Dia minta Ishak dikorbankan? Di satu sisi Tuhan menjanjikan sesuatu pada Abraham tapi di sisi lain seolah-olah Tuhan malah melakukan hal yang sebaliknya...

Tapi perhatikan apa tindakan Abraham dalam Kejadian 22:3-10:
  1. Abraham menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk mempersembahkan anaknya,
  2. Abraham tetap percaya pada Tuhan (walaupun Tuhan meminta Ishak dikorbankan tapi Abraham tetap percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan apa saja untuk tetap memenuhi janji-Nya menjadikan keturunan Abraham sebanyak bintang di langit karena BAGI TUHAN TAK ADA YANG MUSTAHIL!).
Seperti tertulis pada Ibrani 11:17-19 demikianlah iman Abraham pada Tuhan saat diminta mempersembahkan Ishak anaknya.

Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu

Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu

Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya

Karena Abraham tidak ragu sedikitpun, maka Tuhan pun berfirman di ayat 12: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Dan Tuhan menggantikannya dengan menyediakan seekor domba jantan.

Sekarang ini kita pun dapat melihat bahwa janji-Nya yang kedua pada Abraham sudah terpenuhi... keturunan Abraham, Bapa orang beriman, sungguh sebanyak bintang di langit. Terpujilah Tuhan! Apapun yang dijanjikan-Nya pasti digenapi.

Lukas 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Tetap percaya pada janji-Nya apapun yang terjadi...

Saat ku tak melihat jalan-Mu
Saat ku tak mengerti rencana-Mu
Namun tetap kupegang janji-Mu
Pengharapanku hanya pada-Mu...

Hatiku percaya, hatiku percaya
Hatiku percaya, selalu kupercaya...

Tuesday, January 11, 2011

No Sex until Married

Macam-macam pendapat orang tentang SEKS PRANIKAH, ada yang mendukung dan mengatakan: seks sebelum menikah perlu untuk penjajakan pasangan, agar tahu cocok atau tidak; ada pula yang menentang dengan berpendapat: seks sebelum menikah = berzinah; tapi ada juga pendapat yang kelihatan 'bijak' dan netral: seks sebelum nikah sah-sah aja... tergantung iman, tradisi, kepercayaan dan lingkungan orangnya.. ngak bisa dihakimi betul atau salah. Nah... kok bisa begitu ya.

Sebagai orang percaya, kita harus mencari kebenarannya melalui Firman Tuhan. Kitab Kejadian mencatat bahwa, "Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Kemudian Allah ingin manusia beranak cucu dan bertambah banyak, memenuhi bumi, menaklukkannya dan berkuasa atas segala binatang di bumi. Demikianlah Allah menciptakan seks agar manusia bisa beranak cucu (prokreasi) dan menikmatinya (rekreasi).

Namun perhatikanlah Kejadian 1:28 dengan seksama, sebelum Allah mengijinkan manusia beranak cucu, Allah lebih dulu memberkati mereka! Firman inilah yang menjadi dasar bagi orang percaya, bahwa seks hanya boleh dilakukan sesudah diberkati (menikah) bukan pranikah. Jadi apapun alasan dunia ini, rancangan Tuhan yang sesungguhnya: Seks ada sesudah Pernikahan Kudus. Seks pranikah adalah dosa.

Apa yang terjadi seandainya kita melanggar rancangan-Nya? Secara umum kita tahu dosa pasti berakibat buruk bagi kehidupan kita, tapi secara khusus, akibat dari seks pranikah antara lain:
  1. Resiko terjadinya kehamilan diluar nikah, kaum perempuan cenderung menjadi pihak yang lebih lemah dalam kasus ini, apalagi tidak semua laki-laki mau bertanggung jawab setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti kata pepatah: "habis manis sepah dibuang".
  2. Pernikahan dini yang rentan perceraian dan konflik, pasangan muda yang sebenarnya belum siap menikah namun terpaksa berumah tangga, serta menanggung beban mental dan sosial akibat penyimpangan yang dilakukan. Untuk itu dituntut kedewasaan dari pasangan tersebut serta dukungan dari keluarga besar agar bisa melewati masa rentan.
  3. Terikat roh percabulan/perzinahan, yang bersangkutan cenderung mengulangi dosa yang sama bahkan bisa jatuh dalam dosa seks yang lebih parah lagi seperti: seks bebas, aborsi, dan penyimpangan seks lainnya.
  4. Merusak tubuh, jiwa dan roh, bacalah 1 Korintus 6:16-18. Dosa seks menyebabkan tubuh, jiwa dan roh manusia menjadi rusak dan tidak utuh lagi. Persetubuhan menjadikan laki-laki dan perempuan menjadi satu daging, demikian pula jiwa/spiritnya. Saat seorang berzinah ada transfer jiwa/spirit yang bersatu dengan dirinya, akibatnya jiwa (kepribadian) orang tersebut pun rusak, bahkan bisa ber-kepribadian ganda (penyakit kejiwaan).
Seorang perempuan kita sebut saja Mawar berkisah... Mulanya dia berkenalan dengan seorang pria. Setelah setahun menjalin hubungan, Mawar mulai tinggal satu rumah dengan sang pacar dan melakukan hubungan intim, akibatnya Mawar pun hamil. Dia merasa malu dan bingung apa yang harus dilakukan, bagaimana jalan keluarnya? Mawar minta sang pacar untuk menikahinya agar anak yang dikandungnya punya status yang jelas. Mereka pun sepakat untuk menikah.

Rencana ini mereka rundingkan dengan keluarga dekat yang kemudian setuju dan secepatnya mempersiapkan pesta pernikahan yang sederhana. Mawar menyambut rencana itu dengan sukacita dan kebahagiaan. Datanglah hari yang dinantikan dimana hubungannya dengan sang pacar akan disahkan sebagai suami istri, Mawar dan pacarnya bersiap pergi ke gereja. Tiba-tiba sang pacar ijin pergi sebentar untuk mengajak temannya. Mawar bersama keluarganya pun menunggu sang pacar.

Tapi setelah ditunggu hampir seharian, sang pacar tetap tidak muncul juga. Dia ternyata pergi meninggalkan Mawar. Sedih, putus asa, dan hamil tanpa status yang jelas, membuat Mawar berniat untuk melakukan aborsi. Namun temannya melarang Mawar aborsi lalu menguatkannya agar tabah menghadapi masalah ini. Mawar tetap penasaran mencari sang pacar untuk meminta tanggung jawabnya. Pernah saat masih hamil, Mawar mendatangi sang pacar sambil berharap bisa mewujudkan keinginannya untuk menikah; namun dia malah menemukan sang pacar sudah bersama dengan perempuan lain. Mawar kembali kecewa dan depresi berat sampai hampir gila.

Teman-temannya pun kembali menolong, dengan tekun mereka berdoa, membimbing dan memberinya Firman, sehingga kehidupan Mawar pun dipulihkan Tuhan. Akhirnya Mawar melahirkan anak dan membesarkannya dengan pemeliharaan Tuhan. Tanpa kehadiran sang ayah, Mawar pun menjadi 'single parent' bagi anaknya...

Jika kita berdosa hanya satu solusinya: Datanglah pada Tuhan Yesus Kristus akui semua dosa kita, minta pengampunan-Nya dan bertobat, Tuhan pasti akan memulihkan; 1 Yohanes 1:9 "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

Lalu bagaimana dengan mereka yang taat pada perintah-Nya? Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, bila seks ada dalam pernikahan kudus maka berkatnya antara lain:
  1. Damai sejahtera dan sukacita, tidak ada rasa takut dan khawatir akan kehamilan (justru mengharapkan keturunan) karena hubungan dilakukan dengan terbuka dan di dalam berkat Tuhan.
  2. Keturunan ilahi, Maleakhi 2:15, anak-anak yang dilahirkan dalam pernikahan kudus disebut Tuhan sebagai "keturunan ilahi". Dari jutaan sel sperma yang keluar dari laki-laki ketika bersetubuh dengan istrinya, hanya satu benih 'ilahi' yang Tuhan pilih dan ijinkan untuk membuahi sel telur perempuan dan menghasilkan keturunan. Tuhan memandang berharga keturunan orang-orang benar dan Ia memberkati anak-anak yang dilahirkan dalam pernikahan kudus.
Hari ini, kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu...

Tuhan memberkati!

Sunday, December 26, 2010

Percaya saja dan Mujizat terjadi!

Shalom, minggu ini adalah minggu terakhir di tahun 2010, dan kita baru saja merayakan hari Natal pada minggu yang lalu. Ada 2 hal yang perlu kita lakukan di penghujung tahun 2010 ini,
Pertama, renungkanlah apa saja yang sudah kita kerjakan sepanjang tahun 2010 yang sebentar akan berlalu, dan apa saja janji Tuhan yang sudah digenapi dalam hidup kita.
Kedua, memasuki tahun 2011 marilah kita memandang ke depan, memandang pada Kristus Yesus... melihat apa yang dijanjikan-Nya untuk kita di tahun yang akan datang, dan bagaimana kita bisa meraih janji-Nya itu.

Tahun 2010 adalah Tahun Pemulihan dan Kelimpahan, pemulihan yang kita terima bukan hanya soal materi tapi yang lebih penting lagi adalah pemulihan rohani, jika rohani dipulihkan maka materi akan mengikutinya, jika kita mengikut Tuhan maka berkat yang akan mengikuti kita... Pemulihan bukan berarti di tahun ini dosa kita sudah berkurang (he..he...), yang benar harusnya kita tidak lagi berbuat berdosa karena ada pertobatan...sehingga hidup kita pun dipulihkan. Bicara kelimpahan juga bukan hanya soal materi, yang lebih penting adalah kelimpahan dalam hal rohani, kelimpahan rohani berarti ada damai dan sejahtera dalam hidup kita.

Untuk tahun depan, Tuhan memberikan janji-Nya melalui Gembala Pembina: Tahun 2011 adalah Tahun Multiplikasi dan Promosi artinya di tahun 2011, kita akan mengalami pelipatgandaan dan promosi dari Tuhan. Yang dilipatgandakan adalah hal rohani dan tentu saja diikuti pula dengan hal jasmani; promosi juga akan terjadi baik secara rohani dan jasmani. Akan ada kenaikan tingkat dan pelipatgandaan berkat bagi anak-anak Tuhan.

Bagaimana caranya agar janji Tuhan (dan mujizat) tergenapi dalam hidup kita? Penggenapannya tergantung dari respon kita:
  1. Kita harus siap menerima janji Tuhan,
  2. Tetap percaya pada janji Tuhan (apapun yang terjadi).

Apa yang dimaksud dengan siap menerima janji Tuhan?
Siap disini berarti kehidupan kita sebagai anak Tuhan sudah dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya sehingga layak di hadapan-Nya, kita lihat dalam Lukas 1:5-6 mengenai kehidupan Zakharia dan istrinya... "Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat."

Alkitab mencatat bahwa Zakharia dan istrinya adalah orang yang hidup benar dan tidak bercacat di mata Allah, mereka melakukan semua perintah dan ketetapan Tuhan! Pertanyaan yang penting bagi kita semua: Sudahkah kita melakukan hal itu dalam kehidupan kita?

Berikutnya perhatikan dalam Lukas 1:7 "Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya." Walaupun seseorang sudah hidup benar dan tak bercacat di mata Tuhan, bukan berarti orang tersebut akan bebas dari segala persoalan dalam dunia ini, justru melalui persoalan yang ada dalam hidupnya... Tuhan akan memakai hal itu untuk menunjukkan kuasa dan mujizat-Nya melalui penggenapan setiap janji-Nya dalam kehidupannya, sehingga hal itu menjadi kesaksian dan berkat pula bagi yang lain!

Jadi yang pertama, siap itu berarti: hidup benar dan tak bercacat di mata Tuhan.

Yang kedua, perhatikan dalam ayat 5 diatas, Zakharia dan istrinya bukan hanya hidup benar, mereka juga keturunan Harun, seorang imam; berarti mereka juga mempersembahkan hidup dan waktu untuk melayani pekerjaan Tuhan di dunia ini. Tuhan menciptakan kita di dunia bukan hanya untuk menikmati berkat-berkat-Nya tapi lebih dari itu ada misi yang diberikan-Nya pada kita untuk diselesaikan bagi kemuliaan-Nya. Apakah kita sudah tahu dan mengerti apa tujuan hidup kita di dunia ini? Jika sudah maka lakukanlah itu bagi kemuliaan-Nya, jika belum maka tanyakanlah pada Tuhan Pencipta kita, apa tujuan-Nya menjadikan kita hidup dalam dunia ini? Dan Dia pasti akan menjawabnya.

Lalu kita lanjutkan dalam Lukas 1:11-13 "Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes." Hal ketiga yang Zakharia dan istrinya lakukan sehingga siap menerima janji Tuhan adalah tekun berdoa sampai doanya dijawab oleh Tuhan.

Bayangkan, saat doa Zakharia dan Elisabet dijawab, mereka berdua sudah dalam usia lanjut (ayat 7), misalkan saja usia mereka saat itu 60 tahun, dan mereka berdoa minta anak sejak usia 35 tahun, artinya mereka telah tekun berdoa selama 25 tahun! Bukan waktu yang sebentar tapi mereka mau tekun dan tetap setia berdoa...

Dan tepat pada waktu-Nya (anak Zakharia & Elisabet yaitu Yohanes Pembaptis memang harus lahir lebih dulu dari Yesus, demi misi mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan ke dunia), Tuhan menjawab doa mereka, memberikan janji-Nya dan mujizat-Nya (bisa punya anak dalam keadaan mandul dan usia lanjut... tentu suatu mujizat bukan). Itulah respon pertama yang harus kita miliki jika mau menerima janji dan mujizat Tuhan di tahun 2011.

Respon kedua yang harus kita lakukan adalah tetap percaya pada janji Tuhan (apapun yang terjadi)! Percaya kelihatan lebih mudah jika kita sebelumnya pernah melihat, mendengar kesaksian ataupun mengalami sendiri (tapi yang Tuhan mau bukan hanya percaya karena pernah melihat melainkan percaya karena iman); walaupun itu bukan jaminan kita akan tetap percaya saat janji Tuhan diberikan dalam hidup kita... seperti yang dilakukan Zakharia, respon pertamanya sudah benar namun respon berikutnya masih belum benar. Perhatikan dalam Lukas 1:18 Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." Dari ayat ini kita bisa mengerti bahwa Zakharia menyangsikan janji Tuhan, dia tidak percaya sepenuhnya karena dalam pikirannya dia beranggapan tidak mungkin seorang yang sudah tua dan lanjut umur bisa hamil dan melahirkan anak.

Respon Zakharia saat janji dan mujizat Tuhan disampaikan kepadanya sungguh ironis dengan responnya yang pertama, apa yang dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa dia siap tapi saat janji mujizat diberikan dia malah tidak percaya... Doa dan pengharapan selama berpuluh-puluh tahun dilakukannya tapi saat dijawab malah sangsi... Sebagai orang Yahudi dan seorang imam, Zakharia pasti mengerti Firman Tuhan dan hapal isi kitab Taurat dimana ada tertulis kisah hidup Abraham dan Sarah yang juga dikaruniai anak yang Tuhan janjikan yaitu Ishak, pada usia tua dan lanjut; ada pengalaman rohani atau kesaksian hidup dari leluhurnya yang mirip dengan mujizat yang Tuhan janjikan kepada Zakharia... sehingga seharusnya karena hal itu sudah pernah Tuhan lakukan sebelumnya, tentunya lebih mudah bagi Zakharia untuk percaya, TAPI dia tetap saja tidak percaya sepenuhnya... Bagaimana mungkin hal itu akan terjadi? pikirnya...

Dan karena respon Zakharia yang tidak percaya, di ayat 20, Tuhan memberikan hukuman kepadanya: "Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya." Janji dan mujizat Tuhan tetap terjadi bagi Zakharia tapi juga ada hukuman baginya karena kurang percaya...

Jadi bagaimana respon yang benar?
Mari kita lihat dalam Lukas 1:30-35 & 38, dikisahkan bahwa malaikat Tuhan menyampaikan pesan pada Maria bahwa oleh kasih karunia Tuhan, Maria akan mengandung bayi Yesus, dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Maria juga sempat bertanya pada malaikat Tuhan, tapi pertanyaan Maria bukanlah suatu kesangsian namun suatu kewajaran... Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

Perhatikan respon Maria setelah mendengar hal itu, di ayat 38: Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk bisa percaya pada perkataan malaikat itu, Maria bisa percaya bahwa yang berbicara padanya benar-benar malaikat Tuhan (bukan iblis) karena hidupnya bergaul intim dengan Tuhan sehingga punya kepekaan untuk membedakan roh. Yang lebih dahsyatnya lagi, Maria yang saat itu belum menikah dengan Yusuf tunangannya, tiba-tiba menerima janji mujizat-Nya bahwa dia harus hamil... dia tahu apa konsekuensi yang akan diterimanya (hukum Taurat bagi wanita yang hamil diluar nikah = dosa perzinahan, adalah dirajam sampai mati), belum lagi Yusuf tunangannya pasti akan menolak menikahinya. Namun Maria tetap percaya pada janji Tuhan apapun yang akan terjadi!

Saat itu Yusuf belum tahu kisah yang terjadi dibalik hamilnya Maria, dan baru diberitahu oleh malaikat Tuhan kemudian, lihat dalam Matius 1:18-21. Respon Yusuf setelah mendengar hal itu sama dengan Maria, yaitu percaya pada janji Tuhan, padahal tidak mudah bagi seorang pria mendapati calon istrinya sudah hamil tanpa menikah sebelumnya dengan dirinya... Sebagai catatan: janji mujizat ini belum pernah terjadi sebelumnya, tidak pernah ada pengalaman atau kesaksian hidup sebelumnya dari tokoh Alkitab... Beda dengan mujizat yang dijanjikan pada Zakharia yang walaupun mustahil tapi pernah Tuhan lakukan sebelumnya, bagi Abraham, contohnya. Tapi wanita yang mengandung tanpa persetubuhan melainkan oleh benih Roh Kudus hanya terjadi satu kali ini saja, dan respon Maria serta Yusuf TETAP PERCAYA APAPUN YANG TERJADI! Dan hasilnya: inilah MUJIZAT TERBESAR yang pernah Tuhan Allah kerjakan bagi umat manusia! Yohanes 1:14: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Tahun 2011 adalah Tahun Multiplikasi dan Promosi, apakah kita siap menerimanya? Apakah kita percaya pada janji-Nya? Jika ya, marilah kita hidup benar di hadapan-Nya, melayani tujuan-Nya, dan senantiasa berharap pada Tuhan serta tetap percaya kepada-Nya... setiap janji-Nya, setiap mujizat-Nya pasti terjadi!

Saat ku tak melihat jalan-Mu
Saat ku tak mengerti rencana-Mu
Namun tetap kupegang janji-Mu
Pengharapanku hanya pada-Mu...

Hatiku percaya, hatiku percaya
Hatiku percaya, selalu kupercaya...


Tuhan memberkati!

Friday, December 17, 2010

A Story Behind Christmas

Lukas 1:5-47, 56-60

Pembahasan firman dalam Injil Lukas ini sangat menarik karena ada sebuah kisah yang bisa disingkapkan yang berhubungan dengan kelahiran Yesus. Ayat 5 ini bercerita tentang Zakharia yang adalah seorang imam dari rombongan Abia (NIV: who belonged to priestly division of Abijah = anggota dari imam divisi Abia).

Bagi kita yang tidak akrab dengan adat istiadat Yahudi, kita perlu mengetahui bagaimana caranya imam-imam Bait Allah bertugas. Menurut 1 Tawarikh 24:7-19, ada 24 rombongan (divisi) imam, dimana salah satunya adalah rombongan Abia. Setiap imam yang ada ditugaskan ke dalam salah satu rombongan tersebut. Masing-masing rombongan bertugas selama satu minggu, dalam setahun mereka mendapat giliran melayani di Bait Allah sebanyak dua kali. Saat ada hari raya, maka ke-24 rombongan akan bertugas bersama-sama.

1 Tawarikh 24:10: ...yang kedelapan pada Abia, Zakharia ada dalam rombongan Abia, sedangkan Abia adalah rombongan imam kedelapan. Karena rombongan imam mulai melayani di Bait Allah sejak bulan Nisan (Maret-April) sebagai awal upacara keagamaan, dan ada beberapa Perayaan/Hari Raya yaitu Paskah (14 Nisan), Roti Tak Beragi (15-21 Nisan), Buah Sulung (16 Nisan), dan Pentakosta (6 Sivan) dan maka jadwal pelayanan tahunan rombongan Abia jatuh pada tanggal 12-18 Sivan (sekitar tanggal 13-19 Juni).

Ayat 8-13: Gabriel memberitakan tentang Yohanes Pembaptis kepada Zakharia. Karena Gabriel berbicara saat Zakharia sedang melayani di Bait Allah maka berita itu diterima Zakharia antara tanggal 13-19 Juni pada tahun 5 SM, dimana Herodes menjadi raja Yudea pada waktu itu.

Selanjutnya pada ayat 23-24: setelah melayani, Zakharia pulang ke rumahnya, lalu istrinya, Elisabet mengandung dan setelah itu selama 5 bulan ia bersembunyi.

Hari terakhir pelayanan Zakharia di Bait Allah sebelum dia kembali ke rumah adalah hari Sabat (19 Sivan), karena hari Sabat maka dia tidak bisa meninggalkan Yerusalem sebelum tanggal 20 yaitu keesokan harinya. Sedangkan rumah Zakharia diperkirakan oleh kebanyakan sarjana Alkitab terletak di Juttah, yang merupakan kota dimana imam-imam Lewi tinggal. Juttah berjarak sekitar 30 mil selatan Yerusalem. Pada jaman itu transportasi yang ada hanyalah dengan berjalan kaki atau naik kuda/keledai. Zakharia baru bisa meninggalkan Yerusalem pada tanggal 20 Sivan, lalu pulang ke rumahnya, diperkirakan dia butuh sekitar 2 hari untuk sampai di rumah dan istirahat (ingat... usia Zakharia sudah tua, ayat 18), sehingga kemungkinan konsepsi (pembuahan) Yohanes Pembaptis terjadi sekitar tanggal 23 Sivan (24 Juni).

Kemudian pada ayat 26: Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel ke Nazaret membawa berita bagi seorang perawan bernama Maria. Lalu ayat 36: Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Perhatikan kedua ayat ini, saat Tuhan menyuruh malaikat Gabriel membawa kabar pada Maria, Elisabet sudah mengandung 6 bulan.

Kemudian kita lanjutkan dalam ayat 39-44: Maria mengunjungi Elisabet, saat itu Maria sudah mengandung bayi Yesus, perhatikan ayat 41-44: Bayi Yohanes Pembaptis, yang berada di rahim ibunya, Elisabet, melonjak ketika Yesus yang dalam rahim Maria masuk ke dalam rumah...Luar biasa!

Mari kita ringkas semuanya dan kembali ke perhitungan waktu,
  • Kemungkinan pembuahan Yohanes terjadi pada tanggal 23 Sivan (24 Juni), 5 SM kemudian setelah itu ayat 26 dan 36 mencatat bahwa Elisabet sudah hamil 6 bulan yang berarti saat itu adalah bulan Juni plus enam bulan yaitu bulan Desember,
  • Lalu ayat 39 mencatat: beberapa waktu kemudian Maria mengunjunginya (berarti waktu kunjungannya adalah di bulan Desember) dan saat itu Maria sudah mengandung bayi Yesus.
Perhatikanlah... bulan Desember... Kita tahu pasti bahwa itu bulan Desember karena Lukas mencatat bahwa konsepsi Tuhan Yesus adalah 6 bulan setelah konsepsi Yohanes Pembaptis (ayat 26 dan 36), sedangkan konsepsi Yohanes diperkirakan pada tanggal 24 Juni. Oleh karena itu, hanya soal perhitungan sederhana bahwa tanggal konsepsi (pembuahan) bayi Yesus jatuh pada tanggal 1 Tevet (25 Desember).

Jadi, Yesus memang TIDAK LAHIR di Hari Natal tanggal 25 Desember, tapi konsepsi-Nya terjadi pada Hari Natal! Bahwa kemungkinan konsepsi Yesus (Yesus sudah ada dalam kandungan) pada tanggal 25 Desember benar-benar luar biasa! Kita tahu bahwa 25 Desember sebenarnya hari libur dan festival pagan (hari ulang tahun dewa palsu) jauh sebelum masa Yesus, yang kemudian diadopsi oleh gereja pada masa kaisar Romawi, Konstantinus, dan dijadikan hari Natal.

Tapi, melihat semua penjelasan diatas... sekarang kita punya alasan untuk merayakan Natal dengan sukacita, sebab kita tahu sekarang bahwa Natal adalah hari yang sangat istimewa dan luar biasa, karena itu adalah hari pertama dimana hidup-Nya sebagai manusia datang ke dunia! Natal adalah hari konsepsi-Nya, dan pada saat itupun Yesus adalah manusia janin yang hidup (bukan gumpalan jaringan, tetapi nyata hidup) dalam rahim Maria!

Mungkin ada yang berpikir bahwa semua penjelasan diatas hanyalah perkiraan, tapi itu semua bukanlah suatu kebetulan, karena dalam Tuhan tidak ada yang kebetulan, ada hal-hal lain yang membuktikan kalau Tuhan merancangkan segala sesuatu tepat pada waktu-Nya!

Mari kita teruskan karena ini masih belum selesai...
Ayat 56-57: Maria (dan bayi Yesus dalam rahimnya) tinggal bersama Elisabet selama 3 bulan, lalu mereka kembali ke rumahnya dan setelah itu Yohanes Pembaptis pun lahir.

Karena konsepsi Yohanes diperkirakan pada tanggal 23 Sivan (24 Juni, 5 SM), maka Yohanes Pembaptis diperkirakan lahir antara pertengahan bulan Nisan, sekitar tanggal 14-15 Nisan, dimana umat Yahudi merayakan Hari Raya Paskah, tahukah anda... setiap Perayaan Paskah ada Jamuan Seder Pesakh, apa pentingnya hal itu? Dalam jamuan tersebut disediakan 5 cawan, dan 1 dari 5 cawan itu (disebut cawan Elia) memang dipersiapkan khusus bagi Elia yang akan datang! Perhatikan apa yang dikatakan malaikat Gabriel tentang Yohanes Pembaptis di ayat 17: ia (Yohanes Pembaptis) akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia, lalu apa yang dikatakan Yesus tentang Yohanes Pembaptis di Matius 17:12: Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang... lalu ayat 13: Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

Luar biasa! Yohanes Pembaptis adalah Elia yang akan datang dan dia lahir di saat umat Yahudi merayakan Paskah... dimana memang disiapkan cawan Elia yang diperuntukkan khusus bagi menyambutnya!

Nah apakah sekarang kita sudah selesai? Belum! Karena masih ada satu hal yang lebih luar biasa lagi... mari kita teruskan, dari pembahasan diatas diperkirakan konsepsi Yesus jatuh pada tanggal 25 Desember, 5 SM, setelah sekitar 9 bulan dalam kandungan Maria, maka Yesus diperkirakan lahir pada pertengahan bulan Tisri, sekitar tanggal 15 Tisri (29 September, 4 SM).

Lalu apa istimewanya hal ini? Ada apa tentang 15 Tisri? Tanggal 15 Tisri adalah hari pertama dari Perayaan Pondok Daun dan penyunatan Yesus (saat bayi usia 8 hari, yaitu sama dengan hari kedelapan) adalah hari terakhir dari Perayaan Besar Pondok Daun (Hari Pertemuan Kudus–Holy Convocation, Imamat 23:36)... Luar biasa bukan!

Tahukah anda apa maknanya Yesus lahir bertepatan dengan Hari Raya Pondok Daun?
Yohanes 1:14 mencatat: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Firman itu (= Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, dan diam (= tabernacled, berkemah) di antara kita...

Tuhan Yesus lahir ke dunia, menjadi manusia, artinya: berdiam, tinggal (= tabernacled), berkemah dengan kita, bersamaan dengan dirayakannya Hari Raya Pondok Daun (Sukkot) yang juga disebut Festival Tabernakel/Kemah Suci (Feast of Tabernacles)!

Suatu kebetulankah?? TAPI kita tahu tidak ada yang kebetulan di dalam Tuhan... semua hal ada dalam rencana-Nya. Terpujilah Tuhan Allah kita dari kekal hingga kekal... selama-lamanya!