Friday, June 3, 2011

Kasih Sebagai Dasar Pernikahan

Saat ditanyakan: Kenapa kamu ingin menikah dengan dia? umumnya pasangan yang akan menikah menjawab: karena ’saya merasa cocok/sreg dengan dia’, ’saya yakin bahwa dia adalah pasangan hidup saya’, ’saya mencintainya’, ’saya ingin membahagiakannya’, dan sebagainya; tapi tidak banyak yang mengatakan...karena ’saya mengasihinya dan bisa menerima dia apa adanya’.

Padahal kasih merupakan dasar utama bagi pasangan untuk melangkah ke pernikahan, bukan cinta atau kecocokan semata. Firman Tuhan dalam Roma 5:8 mengajarkan bahwa, Tuhan terlebih dulu menunjukkan kasih-Nya pada kita, yaitu dengan mati di kayu salib, pada saat kita masih berdosa. Kasih tanpa syarat seperti yang Tuhan Yesus tunjukkan itulah yang seharusnya menjadi dasar/pondasi bagi pernikahan kita. Jika demikian halnya maka persoalan boleh ada namun rumah tangga akan tetap kuat, seperti ada tertulis, segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).

Menikah artinya menjadi satu daging dengan pasangan, nah apakah anda mau menyakiti tubuh anda sendiri? Tentu saja tidak! Sebagai pasangan orang percaya, satu sama lain harus bisa mengasihi pasangannya seperti Tuhan telah mengasihinya. Artinya, bisa menerima dan mengasihi pasangan apa adanya, walaupun ada hal-hal yang belum diketahui sebelum atau sesudah menikah.

Setiap orang tentu punya kekurangan, misalkan calon pasangan anda, seorang yang temperamen atau galak, sebelum menikah sebaiknya dipikirkan masak-masak, apakah anda sungguh mengasihinya dan bisa menerimanya apa adanya, dengan segala konsekuensinya? Jangan berpikir untuk mengubahnya, namun terima apa adanya jika memang anda mengasihinya, caranya tentu dengan lebih sabar menghadapinya, menasehati (bukan menggurui) dan berdoa untuk perubahan karakternya. Lalu bagaimana jika baru ketauan galak setelah menikah? Jika pernikahan didasari oleh kasih, tentunya sikap anda tidak jauh berbeda, tidak perlu merasa digombali tapi tetaplah mengasihinya dan berdoa untuknya sampai perubahan terjadi.

Dengan kasih yang tanpa syarat, kita bisa hidup bersama pasangan dalam segala kondisi, baik saat dia menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Apakah itu sesuatu yang mudah atau sulit dilakukan? Jawabannya, tergantung pada diri kita sendiri...sudahkah ’kasih tanpa syarat’ itu ada dalam hidup kita sendiri.

Sebagai seorang dokter muda yang baru selesai pendidikan, saya wajib menjalani tugas pengabdian di Puskesmas selama 3 tahun. Maka saya pun ditempatkan di suatu Puskesmas yang jauh jaraknya dari kota asal saya, yang membutuhkan waktu lebih dari 8 jam perjalanan kesana.

Ternyata Tuhan punya rencana indah, karena disanalah saya bertemu dengan calon istri. Pertemuan tersebut diawali dengan sebuah undangan persekutuan doa di rumahnya. Saat itu dia terpaksa pulang ke kampung halamannya dan meninggalkan kuliahnya di Jakarta, karena mengalami gangguan fungsi ginjal yang sangat serius, dimana kedua ginjalnya dipenuhi batu, sehingga fungsi ginjalnya hanya tersisa 10% saja.

Awalnya tidak pernah terbersit dalam pikiran saya bahwa ia akan menjadi jodoh saya. Namun setelah beberapa kali bertemu, bibit cinta mulai bersemi di hati kami berdua, dan kami mulai berpacaran. Sebagai manusia dan dokter, rasanya ’kurang rasional’ jika saya berpacaran dengan seorang yang punya masalah kesehatan yang cukup serius, bahkan pihak keluarga pun sempat mempertanyakan pilihan saya tersebut. Pergumulan timbul dalam hati saya, namun saya kembali dikuatkan dan percaya Tuhan pasti punya rencana indah buat kami.

Hubungan kami pun terus berlanjut dengan serius, dan walaupun saya mengetahui latar belakang kesehatan calon istri namun hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk menikahinya pada tahun 1997. Di tahun 1998, tugas saya di Puskesmas tersebut selesai dan kami memutuskan untuk pindah ke Jakarta karena saya bercita-cita untuk mengambil spesialisasi.

Ternyata kami harus menghadapi kenyataan pahit karena istri saya terkena infeksi ginjal serius yang hampir merenggut nyawanya. Bahkan ia divonis menjalani cuci darah untuk seterusnya karena kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Saat itu saya sempat putus asa dan tak berdaya, karena cuci darah membutuhkan biaya yang tidak kecil dan harus dijalani seumur hidup. Namun dengan iman dan kasih dari Tuhan, kami terus melangkah bersama dan berharap hanya kepada-Nya.

Sungguh rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera untuk mendatangkan hari depan yang penuh harapan. Tuhan menyertai dan memberkati pernikahan kami secara luar biasa, meskipun saya harus meninggalkan niat menjadi dokter spesialis, tetapi Dia tetap memberkati kami secara luar biasa. Saat ini di tahun 2011, tak terasa cangkok ginjalnya sudah melewati tahun yang ke delapan.

Pernah istri bertanya kepada saya, apakah saya mencintainya? Saya selalu menjawab bahwa saya mengasihinya. Itulah dasar dari komitmen saya kepadanya. Cinta manusia bisa luntur karena waktu atau konflik rumah tangga, namun Kasih itu tidak berkesudahan. Terpujilah Tuhan buat segala kebaikan-Nya kepada kami berdua. Haleluya.

Sebagai orang percaya, jika kita memiliki sikap/respon yang benar, menempatkan Tuhan diatas segalanya maka percayalah Dia pasti akan membela hidup dan rumah tangga kita, karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.

Tuhan memberkati!

Sunday, May 8, 2011

Tindakan (Respon) orang percaya dalam keuangan

Tuhan pasti memberikan janji berkat-Nya bagi anak-anak Tuhan, tapi sayangnya tidak semua anak Tuhan bisa meraih janji Tuhan, hanya mereka yang beriman yang bisa meraihnya. Perhatikan kata IMAN ini.

Iman yang dimaksud dalam Alkitab berhubungan dengan PERCAYA, dalam Alkitab sering muncul kata iman dan percaya, kata iman dalam PB diterjemahkan dari kata Yunani: pistis, sedangkan kata percaya diterjemahkan dari kata Yunani: pisteuoo. Kata 'percaya' adalah bentuk kata kerja dari kata 'iman'. Artinya, seorang dikatakan punya iman jika dia juga percaya, iman ada di dalam hati... percaya ada dalam tindakan/respon. Jadi wujud iman adalah tindakan percaya!

Kita lihat dalam Matius 19:16-22, kisah mengenai orang muda yang kaya.
Ayat 20: orang muda ini berkata semua perintah Tuhan (Taurat) sudah dia lakukan, apa masih ada yang kurang?
Ayat 21: Yesus menjawab: jika mau sempurna, juallah hartamu dan ikutlah Aku.
Ayat 22: respon orang muda itu adalah pergi meninggalkan Yesus (sebab hartanya banyak).

Matius 6:21 mencatat: Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Dalam kisah orang muda ini, yang dimaksud 'harta'nya adalah harta secara nyata/fisik yaitu uang, barang berharga, dan lainnya. Namun sebenarnya masih banyak 'harta-harta' dalam bentuk lainnya, contoh: harga diri, kesombongan, status, dan sebagainya...bahkan tingkat kerohanian. Sedangkan kalimat: 'hatimu berada' bisa diartikan sebagai imanmu, karena iman ada dalam hati.

Firman Tuhan menyatakan dalam 1 Timotius 6:10a, Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Bahkan salah satu ujian di jaman Antikis nanti, juga soal uang (dimana hanya dengan tanda 666 orang bisa berjualan/membeli = punya uang).

Bagaimana caranya agar kita bisa menang dari cinta uang?
Ya...seperti yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Matius 19:21 ...juallah hartamu dan ikutlah Aku. Apa maksudnya kita harus jual harta kita? Pengertiannya adalah kita tidak lagi terikat pada harta tersebut.

Perhatikan kisah lainnya tentang orang kaya di Lukas 19:2, 5-10, kisah tentang Zakheus.
Ayat 2: Zakheus seorang pemungut cukai (petugas pajak) dan kaya.
Ayat 5: Yesus mampir ke rumah Zakheus.
Ayat 8: respon Zakheus adalah memberi hartanya bagi orang miskin dan mengembalikan uang pada orang yang diperasnya.
Ayat 9: respon Tuhan bagi Zakheus, keselamatan bagi Zakheus dan seisi rumahnya.

Perhatikan... Saat respon kita benar maka Tuhan akan meresponi kita juga !

Jadi respon apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya dalam hal keuangan?
Maleakhi 3:8-11
1. mengembalikan persepuluhan ke rumah perbendaharaan.
2. memberikan persembahan khusus.

Dalam KJV, Persepuluhan: tithes (one-tenth part), Rumah perbendaharaan: storehouse, Persembahan khusus: offering.

Storehouse: lumbung/tempat penyimpanan, bicara lumbung bisa ada dua arti:
a. tempat menyimpan/mendapatkan makanan
b. tempat menyimpan/mendapatkan benih

Ini menggambarkan rumah Tuhan/gereja tempat dimana kita mendapat makanan rohani dan bertumbuh, jadi bayarlah persepuluhan di gereja tempat kita berjemaat. Sekaligus pula hal ini juga menggambarkan bahwa tindakan persepuluhan ibarat seperti orang menabur (benih) dimana suatu saat pasti akan menuai jika tidak jemu-jemu (tidak berhenti) melakukannya.

Offering, artinya:
- a collection of donation,
- a religious sacrifice, a gift/present in worship.

Persembahan khusus bisa berarti kolekte atau sumbangan seperti diakonia atau pada acara ibadah khusus lainnya, namun bisa pula berupa pengorbanan hidup kita seperti menyalibkan daging, pujian-penyembahan... segala sesuatu yang kita lakukan untuk menyenangkan Tuhan.

Saat kita menghadiri Ibadah Raya setiap minggu, sebenarnya kita juga membawa offering (persembahan khusus) untuk Tuhan melalui pujian-penyembahan kita, kolekte kita, apapun yang kita lakukan dalam Ibadah Raya tersebut...masalahnya banyak orang percaya yang tidak mengerti akan hal itu, Ibadah Raya dianggapnya hanya sebagai liturgi belaka...sehingga pujian-penyembahan pun dilakukan seperti lip sync, begitu pula kolekte seringkali dianggap sebagai kewajiban... akhirnya apa yang dilakukan bukan lagi dari hati namun karena kebiasaan. Padahal yang Tuhan mau adalah persembahan yang tulus dari hati kita.

Lalu kenapa Tuhan menyuruh kita untuk melakukan persepuluhan dan persembahan khusus?

Alkisah... ada seorang petani yang menyuruh anak-anaknya bekerja di ladang jagung, sementara anak-anak lain sedang bermain-main.
Seorang laki-laki lalu menegur petani itu dan bertanya,
"Mengapa Anda membuat anak-anakmu bekerja keras di ladang jagung? Bukankah Anda tidak perlu semua jagung itu."
Petani itu menjawab: "Pak, saya bukan sedang membesarkan jagung, saya sedang membesarkan anak-anak saya."

Bagi Tuhan, respon/tindakan persepuluhan & persembahan khusus adalah masalah ketaatan dan iman-percaya; Tuhan tidak butuh uang kita... yang Dia mau melalui aturan persepuluhan ini adalah mengajar kita untuk sepenuhnya percaya kepada Dia (khususnya dalam hal keuangan).

Kalau kita percaya bagi Tuhan tak ada yang mustahil, dan Dia sanggup menolong kita dalam hal apapun, maka bertindaklah percaya dengan mengembalikan persepuluhan walaupun kelihatannya hal itu mustahil bagi kita (mungkin jika mengembalikan persepuluhan apalagi ditambah persembahan khusus maka uang kita jadi tidak cukup dalam perhitungan kita, tapi bukankah iman berarti percaya sebelum melihat?). Ini adalah masalah ketaatan dan iman-percaya... Pilihan ada pada diri kita sendiri, mau jadi seperti orang muda yang kaya atau seperti Zakheus.

Jika kita mengembalikan persepuluhan berarti kita menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita.

Tuhan memberkati.

Sunday, April 24, 2011

Dosa Seksual

Kita baru saja memperingati karya penebusan Tuhan Yesus di kayu salib. Dia mati dan bangkit dari maut...demi menebus dosa-dosa kita, manusia. Tapi kenapa manusia cenderung untuk berdosa? Selain adanya ikatan dosa waris, yang namanya dosa itu juga dikemas oleh iblis secara menarik & dibuat kelihatan enak.

Perhatikan II Samuel 11:1-5, yang mengisahkan tentang Daud & Batsyeba: Pada saat orang Israel berperang, Daud tinggal di Yerusalem (di istananya). Dia bersantai dan berjalan-jalan di atas sotoh, lalu tanpa sengaja dia melihat wanita yang sedang mandi. Namun Daud malah mengamatinya dan tertarik pada kecantikan wanita itu, lalu Daud mengambilnya dan berzinah dengan wanita itu (Batsyeba) sampai akhirnya hamil!

Bukankah kejadian yang sama juga terjadi pada kehidupan sekarang ini? Misalnya:
  • Seorang suami (yang tentunya punya istri) kemudian bertemu dengan WIL atau TTM lalu selingkuh sampai akhirnya pasangan selingkuhnya itu hamil.
  • Atau pasangan anak muda yang sedang pacaran lalu bertindak diluar batas, hingga melakukan hubungan suami-istri...dan akibatnya si wanita pun hamil.
Kenapa kisah Daud & Batsyeba menarik untuk diperhatikan?
Karena Daud itu sesungguhnya seorang yang berkenan di mata Tuhan (lihat ayat sebelumnya di II Samuel 7:4-29) Tuhan memberkati Daud & keluarganya, bahkan di II Samuel 7:15 Tuhan berjanji pada Daud bahwa: kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya.

Lalu apa sebabnya Daud (atau anak Tuhan) bisa jatuh dalam dosa seksual? Kembali ke II Samuel 11:
  1. Ayat 1-2: saat Israel sedang berperang, Daud malah bersantai; kalau di jaman sekarang sama artinya kita sebagai orang Kristen dimana seharusnya berdoa, memuji menyembah Tuhan, membangun hubungan dengan Tuhan, saat teduh…tapi malah lebih memilih untuk santai, tidur, nonton tv, dll.
    Sebab ke-1: santai rohani, tidak berjaga-jaga/tidak waspada (= BUKA CELAH DOSA).
  2. Ayat 2: ...berjalan-jalan diatas sotoh istana, melihat perempuan mandi dan perempuan itu sangat elok rupanya; sotoh itu adalah atap rumah di jaman itu yang bentuknya datar (seperti atap beton ruko jaman sekarang), jadi sotoh itu posisinya ada diatas, di ketinggian, ini bisa diartikan kita sebagai anak Tuhan yang seharusnya memikirkan hal-hal yang ada diatas (surga), tapi malah tergoda pada daya tarik dunia (kenikmatan/keindahan jasmani yang ditawarkan dunia ini).
    Sebab ke-2: tergoda oleh daya tarik dunia (DOSA MERASUK dalam HATI-PIKIRAN).

    Matius 15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.
  3. Ayat 4: Daud menyuruh orang mengambilnya, dan tidur dengannya; hal ini menggambarkan finalisasi suatu tindakan dosa…jika sebelumnya diawali dengan adanya celah, lalu dilanjutkan dengan ketertarikan/tergoda, sekarang malah diwujudkanlah kehendak dosa itu.Sebab ke-3: kalah pada keinginan daging/dosa (PERBUATAN DOSA).

Jadi sebelum suatu tindakan dosa terwujud, sebenarnya ada beberapa tahapan yang terjadi, tapi kuncinya dosa itu terjadi/tidak tergantung pula pada keputusan kita sendiri, Tuhan pasti memberikan peringatan-peringatan sebelum suatu dosa dilakukan, tapi Tuhan juga memberi kita ’freewill’ untuk memilih: Apakah kita mau menang atau kalah pada kehendak daging/dosa itu?

Apa saja akibat dosa seksual?
  1. Akibat fisik: II Samuel 11:5... Buah dosa seksual a.l: hamil diluar nikah...dan kemungkinan jatuh dalam dosa yang lebih dalam lagi, seperti: pembunuhan. Dalam kasus Daud, dia membunuh Uria, suami Batsyeba (ayat 14-17), kalau jaman sekarang yang dibunuh umumnya: janin bayi tersebut, melalui aborsi.
  2. Akibat non-fisik: I Korintus 6:16-18...menjadi satu tubuh, artinya secara daging, jiwa & roh menjadi satu dengan pasangan zinahnya, akibatnya bukan hanya daging yang tercemar tapi juga jiwa & rohnya. Orang yang berzinah akan mengalami kerusakan gambar diri dan berusaha memenuhi citra dirinya melalui perzinahan2 lainnya yang justru malah membuat jati dirinya makin rusak... Dan seperti narkoba, dosa seks membuat orang makin kecanduan & hancur!
  3. Akibat kekal: Galatia 5:19-21 ...semua dosa, termasuk percabulan tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah-sorga (ayat 21).

Bagaimana cara mengatasi dosa seksual?
Tentunya selain minta perlindungan Tuhan, ada juga bagian yang harus kita kerjakan...
  1. Kejadian 39:6-12, Yusuf dirayu, dibujuk oleh tante Potifar, sebagai istri seorang pejabat penting (kepala pengawal raja) tentu tante Potifar seorang wanita yang menarik, cantik dan terpelihara. Tapi Yusuf tidak tergoda oleh daya tarik tante Potifar...perhatikan jurus yang dipakai Yusuf untuk menghadapi kemungkinan dosa seksual, ayat 12: Yusuf lari keluar!
    Cara ke-1: LARI dari DOSA (JANGAN BUKA CELAH).
  2. Jika orang yang intim dengan Tuhan seperti Daud saja bisa jatuh dalam dosa seksual apalagi yang tidak/kurang intim dengan Tuhan, jadi janganlah kita buka celah dosa sekecil apapun.

  3. II Samuel 12:1-13, ayat 13: Daud mengakui bahwa dia berdosa pada TUHAN, dia tidak beralasan atau kabur dari Tuhan, tapi di ayat 16: dia malah berdoa & berpuasa pada Tuhan agar meluputkan akibat dosa dari keluarganya.
    Cara ke-2: AKUI DOSA di hadapan Tuhan & BERTOBAT.

Sebagai penutup, perhatikan kehidupan Daud, selama sisa hidupnya Daud tidak pernah lagi mengulangi dosa ini, dia sungguh-sungguh bertobat. Daud dikenal sebagai seorang yang melakukan kehendak Tuhan pada jamannya (Kisah 13:36 a), bahkan silsilah kelahiran Tuhan Yesus ke dunia pun melalui keturunan dari raja Daud ini, sehingga Tuhan Yesus juga sering disebut sebagai: Anak Daud (Matius 15:22, 20:30).

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita melakukan kehendak Tuhan pada jaman kita?

Tuhan memberkati...

Tuesday, March 15, 2011

Bumi Jaman Sebelum Air Bah

Berdasarkan penelitian... beberapa ilmuwan memperkirakan bahwa, keadaan bumi kita yang sekarang ini sangat berbeda dari keadaan bumi sebelum Air Bah. Diperkirakan pada jaman sebelum Air Bah, Allah menempatkan lapisan uap air di atas atmosfir di sekeliling bumi (Kejadian 1:6-8). Adam, Kain, Nuh dan orang-orang lain yang hidup pada jaman sebelum Air Bah, tidak dapat melihatnya. Lapisan uap air itu tidak terlihat oleh mata mereka. Mereka dapat melihat matahari pada siang hari, bulan dan bintang-bintang pada malam hari, tapi melihatnya melalui pantulan lapisan uap air itu.

Lapisan uap air itu adalah bagian dari rencana agung Allah. Lapisan uap air diciptakan untuk menjaga dan memelihara penguapan suhu bumi. Karena itulah pada jaman itu tidak ada daerah yang terus menerus dingin di bumi, bahkan di Kutub Utara atau di Kutub Selatan. Suhu udara di seluruh bumi tetap sama sepanjang tahun. Cuaca yang hangat dan lembab, mirip sekali dengan udara dalam rumah kaca di jaman sekarang, kalau kita masuk ke dalamnya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa sinar ultra-violet dari matahari berbahaya bagi kehidupan setiap makhluk di bumi. Selama 1600 tahun lapisan uap yang tidak kelihatan itu melindungi bumi dari sinar ultra-violet. Karena perlindungannya itu tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang dan manusia dapat hidup lebih lama, dan bisa bertumbuh lebih besar daripada keadaan zaman sekarang ini. Sebagai contoh adalah buah-buahan yang dihasilkan di rumah kaca biasanya lebih besar daripada yang dihasilkan di kebun.

Ketika Allah memberi tahu Nuh, bahwa hujan lebat akan turun, maksud-Nya ialah lapisan uap air itu berubah menjadi air hujan. Maka hujan lebat pun turun. Firman Allah melukiskan hujan itu demikian "...terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit." (Kejadian 7:11). Terjadinya Air Bah itu sebagian besar disebabkan pula oleh curahan air yang dahsyat dari langit ke bumi.

Kemudian datanglah air bah. Tetapi Allah melindungi ciptaannya dengan menyediakan satu bahtera yang menyelamatkan satu keluarga, dan juga segala jenis binatang yang bernafas (termasuk dinosaurus).

Ketika keluarga Nuh dan semua binatang itu keluar dari bahtera, mereka menyaksikan satu bumi yang sangat berbeda dari bumi yang pernah mereka huni sebelumnya. Gunung-gunung terjal, seperti Gunung Alpen dan Himalaya, muncul pada daerah pegunungan yang jauh lebih datar sebelumnya. Ngarai-ngarai curam terbentuk oleh arus air deras, yang mengkikis tanah lunak. Laut yang dangkal berubah menjadi samudera yang dalam, seperti yang kita kenal pada jaman sekarang ini.

Barangkali bumi memiliki lebih banyak tanah daratan, dan lebih banyak lahan bagi tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang sebelum Air Bah. Setelah jaman itu, tumbuh-tumbuhan tidak tumbuh sesubur dan serimbun sebelumnya. Demikian pula rawa-rawa semakin langka. Padang gurun mulai ada, sehingga sebagian dinosaurus sulit mendapat makanan. Karena kekurangan bahan makanan, banyak dinosaurus mungkin mati kelaparan. Sementara dinosaurus herbivora mulai punah, dinosaurus karnivora terancam punah pula.

Radiasi sinar matahari mulai merusak segala yang hidup. Sebab sinar ultra-violet yang berbahaya tidak lagi ditapis oleh lapisan uap air di cakrawala. Akibatnya, masa hidup tumbuh-tumbuhan dan makhluk binatang semakin pendek. Ini berarti dinosaurus tidak sempat bertumbuh sampai menjadi raksasa seperti dahulu.

Cuaca bumi berubah begitu jauh setelah peristiwa Air Bah. Cuaca di seluruh bumi tidak lagi hangat atau pun lembab. Beberapa bagian dunia bahkan sangat ekstrem dingin atau panas. Tidak semua spesies dapat menyesuaikan diri karena perubahaan cuaca ini... Bisa jadi banyak binatang yang punah termasuk dinosaurus karena habitat dan suhu bumi berubah sehingga mereka tidak dapat bertahan hidup.

Beberapa dinosaurus ada yang masih bertahan hidup sampai jaman Ayub dan sisanya ada yang masih bertahan hidup sampai sekarang seperti Komodo si Kadal Raksasa, atau Coelacanth si Ikan Purba...

Friday, February 25, 2011

Perselingkuhan

Di jaman akhir ini, perselingkuhan sepertinya sudah menjadi hal yang biasa terjadi dalam masyarakat kita bahkan diantara orang-orang Kristen. Padahal dosa perselingkuhan atau perzinahan yang menjadi penyebab utama keretakan hubungan suami istri, merupakan kekejian di mata Tuhan.

Dulu orang cenderung menyangka bahwa perselingkuhan lebih sering terjadi pada pria/wanita setengah baya yang mengalami ’puber kedua’. Namun seiring perkembangan jaman, saat ini perselingkuhan sudah begitu meluas bahkan juga melanda keluarga/pasangan muda. Yang dimaksud perselingkuhan adalah suatu hubungan antara individu baik pria maupun wanita yang sudah menikah ataupun yang belum menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya.

Perselingkuhan terjadi karena ada dua pihak yang saling tertarik. Awalnya mungkin hanya satu pihak saja yang merasa tertarik, tapi kemudian dia mengambil tindakan proaktif untuk mendekati pihak lain yang disukainya itu. Contoh, seorang suami tidak lagi merasa dipenuhi kebutuhannya oleh sang istri, lalu dia mencari dan mendapatkan apa yang dibutuhkannya dari wanita idaman lain (WIL), atau sebaliknya jika sang istri yang mencari dan mendapatkan apa yang dibutuhkannya dari pria idaman lain (PIL).

Perselingkuhan atau hubungan gelap di luar nikah merupakan salah satu krisis yang paling menghancurkan dalam pernikahan. Akibat adanya hubungan itu, maka impian, harapan, dan kepercayaan suami/istri yang dikhianati telah dihancurkan oleh pasangannya yang berselingkuh. Firman Tuhan jelas bahwa pernikahan adalah kovenan (perjanjian) antara suami-istri sebagai satu pasangan untuk seumur hidup di dunia. Tapi adanya ketidaksetiaan dalam komitmen pernikahan menjadi celah timbulnya perselingkuhan. Sekurang-kurangnya ada tiga hal atau tahapan yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan (perhatikan kisah Raja Daud dan Batsyeba dalam 2 Samuel 11:2-27):

a. Saling Ketertarikan
Awalnya ada ketertarikan spontan dari sisi fisik, menyukai wajah dan penampilannya atau ada sesuatu yang menarik dari orang tersebut, misal: cara bicaranya yang enak dan pas, caranya tertawa atau tersenyum, gaya berpakaian dan sebagainya. Jika tahap ketertarikan ini berlanjut (atau diteruskan) maka umumnya akan ditandai dengan keinginan untuk makin sering bertemu dan berbincang. Lalu mereka pun akan masuk dalam tahap berikutnya.

b. Saling Ketergantungan
Pada tahap ini, mulai ada sharing (isi hati dan perasaan) kepada PIL/WIL, sehingga pada waktu PIL/WIL tidak ada, akan timbul rasa kehilangan. Akibatnya orang yang berselingkuh merasa hidupnya tidak seimbang lagi tanpa adanya PIL/WIL. Semakin hari kebutuhannya akan kehadiran pasangan selingkuhnya semakin meningkat, sampai-sampai jika ada sesuatu yang mengganggunya maka PIL/WIL itulah yang akan dihubunginya terlebih dulu.

c. Saling Memenuhi
Di tahap selanjutnya ini, pasangan yang berselingkuh secara sadar mencoba untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain. Yang mereka lakukan dalam tahap ini bukan lagi hal yang spontan namun sudah terencana seperti: "Bagaimana saya bisa membahagiakan engkau?", "Bagaimana saya bisa selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu?", "Bagaimana saya bisa selalu bersamamu?" Secara sadar semua hal ini akan dilakukan, impian-impian terlarang yang direncanakan mulai diwujudkan dengan berbagai cara. Pada tahap ini, perselingkuhan sudah mencapai level dosa yang matang, ada tindakan yang dilakukan oleh pasangan yang berselingkuh agar bisa hidup bersama, seperti bercerai dari pasangan lama, atau bahkan pembunuhan seperti yang Raja Daud lakukan pada Uria (suami Batsyeba).

Ada seorang wanita berusia 38 tahun berkisah: Saya punya 3 anak dengan usia 10-14 tahun, karier mapan dengan jabatan yang lumayan dan seringkali tugas keluar kota bahkan keluar negeri. Walaupun sibuk namun saat tidak keluar kota, saya selalu berusaha pulang sebelum jam 7 malam. Hidup pernikahan kami awalnya baik-baik saja sampai setahun yang lalu, suami mulai sering terlambat pulang dengan alasan yang bermacam-macam.

Sebulan yang lalu, saya dikejutkan oleh telepon dari seorang wanita muda yang berkata bahwa dia adalah simpanan suami saya. Perasaan shock, marah, benci, dan dendam campur aduk dalam hati saya, apalagi saat saya konfirmasikan ke suami, dia membenarkannya (walaupun awalnya dia tidak langsung mengaku), dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.

Tapi setelah membongkar perselingkuhan suami, saya malah jadi sulit tidur, seperti ada rasa sesak dan panas di dada, juga perasaan berdebar-debar yang tidak bisa saya kontrol, saya merasa seperti mau mati saja. Saya ingin marah pada Tuhan dan pada siapa saja termasuk diri sendiri kenapa hal demikian bisa terjadi dalam kehidupan pernikahan saya?!


Apa yang harus dilakukan jika perselingkuhan sampai terjadi dalam pernikahan?
  1. Minta pada Tuhan Yesus untuk memperbaiki dan menyembuhkan pernikahan anda.
  2. Usahakan untuk tidak bersikap bermusuhan dengan pasangan. Jangan menyindir atau menghina pasangan, tapi lakukan introspeksi diri. Bukankah Tuhan Yesus mengajarkan agar kita melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
  3. Jika pasangan belum mau terbuka, jangan terlalu mendesaknya. Dengan sabar mintalah dia untuk terbuka pada anda.
  4. Jangan menganggap anda tahu perasaan atau pikiran pasangan anda.
  5. Jangan bertanya, "Mengapa engkau merasa demikian?", "Mengapa engkau melakukan hal itu?" Jika dipojokkan, orang mungkin akan mengarang-ngarang suatu jawaban.
  6. Mintalah pasangan untuk memberi tahu apa penilaiannya mengenai anda, dan jangan membela diri anda.
  7. Jangan menghakimi pasangan.
  8. Jika anda terlalu marah, sedih dan terluka, janganlah berbicara pada saat itu.
  9. Lakukan tindakan rekonsiliasi/pemulihan hubungan pernikahan anda dengan sikap keterbukaan, tidak membela diri, dan mau memaafkan.
Banyak perselingkuhan yang sebenarnya dapat dihindari dengan menyadari tanda-tanda peringatan dini akan adanya suatu hubungan gelap. Seperti kisah diatas, sang istri sebenarnya bisa menyadari karena setahun terakhir suaminya mulai sering pulang terlambat. Namun hal yang patut disayangkan adalah adanya ’over confidence’ dari pasangan orang percaya bahkan hamba-hamba Tuhan bahwa perselingkuhan tidak mungkin terjadi dalam kehidupan pernikahan mereka.

Ingatlah kembali kisah Raja Daud dan Batsyeba, betapapun Raja Daud begitu intim dan dekat dengan Tuhan, namun dia pun bisa jatuh ke dalam dosa perselingkuhan. Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap dosa, jadi senantiasalah berjaga-jaga. Untuk jenis dosa seksual, salah satu cara ampuh mengatasinya adalah dengan bertindak seperti yang Yusuf lakukan saat dirayu oleh isteri Potifar; sebelum jatuh dalam dosa, Yusuf melarikan diri. Demikian harusnya sikap suami/istri terhadap kemungkinan adanya dosa perselingkuhan (perzinahan) dalam pernikahan, jauhkan diri anda dari hal itu!

Tuhan memberkati...

Sunday, January 16, 2011

Tetap Percaya karena Bagi Tuhan Tak Ada yang Mustahil

Hari ini kita sudah berada di awal tahun 2011, di hari yang ke 16... di tahun ini Tuhan memberikan janji-Nya melalui Gembala Pembina: Tahun 2011 adalah Tahun Multiplikasi dan Promosi artinya tahun ini anak-anak Tuhan akan mengalami pelipatgandaan berkat dan ada promosi dari Tuhan. Amin!

Satu pertanyaan penting, apakah setelah kita aminkan janji itu lalu otomatis janji itu akan terjadi dalam hidup kita? Tentu tidak demikian...

Lalu bagaimana caranya agar janji Tuhan (mujizat-Nya) bisa tergenapi dalam hidup kita? Penggenapan janji Tuhan dalam hidup kita tergantung pula dari sikap/respon kita atas hal itu!

Perhatikan kisah dan sikap Abraham berikut ini:
  1. Kejadian 15:1-6, saat Tuhan berjanji dan kita percaya, Tuhan memperhitungkannya sebagai kebenaran (ayat 6); jadi sikap pertama adalah percaya. Saat itu usia Abram sekitar 76 tahun.
  2. Kejadian 17:1-2, Tuhan menegaskan kembali janji-Nya pada Abram, janji yang sama, di saat usia Abram 99 tahun, jadi sudah ada rentang waktu selama 23 tahun dimana Abram menanti penggenapan janji Tuhan dengan setia. Sikap kedua yang harus dimiliki jika ingin melihat penggenapan janji Tuhan adalah sabar.
  3. Kejadian 17:4-6, 9-11, setiap perjanjian pasti ada 2 pihak yang terlibat... demikian pula halnya janji Tuhan juga melibatkan 2 pihak yaitu Tuhan dan kita, ada bagian yang Tuhan kerjakan dan ada bagian yang harus kita kerjakan agar janji itu bisa tergenapi; sikap yang ketiga: kerjakan apa yang jadi bagian kita. Dalam ayat 26-27 Abraham taat menjalankan apa yang menjadi bagiannya, disunat pada usia 99 tahun...
Yang Tuhan janjikan bagi Abraham (Kejadian 15:3-5) ada 2 hal:
  • Abraham akan mempunyai anak kandung,
  • Keturunan Abraham akan sebanyak bintang di langit.
Janji itu dipertegas lagi oleh Tuhan dalam Kejadian 17,
  • ayat 6: Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja -raja.
  • ayat 19: ...isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
Pada Kejadian 21:1-2 & 5, akhirnya anak yang dijanjikan Tuhan (Ishak) lahir bagi Abraham tepat di usianya yang 100 tahun.

Lalu apakah janji Tuhan sudah selesai digenapi? Belum, karena dari dua hal yang Tuhan janjikan baru satu yang digenapi-Nya. Lalu dalam Kejadian 22:1-2, Tuhan minta agar Abraham mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran di gunung Moria, padahal hanya melalui Ishak-lah perjanjian itu kekal selamanya (Kejadian 17:19) suatu ironi bukan?

Mungkin dalam hidup kita mengalami sesuatu yang dijanjikan oleh Tuhan tapi kemudian yang terjadi seolah-olah malah hal yang sebaliknya atau perkembangan yang kelihatan tidak sesuai dengan hal yang dijanjikan-Nya atau justru saat penggenapan janji itu sudah ada di depan mata kemudian seolah buyar/tertunda...

Inilah momen yang penting dalam penggenapan janji-Nya, Tuhan memakai hal ini untuk melihat/menguji apakah kita memiliki sikap yang keempat:

4. Tetap percaya pada janji Tuhan, apapun yang terjadi!

Jika kita yang menjadi Abraham, apakah yang ada dalam hati & pikiran kita dan apakah kita tetap percaya pada janji-Nya saat Dia minta Ishak dikorbankan? Di satu sisi Tuhan menjanjikan sesuatu pada Abraham tapi di sisi lain seolah-olah Tuhan malah melakukan hal yang sebaliknya...

Tapi perhatikan apa tindakan Abraham dalam Kejadian 22:3-10:
  1. Abraham menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk mempersembahkan anaknya,
  2. Abraham tetap percaya pada Tuhan (walaupun Tuhan meminta Ishak dikorbankan tapi Abraham tetap percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan apa saja untuk tetap memenuhi janji-Nya menjadikan keturunan Abraham sebanyak bintang di langit karena BAGI TUHAN TAK ADA YANG MUSTAHIL!).
Seperti tertulis pada Ibrani 11:17-19 demikianlah iman Abraham pada Tuhan saat diminta mempersembahkan Ishak anaknya.

Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu

Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu

Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya

Karena Abraham tidak ragu sedikitpun, maka Tuhan pun berfirman di ayat 12: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Dan Tuhan menggantikannya dengan menyediakan seekor domba jantan.

Sekarang ini kita pun dapat melihat bahwa janji-Nya yang kedua pada Abraham sudah terpenuhi... keturunan Abraham, Bapa orang beriman, sungguh sebanyak bintang di langit. Terpujilah Tuhan! Apapun yang dijanjikan-Nya pasti digenapi.

Lukas 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Tetap percaya pada janji-Nya apapun yang terjadi...

Saat ku tak melihat jalan-Mu
Saat ku tak mengerti rencana-Mu
Namun tetap kupegang janji-Mu
Pengharapanku hanya pada-Mu...

Hatiku percaya, hatiku percaya
Hatiku percaya, selalu kupercaya...