Sunday, August 21, 2011

Tetap Kuat & Andalkan Tuhan

Tahun 2011 adalah tahun multiplikasi dan promosi. Janji Tuhan pastinya tentang sesuatu yang baik, yang membawa keadaan lebih baik; multiplikasi & promosi itu bicara tentang berkat, bukan kutuk. Di dalam Alkitab ada banyak janji-janji Tuhan lainnya, misalkan di Ulangan 11:13-15, Mazmur 1:1-3, Matius 6:25, 31-33 dan masih banyak lagi.

Yang perlu diperhatikan adalah setiap janji Tuhan selalu juga disertai dengan adanya perintah/ketetapan-Nya yang harus dilakukan sebelum janji itu dapat kita raih. Jadi untuk bisa meraih janji Tuhan, ada bagian yang harus kita kerjakan/responi.

Tahun 2011 selain tahun multiplikasi dan promosi, juga merupakan tahun transisi, tahun goncangan dan tekanan besar, ini mungkin jarang disampaikan... karena orang biasanya lebih suka membicarakan berkat daripada kutuk.

Yang namanya transisi itu = perubahan, bisa menuju ke arah yang lebih baik, bisa pula ke arah yang lebih buruk... perubahan itu tergantung dari respon kita pada janji Tuhan. Kalau respon kita benar maka pastinya hidup kita akan mengarah ke suatu hal yang lebih baik, terima berkat bukan kutuk.

Apa respon yang benar agar janji Tuhan bisa kita raih?

1. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu!

Sebelum Yosua menyeberangi sungai Yordan dan memulai penaklukan (meraih) tanah perjanjian, Yosua mendapatkan pesan yang sangat penting ini hingga diulang sampai 4x yaitu di Yosua 1:6, 7, 9, dan 18.

Bagaimana caranya supaya hati kita kuat dan teguh? Dalam Ulangan 11:8 disampaikan: kamu harus berpegang pada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negeri, ke mana kamu pergi mendudukinya.

Supaya kuat, yang harus kita lakukan adalah berpegang pada seluruh perintah TUHAN! Perintah Tuhan = Firman Tuhan, Alkitab. Kita harus berpegang pada isi Alkitab, bukan pegang Alkitabnya tapi pegang isinya yaitu Firman-Nya.

Kuat dan teguh hati juga bisa diartikan iman yang kuat, iman yang kuat bisa diperoleh bukan cuma dengan minta pada Tuhan, tapi seperti tertulis di Roma 10:17: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Iman dibentuk melalui membaca Firman Tuhan, semakin banyak mendengar Firman Tuhan maka iman kita akan semakin kuat.

Yosua 1:8 menuliskan: Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Tidak cukup hanya membaca saja tapi juga melakukannya... agar melalui pengalaman-pengalaman rohani yang ada kita jadi makin kuat lagi.

Yohanes 1:1 Firman itu adalah Allah.
Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, sebagai Anak Tunggal Bapa.

Berpegang pada Firman Tuhan sama dengan berpegang pada Tuhan Yesus, jika kita+Yesus siapakah yang bisa mengalahkannya? Masalahnya, banyak orang kristen hanya dengar Firman pas ke gereja saja, selebihnya lebih banyak dengar berita dunia...bagaimana bisa punya iman/hati yang kuat.

Biarlah mulai saat ini kita mengerti dan mulai rajin membaca Firman Tuhan serta melakukannya agar kita jadi kuat, KUAT bersama TUHAN.

2. Janganlah pergi ke mesir!

Apapun keadaan hidup kita saat ini sebagai orang yang sudah percaya, janganlah pergi ke mesir! Mungkin saat ini keadaan kita sedang tidak baik, sedangkan di mesir kelihatannya baik, kelihatannya ada berkat disana. Tapi Tuhan katakan jangan pergi ke mesir.

Mesir bicara mengenai cara-cara dunia, cara manusia bukan cara Tuhan, cara hidup yang lama; apapun keadaan kita saat ini walaupun janji Tuhan belum juga diraih, jangan khawatir, jangan putus asa, jangan berpikir atau malah hidup dengan memakai cara-cara dunia (seperti ke dukun, menipu, dan sebagainya). Jangan ke mesir berarti jangan mengandalkan dunia/manusia.

Yeremia 26:20-24 menceritakan tentang nabi bernama Uria bin Semaya, dimana ia bernubuat sama seperti nabi Yeremia yaitu tentang peringatan malapetaka dari Tuhan atas kota dan negeri Israel. Keduanya mau dibunuh oleh pemimpin-pemimpin Israel. Namun Yeremia bisa lolos dari maut, sedangkan Uria akhirnya mati terbunuh karena ia lari ke Mesir.

Yeremia 42:15-19 ini berbicara tentang peringatan Tuhan untuk orang Israel, agar mereka jangan pergi (kabur) ke mesir walaupun sedang ada masalah. Malahan Tuhan berkata jika mereka tetap di negerinya... mereka akan diberkati (ayat 10-12).

Yeremia 17:5-8, andalkan Tuhan, berpeganglah pada Tuhan, jangan ke mesir, jangan andalkan dunia. Walaupun keadaan seolah mustahil, tetap kuat dan andalkan Tuhan, karena bagi Tuhan tak ada yang mustahil! Jika Tuhan berjanji pasti akan digenapi, asalkan respon kita benar maka janji-Nya pasti akan kita raih.

Tuhan memberkati!

Monday, July 11, 2011

Tetap Percaya

Hari ini kita sudah melewati pertengahan tahun 2011, di tahun ini Tuhan telah memberikan janji-Nya bahwa Tahun 2011 adalah Tahun Multiplikasi dan Promosi. Selain janji korporat itu tentunya juga ada janji Tuhan untuk pribadi demi pribadi. Satu pertanyaan penting, bagaimana respon kita jika janji itu tak kunjung terwujud dalam hidup kita?

Ada janji Tuhan yang cepat digenapi, tapi ada pula yang butuh proses (lama). Akibatnya sebagai anak Tuhan kita seringkali KHAWATIR akan hidup kita. Apa yang dimaksud dengan khawatir?
Khawatir = takut, cemas; khawatir muncul sebagai respon negatif atas hal-hal yang ditakutkan terjadi dalam hidupnya (belum terjadi tapi sudah timbul ketakutan/kecemasan).

Contohnya, seorang ibu hamil khawatir bagaimana caranya dia harus menghidupi keluarganya saat anaknya lahir nanti, sedangkan sang suami masih belum jelas penghasilannya.

Di jaman sekarang dimana harga barang dan biaya-biaya naik terus, tentunya kelihatan wajar jika ibu hamil itu dan banyak orang lainnya yang khawatir akan keadaan hidup bahkan tidak sedikit yang kemudian jadi stress. Namun sebagai anak Tuhan, kita tidak diijinkan untuk terus khawatir...kenapa? karena sikap khawatir itu bertolak belakang dengan sikap percaya.

Apakah anak Tuhan bisa khawatir? Ya, kan masih manusia... Apakah boleh khawatir? Tidak. So, sebagai manusia... wajar jika saat sedang ada masalah, lalu timbul kekhawatiran, tapi kita tidak boleh terus khawatir. Kita harus pindah dari zona khawatir & masuk dalam zona iman!

Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Artinya, IMAN = percaya walau belum melihat. Beda 180 derajat dengan khawatir yang artinya takut padahal belum melihat/belum jadi kenyataan.

Sikap percaya bagaimana yang seharusnya kita miliki?

Perhatikan kisah tentang Lazarus di Yohanes 11:1-45, dimana Lazarus sakit, kemudian mati dan sudah mati 4 hari lamanya, namun Tuhan Yesus sejak awal telah berjanji bahwa Lazarus tidak akan mati bahkan dia akan bangkit, percayakah mereka akan hal yang mustahil itu? Orang yang sudah mati 4 hari tentunya sudah mencair dan membusuk, bagaimana mungkin bisa hidup lagi. Ayat 45 jelas mencatat bahwa kebanyakan orang baru percaya setelah melihat.

Yang Tuhan mau bukanlah sikap percaya seperti itu, yang Dia mau adalah iman percaya, mari kita lihat kisah tentang Abraham di Kejadian 15-21, dimana Abraham pertama kali dijanjikan Tuhan akan punya keturunan saat usia Abram 76 tahun, kemudian janji itu diteguhkan lagi saat usia Abraham 99 tahun (keturunan dari Sara bukan wanita lain), dan baru pada saat usia Abraham 100 tahun lah Ishak anak yang dijanjikan-Nya itu lahir. Dan Ibrani 11:11 mencatat: Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

Roma 4:19-22 mencatat bahwa saat dalam penantian penggenapan janji Tuhan, iman Abraham tidak menjadi lemah walaupun tubuhnya sudah lemah dan istrinya menopause (kondisi yang mustahil untuk bisa punya keturunan). Abraham tidak bimbang, ia tetap percaya pada janji Tuhan, karena bagi Tuhan tak ada yang mustahil!

Inilah yang disebut iman, walau belum melihat namun percaya, karena itulah Abraham disebut bapa orang beriman, dia tetap percaya pada Tuhan walaupun tidak ada dasar untuk percaya.

Jadi janganlah khawatir walaupun keadaan kelihatan mustahil... namun tetap percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang setia, dan Dia akan menggenapi setiap janji-Nya, karena bagi Tuhan tak ada yang mustahil.

Saat ku tak melihat jalan-Mu
Saat ku tak mengerti rencana-Mu
Namun tetap kupegang janji-Mu
Pengharapanku hanya pada-Mu...

Hatiku percaya, hatiku percaya
Hatiku percaya, selalu kupercaya...


Tuhan memberkati

Thursday, July 7, 2011

Sekilas Tentang CEKER

Beberapa program pelatihan yang ditujukan untuk mengentaskan kemiskinan telah dilakukan secara intensif, ternyata persentase keberhasilannya sangat kecil. Salah satu sebab karena orang yang ikut program tersebut membutuhkan waktu agar bisa menjadi terampil, sedangkan kebutuhan hidupnya sudah sangat mendesak (tidak bisa menunggu waktu). Oleh sebab itulah program pelatihan seringkali menjadi kurang efektif. Untuk mengatasi kendala tersebut maka saat ini disiapkanlah program baru oleh UKMJ BPD GBI DKI Jakarta untuk mengentaskan kemiskinan dengan nama: CEKER.

Apa itu CEKER?

CEKER adalah singkatan dari CREDIT KERAKYATAN, suatu program yang diibaratkan TANGGA, yang disediakan untuk membantu kaum pra sejahtera agar bisa keluar dari kemiskinan! Tangga CEKER inilah yang harus mereka panjat dengan usaha sendiri, agar mereka bisa terus naik dan akhirnya keluar dari garis kemiskinan.

Di dalam CEKER ada beberapa sub program yang bisa dipilih sesuai kebutuhan peserta seperti SIPIN, KADO atau KRING. Keunggulan yang terutama dalam CEKER yaitu adanya pelaksanaan PWK (Pendidikan Wajib Kelompok) yang wajib diikuti oleh semua peserta SIPIN (dimana kehadiran mereka sangat diperhatikan) sebelum mereka mendapatkan bantuan keuangan dari CEKER.

Kenapa PWK diadakan?

Tujuannya untuk menguji niat setiap peserta dan memperlengkapi hati & pikiran serta karakter mereka sehingga mereka siap dan mantap menapaki tangga CEKER sampai akhirnya mereka berhasil BEBAS dari KEMISKINAN.

Tuhan memberkati

Friday, June 3, 2011

Kasih Sebagai Dasar Pernikahan

Saat ditanyakan: Kenapa kamu ingin menikah dengan dia? umumnya pasangan yang akan menikah menjawab: karena ’saya merasa cocok/sreg dengan dia’, ’saya yakin bahwa dia adalah pasangan hidup saya’, ’saya mencintainya’, ’saya ingin membahagiakannya’, dan sebagainya; tapi tidak banyak yang mengatakan...karena ’saya mengasihinya dan bisa menerima dia apa adanya’.

Padahal kasih merupakan dasar utama bagi pasangan untuk melangkah ke pernikahan, bukan cinta atau kecocokan semata. Firman Tuhan dalam Roma 5:8 mengajarkan bahwa, Tuhan terlebih dulu menunjukkan kasih-Nya pada kita, yaitu dengan mati di kayu salib, pada saat kita masih berdosa. Kasih tanpa syarat seperti yang Tuhan Yesus tunjukkan itulah yang seharusnya menjadi dasar/pondasi bagi pernikahan kita. Jika demikian halnya maka persoalan boleh ada namun rumah tangga akan tetap kuat, seperti ada tertulis, segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).

Menikah artinya menjadi satu daging dengan pasangan, nah apakah anda mau menyakiti tubuh anda sendiri? Tentu saja tidak! Sebagai pasangan orang percaya, satu sama lain harus bisa mengasihi pasangannya seperti Tuhan telah mengasihinya. Artinya, bisa menerima dan mengasihi pasangan apa adanya, walaupun ada hal-hal yang belum diketahui sebelum atau sesudah menikah.

Setiap orang tentu punya kekurangan, misalkan calon pasangan anda, seorang yang temperamen atau galak, sebelum menikah sebaiknya dipikirkan masak-masak, apakah anda sungguh mengasihinya dan bisa menerimanya apa adanya, dengan segala konsekuensinya? Jangan berpikir untuk mengubahnya, namun terima apa adanya jika memang anda mengasihinya, caranya tentu dengan lebih sabar menghadapinya, menasehati (bukan menggurui) dan berdoa untuk perubahan karakternya. Lalu bagaimana jika baru ketauan galak setelah menikah? Jika pernikahan didasari oleh kasih, tentunya sikap anda tidak jauh berbeda, tidak perlu merasa digombali tapi tetaplah mengasihinya dan berdoa untuknya sampai perubahan terjadi.

Dengan kasih yang tanpa syarat, kita bisa hidup bersama pasangan dalam segala kondisi, baik saat dia menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Apakah itu sesuatu yang mudah atau sulit dilakukan? Jawabannya, tergantung pada diri kita sendiri...sudahkah ’kasih tanpa syarat’ itu ada dalam hidup kita sendiri.

Sebagai seorang dokter muda yang baru selesai pendidikan, saya wajib menjalani tugas pengabdian di Puskesmas selama 3 tahun. Maka saya pun ditempatkan di suatu Puskesmas yang jauh jaraknya dari kota asal saya, yang membutuhkan waktu lebih dari 8 jam perjalanan kesana.

Ternyata Tuhan punya rencana indah, karena disanalah saya bertemu dengan calon istri. Pertemuan tersebut diawali dengan sebuah undangan persekutuan doa di rumahnya. Saat itu dia terpaksa pulang ke kampung halamannya dan meninggalkan kuliahnya di Jakarta, karena mengalami gangguan fungsi ginjal yang sangat serius, dimana kedua ginjalnya dipenuhi batu, sehingga fungsi ginjalnya hanya tersisa 10% saja.

Awalnya tidak pernah terbersit dalam pikiran saya bahwa ia akan menjadi jodoh saya. Namun setelah beberapa kali bertemu, bibit cinta mulai bersemi di hati kami berdua, dan kami mulai berpacaran. Sebagai manusia dan dokter, rasanya ’kurang rasional’ jika saya berpacaran dengan seorang yang punya masalah kesehatan yang cukup serius, bahkan pihak keluarga pun sempat mempertanyakan pilihan saya tersebut. Pergumulan timbul dalam hati saya, namun saya kembali dikuatkan dan percaya Tuhan pasti punya rencana indah buat kami.

Hubungan kami pun terus berlanjut dengan serius, dan walaupun saya mengetahui latar belakang kesehatan calon istri namun hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk menikahinya pada tahun 1997. Di tahun 1998, tugas saya di Puskesmas tersebut selesai dan kami memutuskan untuk pindah ke Jakarta karena saya bercita-cita untuk mengambil spesialisasi.

Ternyata kami harus menghadapi kenyataan pahit karena istri saya terkena infeksi ginjal serius yang hampir merenggut nyawanya. Bahkan ia divonis menjalani cuci darah untuk seterusnya karena kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Saat itu saya sempat putus asa dan tak berdaya, karena cuci darah membutuhkan biaya yang tidak kecil dan harus dijalani seumur hidup. Namun dengan iman dan kasih dari Tuhan, kami terus melangkah bersama dan berharap hanya kepada-Nya.

Sungguh rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera untuk mendatangkan hari depan yang penuh harapan. Tuhan menyertai dan memberkati pernikahan kami secara luar biasa, meskipun saya harus meninggalkan niat menjadi dokter spesialis, tetapi Dia tetap memberkati kami secara luar biasa. Saat ini di tahun 2011, tak terasa cangkok ginjalnya sudah melewati tahun yang ke delapan.

Pernah istri bertanya kepada saya, apakah saya mencintainya? Saya selalu menjawab bahwa saya mengasihinya. Itulah dasar dari komitmen saya kepadanya. Cinta manusia bisa luntur karena waktu atau konflik rumah tangga, namun Kasih itu tidak berkesudahan. Terpujilah Tuhan buat segala kebaikan-Nya kepada kami berdua. Haleluya.

Sebagai orang percaya, jika kita memiliki sikap/respon yang benar, menempatkan Tuhan diatas segalanya maka percayalah Dia pasti akan membela hidup dan rumah tangga kita, karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.

Tuhan memberkati!

Sunday, May 8, 2011

Tindakan (Respon) orang percaya dalam keuangan

Tuhan pasti memberikan janji berkat-Nya bagi anak-anak Tuhan, tapi sayangnya tidak semua anak Tuhan bisa meraih janji Tuhan, hanya mereka yang beriman yang bisa meraihnya. Perhatikan kata IMAN ini.

Iman yang dimaksud dalam Alkitab berhubungan dengan PERCAYA, dalam Alkitab sering muncul kata iman dan percaya, kata iman dalam PB diterjemahkan dari kata Yunani: pistis, sedangkan kata percaya diterjemahkan dari kata Yunani: pisteuoo. Kata 'percaya' adalah bentuk kata kerja dari kata 'iman'. Artinya, seorang dikatakan punya iman jika dia juga percaya, iman ada di dalam hati... percaya ada dalam tindakan/respon. Jadi wujud iman adalah tindakan percaya!

Kita lihat dalam Matius 19:16-22, kisah mengenai orang muda yang kaya.
Ayat 20: orang muda ini berkata semua perintah Tuhan (Taurat) sudah dia lakukan, apa masih ada yang kurang?
Ayat 21: Yesus menjawab: jika mau sempurna, juallah hartamu dan ikutlah Aku.
Ayat 22: respon orang muda itu adalah pergi meninggalkan Yesus (sebab hartanya banyak).

Matius 6:21 mencatat: Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Dalam kisah orang muda ini, yang dimaksud 'harta'nya adalah harta secara nyata/fisik yaitu uang, barang berharga, dan lainnya. Namun sebenarnya masih banyak 'harta-harta' dalam bentuk lainnya, contoh: harga diri, kesombongan, status, dan sebagainya...bahkan tingkat kerohanian. Sedangkan kalimat: 'hatimu berada' bisa diartikan sebagai imanmu, karena iman ada dalam hati.

Firman Tuhan menyatakan dalam 1 Timotius 6:10a, Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Bahkan salah satu ujian di jaman Antikis nanti, juga soal uang (dimana hanya dengan tanda 666 orang bisa berjualan/membeli = punya uang).

Bagaimana caranya agar kita bisa menang dari cinta uang?
Ya...seperti yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Matius 19:21 ...juallah hartamu dan ikutlah Aku. Apa maksudnya kita harus jual harta kita? Pengertiannya adalah kita tidak lagi terikat pada harta tersebut.

Perhatikan kisah lainnya tentang orang kaya di Lukas 19:2, 5-10, kisah tentang Zakheus.
Ayat 2: Zakheus seorang pemungut cukai (petugas pajak) dan kaya.
Ayat 5: Yesus mampir ke rumah Zakheus.
Ayat 8: respon Zakheus adalah memberi hartanya bagi orang miskin dan mengembalikan uang pada orang yang diperasnya.
Ayat 9: respon Tuhan bagi Zakheus, keselamatan bagi Zakheus dan seisi rumahnya.

Perhatikan... Saat respon kita benar maka Tuhan akan meresponi kita juga !

Jadi respon apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya dalam hal keuangan?
Maleakhi 3:8-11
1. mengembalikan persepuluhan ke rumah perbendaharaan.
2. memberikan persembahan khusus.

Dalam KJV, Persepuluhan: tithes (one-tenth part), Rumah perbendaharaan: storehouse, Persembahan khusus: offering.

Storehouse: lumbung/tempat penyimpanan, bicara lumbung bisa ada dua arti:
a. tempat menyimpan/mendapatkan makanan
b. tempat menyimpan/mendapatkan benih

Ini menggambarkan rumah Tuhan/gereja tempat dimana kita mendapat makanan rohani dan bertumbuh, jadi bayarlah persepuluhan di gereja tempat kita berjemaat. Sekaligus pula hal ini juga menggambarkan bahwa tindakan persepuluhan ibarat seperti orang menabur (benih) dimana suatu saat pasti akan menuai jika tidak jemu-jemu (tidak berhenti) melakukannya.

Offering, artinya:
- a collection of donation,
- a religious sacrifice, a gift/present in worship.

Persembahan khusus bisa berarti kolekte atau sumbangan seperti diakonia atau pada acara ibadah khusus lainnya, namun bisa pula berupa pengorbanan hidup kita seperti menyalibkan daging, pujian-penyembahan... segala sesuatu yang kita lakukan untuk menyenangkan Tuhan.

Saat kita menghadiri Ibadah Raya setiap minggu, sebenarnya kita juga membawa offering (persembahan khusus) untuk Tuhan melalui pujian-penyembahan kita, kolekte kita, apapun yang kita lakukan dalam Ibadah Raya tersebut...masalahnya banyak orang percaya yang tidak mengerti akan hal itu, Ibadah Raya dianggapnya hanya sebagai liturgi belaka...sehingga pujian-penyembahan pun dilakukan seperti lip sync, begitu pula kolekte seringkali dianggap sebagai kewajiban... akhirnya apa yang dilakukan bukan lagi dari hati namun karena kebiasaan. Padahal yang Tuhan mau adalah persembahan yang tulus dari hati kita.

Lalu kenapa Tuhan menyuruh kita untuk melakukan persepuluhan dan persembahan khusus?

Alkisah... ada seorang petani yang menyuruh anak-anaknya bekerja di ladang jagung, sementara anak-anak lain sedang bermain-main.
Seorang laki-laki lalu menegur petani itu dan bertanya,
"Mengapa Anda membuat anak-anakmu bekerja keras di ladang jagung? Bukankah Anda tidak perlu semua jagung itu."
Petani itu menjawab: "Pak, saya bukan sedang membesarkan jagung, saya sedang membesarkan anak-anak saya."

Bagi Tuhan, respon/tindakan persepuluhan & persembahan khusus adalah masalah ketaatan dan iman-percaya; Tuhan tidak butuh uang kita... yang Dia mau melalui aturan persepuluhan ini adalah mengajar kita untuk sepenuhnya percaya kepada Dia (khususnya dalam hal keuangan).

Kalau kita percaya bagi Tuhan tak ada yang mustahil, dan Dia sanggup menolong kita dalam hal apapun, maka bertindaklah percaya dengan mengembalikan persepuluhan walaupun kelihatannya hal itu mustahil bagi kita (mungkin jika mengembalikan persepuluhan apalagi ditambah persembahan khusus maka uang kita jadi tidak cukup dalam perhitungan kita, tapi bukankah iman berarti percaya sebelum melihat?). Ini adalah masalah ketaatan dan iman-percaya... Pilihan ada pada diri kita sendiri, mau jadi seperti orang muda yang kaya atau seperti Zakheus.

Jika kita mengembalikan persepuluhan berarti kita menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita.

Tuhan memberkati.

Sunday, April 24, 2011

Dosa Seksual

Kita baru saja memperingati karya penebusan Tuhan Yesus di kayu salib. Dia mati dan bangkit dari maut...demi menebus dosa-dosa kita, manusia. Tapi kenapa manusia cenderung untuk berdosa? Selain adanya ikatan dosa waris, yang namanya dosa itu juga dikemas oleh iblis secara menarik & dibuat kelihatan enak.

Perhatikan II Samuel 11:1-5, yang mengisahkan tentang Daud & Batsyeba: Pada saat orang Israel berperang, Daud tinggal di Yerusalem (di istananya). Dia bersantai dan berjalan-jalan di atas sotoh, lalu tanpa sengaja dia melihat wanita yang sedang mandi. Namun Daud malah mengamatinya dan tertarik pada kecantikan wanita itu, lalu Daud mengambilnya dan berzinah dengan wanita itu (Batsyeba) sampai akhirnya hamil!

Bukankah kejadian yang sama juga terjadi pada kehidupan sekarang ini? Misalnya:
  • Seorang suami (yang tentunya punya istri) kemudian bertemu dengan WIL atau TTM lalu selingkuh sampai akhirnya pasangan selingkuhnya itu hamil.
  • Atau pasangan anak muda yang sedang pacaran lalu bertindak diluar batas, hingga melakukan hubungan suami-istri...dan akibatnya si wanita pun hamil.
Kenapa kisah Daud & Batsyeba menarik untuk diperhatikan?
Karena Daud itu sesungguhnya seorang yang berkenan di mata Tuhan (lihat ayat sebelumnya di II Samuel 7:4-29) Tuhan memberkati Daud & keluarganya, bahkan di II Samuel 7:15 Tuhan berjanji pada Daud bahwa: kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya.

Lalu apa sebabnya Daud (atau anak Tuhan) bisa jatuh dalam dosa seksual? Kembali ke II Samuel 11:
  1. Ayat 1-2: saat Israel sedang berperang, Daud malah bersantai; kalau di jaman sekarang sama artinya kita sebagai orang Kristen dimana seharusnya berdoa, memuji menyembah Tuhan, membangun hubungan dengan Tuhan, saat teduh…tapi malah lebih memilih untuk santai, tidur, nonton tv, dll.
    Sebab ke-1: santai rohani, tidak berjaga-jaga/tidak waspada (= BUKA CELAH DOSA).
  2. Ayat 2: ...berjalan-jalan diatas sotoh istana, melihat perempuan mandi dan perempuan itu sangat elok rupanya; sotoh itu adalah atap rumah di jaman itu yang bentuknya datar (seperti atap beton ruko jaman sekarang), jadi sotoh itu posisinya ada diatas, di ketinggian, ini bisa diartikan kita sebagai anak Tuhan yang seharusnya memikirkan hal-hal yang ada diatas (surga), tapi malah tergoda pada daya tarik dunia (kenikmatan/keindahan jasmani yang ditawarkan dunia ini).
    Sebab ke-2: tergoda oleh daya tarik dunia (DOSA MERASUK dalam HATI-PIKIRAN).

    Matius 15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.
  3. Ayat 4: Daud menyuruh orang mengambilnya, dan tidur dengannya; hal ini menggambarkan finalisasi suatu tindakan dosa…jika sebelumnya diawali dengan adanya celah, lalu dilanjutkan dengan ketertarikan/tergoda, sekarang malah diwujudkanlah kehendak dosa itu.Sebab ke-3: kalah pada keinginan daging/dosa (PERBUATAN DOSA).

Jadi sebelum suatu tindakan dosa terwujud, sebenarnya ada beberapa tahapan yang terjadi, tapi kuncinya dosa itu terjadi/tidak tergantung pula pada keputusan kita sendiri, Tuhan pasti memberikan peringatan-peringatan sebelum suatu dosa dilakukan, tapi Tuhan juga memberi kita ’freewill’ untuk memilih: Apakah kita mau menang atau kalah pada kehendak daging/dosa itu?

Apa saja akibat dosa seksual?
  1. Akibat fisik: II Samuel 11:5... Buah dosa seksual a.l: hamil diluar nikah...dan kemungkinan jatuh dalam dosa yang lebih dalam lagi, seperti: pembunuhan. Dalam kasus Daud, dia membunuh Uria, suami Batsyeba (ayat 14-17), kalau jaman sekarang yang dibunuh umumnya: janin bayi tersebut, melalui aborsi.
  2. Akibat non-fisik: I Korintus 6:16-18...menjadi satu tubuh, artinya secara daging, jiwa & roh menjadi satu dengan pasangan zinahnya, akibatnya bukan hanya daging yang tercemar tapi juga jiwa & rohnya. Orang yang berzinah akan mengalami kerusakan gambar diri dan berusaha memenuhi citra dirinya melalui perzinahan2 lainnya yang justru malah membuat jati dirinya makin rusak... Dan seperti narkoba, dosa seks membuat orang makin kecanduan & hancur!
  3. Akibat kekal: Galatia 5:19-21 ...semua dosa, termasuk percabulan tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah-sorga (ayat 21).

Bagaimana cara mengatasi dosa seksual?
Tentunya selain minta perlindungan Tuhan, ada juga bagian yang harus kita kerjakan...
  1. Kejadian 39:6-12, Yusuf dirayu, dibujuk oleh tante Potifar, sebagai istri seorang pejabat penting (kepala pengawal raja) tentu tante Potifar seorang wanita yang menarik, cantik dan terpelihara. Tapi Yusuf tidak tergoda oleh daya tarik tante Potifar...perhatikan jurus yang dipakai Yusuf untuk menghadapi kemungkinan dosa seksual, ayat 12: Yusuf lari keluar!
    Cara ke-1: LARI dari DOSA (JANGAN BUKA CELAH).
  2. Jika orang yang intim dengan Tuhan seperti Daud saja bisa jatuh dalam dosa seksual apalagi yang tidak/kurang intim dengan Tuhan, jadi janganlah kita buka celah dosa sekecil apapun.

  3. II Samuel 12:1-13, ayat 13: Daud mengakui bahwa dia berdosa pada TUHAN, dia tidak beralasan atau kabur dari Tuhan, tapi di ayat 16: dia malah berdoa & berpuasa pada Tuhan agar meluputkan akibat dosa dari keluarganya.
    Cara ke-2: AKUI DOSA di hadapan Tuhan & BERTOBAT.

Sebagai penutup, perhatikan kehidupan Daud, selama sisa hidupnya Daud tidak pernah lagi mengulangi dosa ini, dia sungguh-sungguh bertobat. Daud dikenal sebagai seorang yang melakukan kehendak Tuhan pada jamannya (Kisah 13:36 a), bahkan silsilah kelahiran Tuhan Yesus ke dunia pun melalui keturunan dari raja Daud ini, sehingga Tuhan Yesus juga sering disebut sebagai: Anak Daud (Matius 15:22, 20:30).

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita melakukan kehendak Tuhan pada jaman kita?

Tuhan memberkati...